Sepanjang pekan ini hampir seluruh media di Indonesia diramaikan oleh berita memilukan tentang dihukum pancungnya salah seorang TKW asal negeri ini. Namun bukan poin hukuman mati ini yang ingin saya bahas, tetapi lebih ke akar masalahnya. Mengapa sampai jutaan tenaga kerja dan mayoritasnya wanita Indonesia harus mencari kerja di negeri lain dengan menanggung segala bentuk risiko, dari kehormatan sampai juga hilangnya jiwa ?. Pastinya mereka tidak akan mencari jauh –jauh bila di negeri sendiri tersedia lapangan kerja yang cukup. Inilah akar masalahnya – lapangan kerja !. Tetapi bagaimana menciptakan lapangan kerja yang efektif dan efisien ?. Saya menjagokan salah satunya dengan ecosystems pasar. Hitungan kasar saya sekurangnya 1/3 dari masalah tenaga kerja akan teratasi dengan tumbuhnya ecosystems pasar yang sehat.
Yang saya sebut sebagai ecosystems disini adalah kumpulan orang-orang yang saling memiliki keterkaitan satu sama lain – langsung maupun tidak langsung - dalam sebuah ide yang sama. Jadi ecosystems pasar adalah kumpulan orang-orang yang saling terkait dalam sebuah ‘ide’ pasar. Ambil contoh konkritnya yang terjadi pada ‘laboratorium hidup’ kita - Bazaar Madinah - yang sudah beroperasi setiap hari selama hampir dua bulan ini.
Dalam ecosystems Bazaar Madinah yang ada adalah team pengelola untuk urusan administrasi , keamanan dan kebersihan, tukang parkir, pedagang dan pegawainya, supplier bahan baku maupun produk jadi, supplier sarana penunjang sampai lembaga keuangan syariah dari BMT dan bank-bank syariah. Untuk melihat bagaimana sekumpulan individu tersebut saling terkait dalam ‘ide’ sentral Bazaar Madinah, saya ambilkan contoh nyata dari perjalanan salah satu produk yang kini mulai laris di Bazaar Madinah.

Dengan tempat parkir yang paling luas di sepanjang jalan Kelapa Dua Raya – RTM – Prof Lafran Pane – Depok, Bazaar Madinah di waktu sore dan malam hari banyak didatangi pengunjung yang bermobil. Dengan kelas pengunjung seperti ini, salah satu pedagang yang sebelumnya juga sudah pernah saya ceritakan dapat melihat adanya peluang baru – yaitu produk-produk makanan yang kelasnya diatas rata-rata makanan yang ada di sepanjang jalan-jalan tersebut diatas.
Maka secara sederhana dipilihlah steak sebagai produk unggulannya. Agar tidak terlalu njlimet proses masak dan pengelolaan stock-nya , hanya disediakan dua jenis steak yaitu Sirloin Steak dan T- Bone Steak. Meskipun di jual di ‘pasar’ – tetapi ini ‘steak sungguhan’ – bukan steak-steak-an yang banyak kita jumpai di kaki lima. Saya yang mencobanya sendiri, merasakan steak-steak tersebut rasanya ‘hanya’ nomor dua dari steak yang saya pernah rasakan di Jabodetabek – karena yang nomor 1 adalah steak yang ada di restaurant mewah dalam sebuah perkantoran di Jl. Sudirman – yang harganya tentu sangat mahal.
Walhasil dengan uang Rp 30,000 s/d Rp 50,000 (tergantung ukuran), pengunjung sudah dapat merasakan steak ‘runner-up’ tersebut. Dari faktor harga dan rasa inilah, makanya steak a la Bazaar Madinah ini menjadi salah satu produk yang mulai laris.
