Kelapa Dua Raya 189 Depok, Jawa Barat 16951 Indonesia
+(62) 856-93-010101 admin@geraidinar.com
Mon - Fri 8.30 - 16.00 National Holiday Closed

Berkah itu kini seperti sesuatu yang hilang. Sesuatu yang sangat penting yang hilang dari negeri, sehingga negeri yang seharusnya makmur dengan sumber daya melimpah – tetapi gagal memakmurkan rakyatnya. Hilang dari keluarga, sehingga anak-anak tidak tumbuh seperti harapan orang tuanya. Hilang dari perusahaan, sehingga perusahaan tidak pernah puas dengan karyawannya dan karyawan-pun tidak puas dengan perusahaannya. Lantas berkah yang hilang ini, dimana mencarinya ?

Sakinah dalam bahasa arab terjemahannya ke dalam bahasa Inggris yang agak pas adalah tranquility, dalam bahasa Indonesia tidak ada satu kata yang pas tetapi kombinasi dari sejumlah kata seperti ketenangan, ketentraman, kesentosaan dan sejenisnya. Setidaknya ada tiga versi sakinah yang seharusnya kita semua bisa merasakannya, kalau tidak bisa ketiganya, setidaknya dua diantaranya atau minimalnya satu diantaranya. Bila satu-pun tidak, bararti ada masalah dalam diri kita.

Waktu krisis kedelai melanda negeri ini hampir sepuluh bulan lalu, saya ‘Bermimpi’  Pak Kyai diundang hadir di sidang kabinet untuk ikut mengatasinya. Maka ketika hari ini harian Kompas (21/05/13) mengangkat sebagai berita utamanya jurang pemisah antara si kaya dan si miskin yang semakin lebar di era reformasi yang sudah berjalan 15 tahun terakhir, saya kembali ‘bermimpi’ Pak Kyai diundang di sidang kabinet untuk membantu menyelesaikan masalah bangsa ini. Mengapa perlu Pak Kyai ?

Ketika saya sampaikan ke teman-teman dekat rencana perjalanan ke Palestina khususnya Gaza, banyak yang mengkerutkan dahi. Palestina ?, Gaza ? ada apa di sana ? bukankan banyak sekali kegiatan kemanusiaan yang bisa dilakukan di negeri sendiri ? mengapa ke Gaza yang penuh dengan bahaya ?. Ke Gaza atau secara umum Palestina adalah perintah langsung dalam Al-Qur’an yang tidak banyak diketahui oleh kaum muslimin, sehingga perjalanan atau perhatian  kita pada Palestina ini menjadi bagian dari keimanan kita.

Bila akhir-akhir ini lauk-pauk khas tempe mulai jarang muncul di meja makan Anda, jangan salahkan istri Anda untuk ini. Jangan salahkan pemerintah karena bisa jadi bukan salah mereka juga, tapi amannya salahkanlah Beijing atas kelangkaan dan ketidak terjangkauan tempe ini. Salahkan Beijing yang telah menyedot sekitar 60% kedelai dari pasar dunia, untuk konsumsi rakyat dan ternak mereka.