Kelapa Dua Raya 189 Depok, Jawa Barat 16951 Indonesia
+(62) 856-93-010101 admin@geraidinar.com
Mon - Fri 8.30 - 16.00 National Holiday Closed

Dalam tulisan saya sebelumnya dengan judul yang sama Mata Air Di Pojok Sawah,  saya berbicara tentang bagaimana menyalurkan ‘air’ rizqi yang sudah kita peroleh. Dalam tulisan yang ini saya majukan selangkah yaitu bagaimana mencari sumber ‘air’ rizqi tersebut. Sama dengan tulisan yang pertama, yang kedua inipun pelajarannya saya ambilkan dari kisah langsung di lapangan agar mudah kita cerna konsepnya.

 

Dalam proses kerja keras menyelesaikan Masjid ‘Gedebog’ Daarul Muttaqiin dengan target dapat dipakai I’tikaf Wirausaha 10 hari terakhir Ramadhan nanti, kami juga menyiapkan hal-hal lain yang kiranya sangat diperlukan untuk sebuah masjid yang baik. Salah satunya yang amat penting adalah ketersediaan air bersih dalam jumlah yang cukup.

 Masjid 'Gedebog' Daarul Muttaqiin Posisi 18-06-2011

Karena meskipun di komplek yang sama, masjid ini berlokasi cukup jauh dari persawahan yang sudah ada mata airnya tersebut diatas – maka kami memutuskan untuk mengebor sumur di tempat yang tidak terlalu jauh dari lokasi Masjid. Kami pilihlah tempat yang menurut kami dan ahli sumur yang mengebornya adalah ideal untuk dibor.

 

Diluar dugaan kami, meskipun sudah sangat dalam kami mengebornya – ternyata air yang keluar tidak seberapa. Pompa yang dinyalakan dalam 15 menit sudah akan membuat air habis, setelah itu perlu menunggu lagi berjam-jam atau bahkan berhari-hari sebelum bisa diambil airnya lagi. Kami sempat berpikir bahwa inilah karakter Jonggol – yang konon memang agak susah air, karena Pesantren besar lain yang berlokasi di Jonggol mengalami kesulitan air juga.

 

Namun bersyukur kami, diantara 80-an pekerja dengan berbagai latar belakang pendidikan mulai dari yang tidak bisa baca tulis sampai yang sarjana - yang saat ini bekerja bareng ngebut berusaha menyelesaikan masjid – muncul pemikiran-pemikiran yang ‘tidak biasa’.

 

Di antara pemikiran tersebut ada yang kurang lebih begini “Air yang kita cari ini kemungkinan sumbernya tidak di bawah – tetapi dari atas, maka ketika kita mengebornya dalam-dalam –pun tidak akan mendapatkan air tersebut. Sebaiknya kita cari  sumber-sumber air yang diatas saja”.

 

Subhanallah, ternyata setelah beberapa pekerja membersihkan genangan-genangan air di sekitar lokasi pengeboran – mereka menemukan 8 mata air kecil-kecil yang semula hanya nampak seperti rembesan air dari atas – karena lokasinya memang di lembah – tempat terendah dari lokasi komplek kami – di sudut sawah yang lain.

 Salah satu dari 8 'genangan' yang ternyata mata air...

Yang membuat kami banyak-banyak bersyukur kemudian adalah ternyata ‘rembesan-rembesan’  air itu sejauh ini cukup untuk menjaga selalu terpenuhinya reservoir cadangan air untuk masjid yang kami buat berkapasitas 36 m3. Bahkan ketika di bibir reservoir ini kami pasang pipa untuk mengalirkan kelebihan air dari yang kami butuhkan, pipa itu-pun terus mengalirkan air keluar - menandakan bahwa sumber-sumber mata air tersebut bukan hanya cukup untuk masjid yang sedang kami bangun, tetapi insyaallah cukup pula bagi masyarakat sekitar yang membutuhkan air.

 

Melihat fenomena ini, ayat pertama yang langsung kami ingat adalah Surat At-Talaq ayat 3 “Wa  Yarzuqhu Min Khaitsu Laa Yakhtasib…” – Dan Dia memberinya rizqi dari arah yang tidak disangka-sangka. Yang menjadi pertanyaan adalah siapa yang disebut “-nya” atau pihak yang diberi rizqi dari arah yang tidak disangka-sangka ini ?.

 

Pihak ini adalah pihak yang disebut di ayat sebelumnya yaitu “Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya” (At-Talaq: 2) ; juga lanjutan dari Ayat 3 tersebut yaitu “Dan barang siapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya”.  Dari sini  yang kami pahami kemudian adalah bahwa yang diberi rizqi dari arah yang tidak disangka-sangka adalah orang yang bertakwa dan bertawakkal kepada Allah.

 

Dalam konteks 8 mata air untuk Masjid ‘Gedebog’ Daarul Muttaqiin tersebut diatas, siapakah yang masuk kategori bertakwa dan bertawakkal kepada Allah ?. Ya bisa jadi salah satu atau beberapa orang dari 80-an orang yang bekerja dengan ikhlas siang malam untuk menyeleseaikan masjid tersebut.

 

Bisa jadi mata ‘air’ ini adalah  rizqi yang disediakan Allah untuk menyambut Anda yang sudah pada mendaftar untuk ikut I’tikaf Wirausaha, bisa jadi pula ini rizqi puluhan anak-anak yatim dan dhuafa yang sedang belajar menghafal Al-Qur’an di salah satu yayasan di Jakarta Timur – yang sudah siap untuk memakmurkan masjid tersebut selama dan sesudah Ramadhan nanti.

 

Mata air yang keluarnya tidak dari jerih payah kami mengebor sumur tersebut, juga menjadi pelajaran tersendiri bagi para santri wirausaha. Bila kerja keras kita selama ini belum memberikan hasil yang kita harapkan, kita-pun tidak perlu berkecil hati. Tugas kita bekerja dan berusaha – ya kita laksanakan saja dengan sebaik yang kita bisa. Adapun hasilnya, itu hak Allah untuk menentukannya. Siapa tahu Allah sedang menyiapkan ‘mata air – mata air’ Nya yang lain untuk kita.

 

Bagi Anda yang bekerja keras di perusahaan-perusahaan atau instansi-instansi, ‘mata air-mata air’ tersebut-pun bisa menjadi pelajaran untuk Anda. Bahwasanya Anda digaji setiap bulan oleh perusahaan atau instansi tempat Anda bekerja, tidak berarti rizqi Anda dari perusahaan atau instansi tersebut. Rizqi Anda dari Allah dan Dia sangat mampu memberi Anda ‘mata air-mata air’ lain yang jauh lebih banyak dari sumber-sumber yang tidak Anda sangka-sangka. InsyaAllah.