Ketika steak mulai dijual, maka yang langsung tercipta adalah tenaga kerja untuk membuat bumbu-bumbunya yang disiapkan di rumah pemilik produk, tenaga untuk memasaknya di Bazaar Madinah, tenaga yang menyajikannya, dan tenaga yang mencuci hotplate-hotplate-nya. Karena berkilo-kilo daging sirloin dan T-Bone dibutuhkan setiap harinya, maka sebuah toko daging di Jakarta Timur ikut mendapatkan pekerjaannya untuk men-supply daging-daging yang dibutuhkan.
Karena pedagang yang memiliki produk ini adalah pedagang kecil dengan modal yang terbatas, maka akan dibutuhkan bantuan capital untuk membesarkannya sehingga mampu untuk memiliki stock yang cukup – tempat penyimpanan bahan baku yang memadai dlsb. Maka salah satu lembaga keuangan syariah sudah mulai menawarkan permodalannya. Begitu seterusnya dari satu produk ini membentuk rantai ecosystems yang insyaallah terus membesar. Dan di Bazaar Madinah ada puluhan produk baru yang lahir seperti proses kelahirannya steak a la Bazaar Madinah ini.
Karena saya lihat para pedagang tersebut tidak hanya fokus jualan, tetapi juga berpikir tentang segmentasi pasar yang akan dilayani, produk baru yang cocok untuk pasar yang dituju, ber-eksperimen dengan proses menghasilkan produknya, menjalin hubungan dengan supliernya sampai juga menggalang pendanaan dari capital provider – maka mereka-mereka ini sejatinya sudah dalam proses untuk menjadi seorang entrepreneur. Hanya saja karena ukuran usahanya yang masih mikro maka saya menyebut mereka-mereka ini adalah para micro-entrepreneurs.
Dari hasil pengamatan saya sendiri seorang micro-entrepreneurs di Bazaar Madinah menciptakan lapangan kerja rata-rata tiga orang – termasuk dirinya sendiri, maka 35 micro-entrepreneurs yang kini terdaftar aktif di Bazaar Madinah secara bersama-sama telah menciptakan sekitar 105 tenaga kerja.
Lokasi Bazaar Madinah adalah di Cimanggis yang merupakan 1 dari 11 kecamatan di Depok. Dari pembicaraan informal dengan Bapak walikota Depok, beliau menyarankan dibuat satu Bazaar Madinah lagi di setiap kecamatan di Depok, artinya - kalau ada yang mendanainya – insyallah bisa lahir 10 lagi Bazaar Madinah di wilayah Depok saja. Berarti 1,050 lagi lapangan kerja insyaAllah tercipta atau lebih dari 1/3 dari target penciptaan lapangan kerja di Depok !. Bila 1/3 lapangan kerja tercipta dari ecosystems pasar ini, maka tugas pemerintah atau instansi yang terkait tinggal memikirkan 2/3-nya dari sektor pertanian, industri, jasa dlsb.
Penciptaan lapangan kerja melalui lahirnya ecosystems pasar semacam ini – dari pengalaman laboratorium hidup ‘Bazaar Madinah’ tersebut diatas - terbukti efektif dan efisien. Pemerintah tidak perlu menyediakan anggaran satu sen-pun karena bisa diserahkan ke pihak swasta yang akan mendanai seluruh projectnya. Lapangan kerja juga cepat tercipta karena hanya perlu waktu satu bulan untuk menyiapkan banguan fisik standar Bazaar Madinah, dan kurang dari dua bulan untuk menjadikan Bazaar Madinah tersebut mulai ramai dikunjungi orang.
Barangkali inilah salah satu rahasianya, mengapa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga membuat pasar di awal terbentuknya negara Madinah. Maka bila langkah-langkah Uswatun Hasanah kita tersebut kita ikuti di setiap aspeknya – termasuk pasar dan proses penciptaan lapangan kerja-nya ; maka insyaAllah tidak ada lagi wanita-wanita negeri ini yang perlu sampai kehilangan kehormatan dan bahkan jiwa-nya karena harus bekerja di negeri yang tidak dipahami karakter dan system hukumnya. InsyaAllah kita bisa !.