Waktunya Dinar Mendorong Investasi Sektor Riil Yang Adil…
- Details
- Category: Entrepreneurship
- Hits: 10027

Banyak orang beranggapan bahwa Dinar atau emas adalah bukan alat investasi; alasannya adalah membeli Dinar atau emas tidak membuat Dinar atau emas tersebut bisa tumbuh atau bertambah dengan sendirinya.
Pendapat ini benar adanya bila sudut pandang atau satuan (unit of account) yang kita pakai adalah Dinar atau emas itu sendiri. Kalau saya membeli 1 Dinar dan saya simpan saja - Dinar ini tetap satu Dinar sampai kapan-pun, maka dengan hitungan Dinar - dia bukan investasi.
Sebaliknya bila satuan yang kita pakai adalah Rupiah atau mata uang kertas lainnya; 1 Dinar yang saya beli akhir 2006 harganya hanya Rp 750,000,- ; sekarang harganya telah mencapai Rp 1,5 juta. Maka dengan satuan Rupiah, bagaimana mungkin nilai yang tumbuh seratus persen dalam 3 tahun tersebut tidak bisa dikatakan sebagai investasi ?. Lha wong deposito yang tumbuh seperlimanya dari Dinar ini saja dalam tiga tahun terakhir sudah bisa dikatakan sebagai instrumen investasi kok ?.
Meskipun dengan satuan Rupiah kenaikan nilai Dinar begitu tinggi dalam beberapa tahun terakhir ; bukan ini tujuan utama pengadaan Dinar di masyarakat. Dinar bukan hanya untuk disimpan, tetapi Dinar harus dapat menggerakkan sektor riil yang sesungguhnya. Bagaimana hal ini bisa terjadi ?, perhatikan grafik diatas untuk solusinya.
Bila Anda ingin memodali saudara Anda untuk usaha dalam waktu yang lama, dapatkah Anda lakukan dengan Adil menggunakan uang kertas Rupiah misalnya ?.
Pelajaran Dari Krisis Dubai & Century…
- Details
- Category: Entrepreneurship
- Hits: 6729

Akhir pekan lalu bersamaan dengan umat Islam di seluruh dunia merayakan Iedhul Adha dan masyarakat Amerika merayakan Thanksgiving Day – masyarakat financial diresahkan oleh kabar Technical Default-nya Dubai World semacam BUMN-nya Dubai.
Mengapa kegagalan sebuah ‘BUMN’ investasi semacam Dubai World (tidak ada hubungannya dengan Dinar World yang kita miliki !) bisa membuat pasar seluruh dunia panik ?, size atau ukuran yang jadi masalah. Dubai World memiliki potensi gagal bayar terhadap hutang yang nilainya mencapai US$ 60 Milyar – atau hampir sama besar dengan cadangan devisa negara kita !.
Bayangkan bila Dubai World benar-benar tidak bisa membayar hutangnya pada bank-bank besar dunia ? seluruh perbankan dunia bisa jadi kena getahnya – karena system financial dunia yang terkait satu sama lain.
Mirip dengan kisruh bank Century di Indonesia – yang dengan alasan Dampak Sistemik-nya ; bank sentral United Arab Emirates di hari Ahad kemarin memutuskan untuk menolong Dubai World dengan fasilitas darurat khusus sehingga ketika semua pasar modal dan pasar uang seluruh dunia buka hari Senin kemarin – krisis Dubai World nampak sudah terselesaikan.
Swasembada Daging Nasional Dari Kambing, Mengapa Tidak…?
- Details
- Category: Entrepreneurship
- Hits: 13248
Dalam tulisan saya tanggal 17 Maret 2009 lalu dengan judul Dicari : Solusi Ekonomi Yang Tidak Mengandalkan Hutang saya ungkapkan bahwa untuk menurunkan kebutuhan daging impor hanya tinggal 10 % saja tahun 2010 (yang tinggal seminggu lagi), Indonesia membutuhkan tambahan 2.5 juta ekor sapi. Akan tercapaikah target ini ?, Wa Allahu A’lam – Departemen pertanian mungkin yang bisa menjawabnya karena saya cari datanya tidak ketemu.
Dalam tulisan saya tanggal 17 Maret 2009 lalu dengan judul Dicari : Solusi Ekonomi Yang Tidak Mengandalkan Hutang saya ungkapkan bahwa untuk menurunkan kebutuhan daging impor hanya tinggal 10 % saja tahun 2010 (yang tinggal seminggu lagi), Indonesia membutuhkan tambahan 2.5 juta ekor sapi. Akan tercapaikah target ini ?, Wa Allahu A’lam – Departemen pertanian mungkin yang bisa menjawabnya karena saya cari datanya tidak ketemu.
