Bila Anda ingin menanam mangga misalnya, maka Anda bisa mulainya dengan menanam biji mangga. Insyaallah dengan cara ini biji akan tumbuh, tetapi akan perlu waktu yang lama dan setelah bertahun-tahun menunggu mangga berbuah - hasilnya belum tentu seperti yang Anda harapkan. Ada cara lain yang lebih cepat dan hasilnya lebih dekat kepada aslinya yaitu dengan teknik mencangkok. Memindahkan satu tangkai dari pohon mangga yang sudah disiapkan secara khusus ke tanah yang juga sudah dipersiapkan, dengan cara ini mangga bahkan bisa langsung berbuah dan dengan buah yang sama dengan induknya. Ternyata cara ini juga bisa dilakukan untuk bidang lain, seperti menumbuhkan para penghafal Al-Qur’an.
Saat ini kami sedang mencoba teknik ‘mencangkok’ ini di Madrasah Al-Qur’an Daarul Muttaqiin yang kami kembangkan di Jonggol. Waktu kami mulai menggagasnya sekian tahun lalu, segala sesuatu terasa berat untuk memulainya. Bayangkan untuk membangun madrasah atau pesantren semacam ini, selain kami harus menyiapkan sarana fisiknya, pekerjaan besar lainnya adalah menyiapkan guru-gurunya, materi pengajarannya, system pengelolaan para santrinya dlsb.
Setelah madrasah atau pesantren berdiri-pun belum tentu mendapatkan bahan baku yaitu murid-murid yang berpotensi baik, karena calon-calon santri atau siswa yang berpotensi pasti akan memilih madrasah atau sekolah lain yang sudah lebih siap dengan segala sesuatunya. Maka dari sinilah kami timbul ide untuk menggunakan teknik ‘mencangkok’ dan bukannya menanam ‘biji’ dari awal.
Pertama kami harus menemukan ‘pohon’ yang sudah terbukti baik ‘buahnya’. ‘Pohon’ ini kami temukan di sebuah Ma’had Al-Qur’an di Jakarta Timur yang sudah meluluskan banyak Hafidz melalui system pengajaran yang menurut kami efektif. Alhamdulillah ‘pohon’ ini bersedia dicangkok, mereka rela memindahkan ‘cabang’-nya berupa 12 santri dan 4 orang gurunya untuk tumbuh di ‘tanah’ yang sudah kami siapkan di Jonggol.
Sebagaimana memindahkan tanaman cangkokan, kita harus hati-hati dan sirami dari hari demi hari agar ‘pohon’ tersebut benar-benar tumbuh di tempat barunya. Maka demikian pula ‘pohon’ cangkokan yang bernama Madrasah Al-Qur’an Daarul Muttaqiin ini, lima hari setelah ‘pohon’ dipindahkan – saya meluangkan waktu untuk bersama mereka sehari semalam untuk get a feel apakah ‘pohon’ ini akan tumbuh di tanah yang baru sebagus tempat aslinya.
Alhamdulillah, saya merasakan ‘pohon’ ini tumbuh segar dan mulai menarik orang-orang yang melihatnya. Mendengar bacaan Al-Qur’an yang sangat bagus dari anak-anak yang belajar dan menambah hafalan, dan mendengar imam tarawih dari para guru yang masih juga sangat belia – masyarakat sekitar mulai mendaftarkan anak-anaknya untuk belajar Al-Qur’an di madrasah yang belum juga berumur sepekan ini. Hingga kini sudah belasan anak-anak didaftarkan orang tuanya untuk mengaji di tempat ini.
Ini persis seperti pohon cangkokan yang baik - yang begitu dipindahkan langsung tumbuh dengan segar dan bahkan langsung berbuah. Maka pikiran saya terus menerawang jauh, membayangkan kalau teknik ‘mencangkok’ ini juga diterapkan di berbagai tempat lain di Indonesia atau bahkan di dunia, dari berbagai ‘pohon’ pesantren atau ma’had Al-Qur’an yang sudah bagus bener hasilnya – maka budaya cinta dan hafal Al-Qur’an ini insyaallah akan lebih cepat meluas. Orang-orang awam seperti saya dan Anda-pun bisa membangun sebuah pesantren Al-Qur’an yang berkwalitas.
Di dunia bisnis teknik mirip ‘mencangkok’ ini juga terjadi yaitu misalnya dengan franchise. Hanya saja karena orientasi keuntungan duniawi, maka pemilik merk franchise (franchisor) tentu tidak ingin ‘cabang pohon cangkokan’-nya (franchisee) tumbuh menyamai pohon aslinya (franchisor).
Dalam hal pendidikan dan penyebar luasan Al-Qur’an – batasan- semacam ini tidak perlu ada, ‘cabang-cabang cangkokan’ bisa tumbuh besar sebesar induknya atau bahkan lebih. Lebih jauh lagi anak-anak cabang yang telah tumbuh besar bisa dicangkok-cangkok lagi untuk menimbulkan efek berantai lahirnya generasi pencinta dan penghafal Al-Qur’an dalam skala yang massal, mereka-mereka inilah yang akan menjadi generasi yang paling cerdas di muka bumi karena di dalam generasi ini terbawa petunjuk dari Sang Pencipta.
Maka berawal dari madrasah kecil di tengah kebun inilah kita bervisi untuk melahirkan generasi yang akan memimpin dunia kelak, mereka menghafal Al-Qur’an dari kecil, mampu berbahasa arab dan membaca kitab dari kecil dan bahkan mereka minum susu kambing segar setiap hari ! - karena madrasah memang berada di komplek yang sama dengan peternakan kambing J , klop untuk generasi idaman kedepan. InsyaAllah !