Saya lagi di Jawa ketika pekan lalu membaca berita di suatu harian yang mengutip pernyataan optimisme dan bangga ketua Gaikindo (gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia), bahwa penjualan mobil baru hingga akhir tahun ini bisa mencapai 1 juta unit. Sementara itu di harian yang sama diberitakan pula gundah gulananya pemerintah dalam mengatasi subsidi BBM – yang bila tidak ditambah akan habis sebelum akhir tahun.
Saya lagi di Jawa ketika pekan lalu membaca berita di suatu harian yang mengutip pernyataan optimisme dan bangga ketua Gaikindo (gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia), bahwa penjualan mobil baru hingga akhir tahun ini bisa mencapai 1 juta unit. Sementara itu di harian yang sama diberitakan pula gundah gulananya pemerintah dalam mengatasi subsidi BBM – yang bila tidak ditambah akan habis sebelum akhir tahun.
Reaksi spontan saya adalah la iki piye to ( la ini bagaimana sih) , kok ora (tidak) nyambung antara Gikindo dengan pemerintah ?. Jualan mobil digenjot habis-habisan, silahkan jualan tanpa batas – tapi bahan bakarnya nanti dulu biar dipikirkan pemerintah subsidinya !.
Teman yang disamping saya karena juga ketidak tahuannya secara spontan merespon, wis embuh mas …pokoke mlaku dewe-dewe kabeh – wah tidak tahu mas, semua berjalan sendiri-sendiri. Fenomena ketidak pahaman yang spontan muncul dalam ucapan ‘iki piye’ , dan pasangannya berupa jawaban yang juga berupa ketidak tahuan yang tercermin dari kata ‘embuh’ tersebut saya rasa bukan hanya ada di saya atau teman saya ini.
Mayoritas orang di negeri ini kemungkinan besarnya juga tidak tahu dan tidak bisa menjelaskan, mengapa dalam contoh diatas seolah tidak ada koordinasi atau system yang mengatur sedemikian rupa sehingga Gaikindo boleh menjual mobil sampai sejumlah tertentu yang bahan bakarnya sanggup disediakan oleh pemerintah.
Koordinasi-pun seharusnya berlanjut, Gaikindo boleh menjual mobil sampai sejumlah tertentu yang pertambahan ruas jalannya secara cukup disediakan oleh pemerintah. Gaikindo boleh jual mobil sampai jumlah tertentu yang dampak emisi carbonnya berada diambang batas aman yang sudah diperhitungkan pemerintah dlsb-dlsb.
Intinya tidak seharusnya satu sektor industri – dalam hal ini yang saya jadikan contoh industri mobil, boleh tumbuh demikian pesatnya dan dengan bangganya sementara menjadi beban yang tidak diperhitungkan di sektor lainnya.
Siapa yang mengkoordinasikan ini semua ?, yang mengendalikan keseimbangan antara sektor mana yang tumbuh sekian dan harus diimbangi sektor lain mana yang juga harus tumbuh sekian ? – untuk sementara ini saya yang bertanya ‘iki piye’ tidak tahu dan juga temen saya yang menjawab ‘embuh’ juga tidak tahu.
Saya hanya berharap, bapak-bapak yang diatas sana entah yang di eksekutif atau di legislatif ada yang bisa menjawab keingin tahuan orang awam yang bertanya ‘iki piye’ seperti saya dalam kasus di atas atau sejenisnya. Mudah-mudahan saja jawaban mereka bukan ‘embuh…’ yang mencerminkan ketidak tahuan mereka juga . Soalnya kalau semua menjawab ‘embuh’ la terus siapa yang bisa melepaskan negeri ini dari keruwetan simalakama seperti mana yang dipentingkan antara pertumbuhan penjualan mobil di satu isi dengan ketersediaan bahan bakar, jalan dan udara bersih tersebut di atas di sisi lainnya.
Dilema seperti ini sebenarnya lebih mudah diatasi bila kita bisa uraikan mana yang menjadi kebutuhan dan mana yang sarana pemenuhan kebutuhan. Mobil misalnya, dia hanya sarana untuk pemenuhan kebutuhan transportasi. Maka bila pemerintah bisa mengatasi transportasi dengan cara yang lebih baik – tidak harus ada pertumbuhan mobil yang begitu banyak jawabannya.
Bila mobil tidak tumbuh begitu banyak, maka kebutuhan bahan bakar juga tidak banyak. Kemacetan tidak menjadi semakin parah dan demikian pula pencemaran udara. Jadi bisa kita lihat, ketika suatu kebutuhan itu diatasi dengan benar, tidak perlu timbul masalah-masalah lain yang menjadi ikutannya.
Sama dengan suatu penyakit, bila yang diatasi adalah penyebabnya dengan obat yang tepat – maka penyakit bisa sembuh tanpa komplikasi. Tetapi bila yang diatasi hanya gejalanya, maka penyakitnya sendiri tidak sembuh – komplikasinya yang bertambah banyak.
Lho kalau penjualan mobil direm, maka penghasilan pajak akan menurun, kegiatan industri menurun dan berdampak pada penurunan pertumbuhan ekonomi nasional kita ?, tidak harus demikian. Pertumbuhan bisa dihasilkan di sektor lainnya atau sektor yang sama tetapi berupa solusi lainnya. Misalnya dengan project-project yang tidak berdampak simalakama tetapi bermanfaat besar bagi rakyat banyak dalam jangka pendek maupun panjang, seperti apa contohnya ?.
Project transportasi massal dengan skala yang besar di berbagai kota misalnya, dalam jangka pendek bisa langsung memacu aktifitas ekonomi dan menciptakan lapangan kerja, dalam jangka panjang menyediakan transportasi massal yang murah dan nyaman serta menurunkan pencemaran udara.
Jadi yang diperlukan adalah solusi atas kebutuhan atau solusi atas masalah, bukan sekedar mengatasi gejala atau symptom. Tetapi untuk ini memang diperlukan para pejabat publik yang bisa menjawab tuntas setiap ada pertanyaan ‘iki piye’ dari masyarakat yang tidak paham, bila para pejabat publik tersebut hanya bisa menjawab ‘embuh’ juga – maka kasus seperti di awal tulisan ini akan terus terulang… Wa Allahu A’lam.