Ketergantungan kita pada daging impor selama ini, bisa jadi karena persepsi yang terbangun selama ini di masyarakat adalah bahwa daging sapi-lah yang paling aman. Karena pertumbuhan peternakan sapi membutuhkan modal yang besar, dan tingkat kelahiran anak sapi yang relatif rendah – membuat upaya mengejar kebutuhan daging secara nasional ini menjadi berat.
Sebenarnya ada sumber daging lain yang tidak kalah menariknya dari daging sapi, yaitu daging kambing. Hanya daging kambing ini selama ini sering dipersepsikan sebagai daging yang berbahaya bagi kesehatan, seperti koleterol tinggi dan lain sebagainya sehingga banyak dihindari.
Hal inilah yang harus diluruskan oleh pihak-pihak yang terkait di negeri ini, dengan riset yang memadai, penyuluhan ke masyarakat dlsb. Di Amerika misalnya, United State Department of Agriculture (USDA) telah mempublikasikan kajiannya sepertti dalam table diatas.
Dari table diatas kita tahu bahwa dari kajian mereka ini, ternyata stiap berat yang sama daging kambing mengandung lebih sedikit lemak, lemak jenuh dan kolesterol dibandingkan dengan daging sapi dan bahkan lebih rendah juga dari daging ayam !.
Apakah daging kambing, sapi dan ayam di Indonesia berbeda dari yang di Amerika ?, perlu diteliti lebih detil – tetapi dugaan saya sendiri mestinya tidak jauh berbeda. Asumsinya data dari USDA tersebut memang benar; bukankah ini peluang besar bagi negeri ini untuk bisa mandiri dan mencukupi kebutuhan dagingnya dari dalam negeri sendiri ?.
Kambing lebih mudah diproduksi secara masal, karena untuk beternak kambing tidak dibutuhkan modal yang besar. Kemudian kecepatan pertumbuhannya yang mencapai 3/2 ( tiga kali beranak dalam dua tahun) insyallah akan semakin memudahkan pencapaian pemenuhan kebutuhan daging nasional ini.
Efek ekonominya akan luar biasa bagi bangsa ini; pertama kita tidak akan lagi menghambur-hamburkan devisa setiap tahunnya untuk mengimpor kebutuhan daging nasional; kedua akan ada penyebaran kesejahteraan yang meluas ke masyarakat – asal mau saja – masyarakat kita pasti bisa pelihara kambing !.
Lagi pula memelihara (menggembala) kambing ini juga profesi para nabi sebelum mereka menjadi nabi; pasti banyak pesan yang terkandung didalamnya – yang barangkali belum semuanya bisa kita pahami, tetapi sedikit-demi sedikit pesan tersebut terkuak bila kita terjun kedalamnya.
Bagi masyarakat yang ingin belajar perkambingan ini, kami menyediakan fasilitas di lokasi Pesantren Wirausaha kami yang juga secara berkelakar kita sebut sebagai Center of Kambingnomics – di Jonggol, Bogor. Belajar perkambingan di tempat ini adalah gratis dan Anda bisa membawa anak-anak sambil berlibur…; bagi yang datang dari luar kota tersedia penginapan – hanya harus kontak kami sebelumnya agar tidak bentrok dengan jadwal rombongan lain yang kemungkinan menggunakan fasilitas yang sama.
Semoga dengan langkah kecil ini, kita bisa berkontribusi dalam mengerem kebutuhan impor daging nasional sekaligus juga menyebar luaskan kemakmuran ke masyarakat – Hal jazaa ul’ ihsaani illal ihsaan.
Systemic Risks : Guru ‘…’ Berdiri, Murid ‘…’ Berlari
- Details
- Category: Entrepreneurship
- Hits: 6417

Hari ini isu-nya bakal ada demo besar di negeri ini, yang inti permasalahannya berawal dari upaya penyelamatan bank kecil Century dari apa yang disebut-sebut pihak pengambil keputusan sebagai memiliki risiko sistemik bila tidak diselamatkan. Masyarakat awam yang mengikuti tontonan investigasinya oleh pansus DPR di televisi sebenarnya sudah bisa cukup paham tentang apa yang nampaknya terjadi.
Pada waktu yang bersamaan, nun jauh disana – ada negeri yang para pembuat hukumnya (lawmakers) juga lagi menginvestigasi menteri keuangannya (Treasury Secretary), untuk kasus yang sangat mirip – yaitu bailout AIG akhir 2008 yang menyebabkan rakyat negeri itu harus nomboki US$ 180 Milyar sebagai komitmen dana talangan aksi penyelamatan ini.
Investigasi ini juga disiarkan di televisi secara langsung tadi malam, saya sendiri mengikutinya dari CNBC yang menyajikan kasus ini sebagai tontonan menarik dalam skala global.
Dari apa yang saya lihat melalui dua tontonan televisi tersebut – investigasi Century di Pansus DPR RI dan investigasi bailout AIG di Congress AS – sangat-sangat banyak kemiripannya sehingga saya yakin bahwa dua hal ini bukan suatu kebetulan.
AIG terpaksa diselamatkan pemerintahnya dengan alasan risiko sistemik yang dihadapi negeri itu jauh lebih besar disbanding bila AIG dibiarkan bankrupt. Bank Century-pun di Indonesia diselamatkan dengan alasan yang persis sama.
Ada Gajah Di Ruang Tamu Kita…?
- Details
- Category: Entrepreneurship
- Hits: 10513

“Yang demikian (siksaan) itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada sesuatu kaum, hingga kaum itu merubah apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (QS 8:53)
Ilustrasi ini saya ambil dari materi Ice Breaking pada Change Management Training beberapa tahun lalu. Ceritanya adalah tentang orang kebanyakan yang terjebak dalam kondisi yang sangat tidak menyenangkan, tetapi karena tidak bisa/tidak mau merubahnya sampai lama kelamaan terbiasa hidup dengan kondisi tersebut.
Suatu hari Mr. Stuck yang sangat letih pulang kerja mendapati ada seekor gajah yang nongkrong di ruang tamunya. Meskipun kaget, sedih dan jengkel bukan kepalang – karena keletihannya Mr.Stuck memutuskan untuk membiarkan gajah tersebut di ruang tamunya dan berharap bisa mengusirnya esuk pagi setelah kondisinya segar.
Esuk paginya Mr. Stuck bangun kesiangan seperti biasanya, dia buru-buru berangkat kerja. Ketika melihat gajah masih nongkrong di ruang tamunya, dia berniat – nanti saja sepulang kerja mengusir gajah tersebut. Sore hari ketika dia pulang kerja, kembali sangat letih – dan memutuskan untuk mengusir gajah esuk pagi saja.
Begitu seterusnya, hari berganti hari – tahun berganti tahun; Mr. Stuck meskipun dengan perasaan jengkel – dia dengan terpaksa hidup bersama gajah di ruang tamu seumur hidupnya.
Fenomena gajah di ruang tamu ini adalah cerminan hal yang mengagetkan, tidak seharusnya, menjengkelkan dlsb. yang ada di sekitar kita dalam bentuk yang bisa bermacam-macam. Dalam skala bangsa Indonesia yang lagi hangat misalnya adalah system hukum kita yang terasa sangat timpang.
Orang-orang kecil yang mencuri semangka, buah kakau, pisang dipenjara. Sementara yang merugikan negara trilyunan melenggang bebas, yang mengobok-ngobok kewibawaan hukum juga bebas. Well kalau toh diantara yang mengobok-ngobok rasa keadilan tersebut akhirnya di penjara, dia tetap hidup mewah bak hotel bintang lima di dalam penjara.
System hukum yang demikian ini jelas sangat menjengkelkan kita sebagai rakyat, mungkin juga menjengkelkan para pemimpin negeri ini….tetapi karena mereka sangat letih dengan perbagai persoalan, saya tidak heran kalau sampai bertahun kedepan akan tetap ada ‘gajah nongkrong di ruang tamu’ tersebut di system hukum kita.
Dalam skala pribadi, masing-masing kita juga kadang punya masalah dengan tamu yang tidak diundang tersebut – gajah yang sudah terlanjur nongkrong di ruang tamu kita. Salah satu contohnya adalah pekerjaan yang tidak kita sukai, tetapi terpaksa kita jalani seumur hidup kita sampai pensiun.
Ada tes sederhana yang dapat mengukur apakah Anda cocok dan dapat menikmati pekerjaan Anda atau sebaliknya. Tes ini adalah dengan melihat apa yang Anda rasakan setiap Minggu sore/malam. Bila setiap minggu malam Anda lebih sering bahagia menyongsong pekerjaan esuk hari, maka kemungkinan besarnya pekerjaan tersebut memang cocok untuk Anda dan Anda dapat menikmatinya.
Sebaliknya, bila Anda tidak bisa menikmati akhir pekan Anda karena membayangkan pekerjaan yang tidak menyenangkan hari Senin-nya; maka sangat bisa jadi pekerjaan yang Anda tekuni ini memang tidak cocok untuk Anda sehingga Anda tidak bisa menikmatinya. Bila ini yang terjadi maka pekerjaan inilah yang disebut ada gajah nongkrong di ruang tamu Anda. Hanya Anda sendiri yang bisa mengusir gajah tersebut, karena kalau tidak maka gajah tersebut tetap nongkrong di ruang tamu Anda sampai Anda pensiun – artinya Anda tersiksa seumur hidup dengan pekerjaan Anda. Wa Allahu A’lam.