Istilah death valley atau lembah kematian untuk para (calon) entrepreneur saya sudah perkenalkan melalui tulisan saya tanggal 30 Oktober 2010. Bagi para (calon) entrepreneur perlu memahami ini karena dia merupakan waktu yang sangat menentukan sukses tidaknya sebuah usaha. Disebut death valley karena menurut sebuah riset di University of Texas untuk usaha kecil pemula yang memiliki karyawan 20 orang atau kurang, hanya 9 % yang bisa bertahan sampai 10 tahun. Artinya 91% usaha pemula mati atau tutup kurang dari 10 tahun sejak didirikannya.
Pengungkapan statistik ini bukan untuk menakut-nakuti para (calon) entrepreneur, tetapi justru sebaliknya. Prepare for the worst to get the best – siap menghadapi yang terburuk untuk mendapatkan yang terbaik, maka dengan cara memahami penyebab waktu terburuk dalam usaha atau death valley ini – insyaAllah kita bisa menyiapkan strategi untuk menghadapi dan mampu melewatinya.
Untuk exercise menghadapi death valley ini, saya siapkan contoh kasus nyata dari salah satu usaha yang dikembangkan oleh Pesantren Wirausaha Daarul Muttaqiin. Usaha ini kita sebut sebagai project Minang Mini – yang menggunakan platform dari produk Planet Beku yang pernah saya perkenalkan sebelumnya.
Idenya sederhana saja yaitu memperkenalkan jalur distribusi baru bagi masakan Padang - yang memang sudah terkenal akan kekayaan citarasanya. Konsepnya masakan padang ini kita akan distribusikan melalui booth-booth yang mudah ditaruh dimana saja tempat strategis yang dikunjungi banyak orang. Proses memasaknya sendiri tidak di lokasi, melainkan ter-centralized di dapur-dapur yang memenuhi standar kesehatan tertinggi.
Makanan didistribusikan ke booth-booth dalam kondisi beku dan hanya di-cair-kan menjelang disajikan. Dengan cara ini, untuk memiliki restaurant Padang Minang Mini , Anda tidak harus bisa masak Padang – karena yang dibutuhkan untuk Anda atau pegawai Anda lakukan di booth hanyalah men-cair-kan makanan yang memang sudah dalam kondisi ready to eat beku.
Berapa modal yang diperlukan untuk memiliki dan mengoperasikan restaurant Padang dengan konsep Minang Mini ini ?. Tergantung dari lokasi yang Anda pilih, yang terendah adalah bila Anda sudah memiliki tempat, freezer, piring dlsb. Maka dengan modal Rp 15 juta, Anda sudah mendapatkan satu booth cantik Minang Mini beserta stok awal 100 porsi seperti dalam gambar dibawah.

Modal yang dperlukan akan bertambah bila Anda harus menyewa tempat, mengadakan meja kursi untuk makan ditempat, menyediakan motor untuk delivery dlsb. Untuk situasi yang kedua ini, hitungan kami akan diperlukan modal dikisaran Rp 35 juta-an.
Menguntungkankah usaha seperti ini ?. Inilah yang ingin kami sampaikan sebagai tema tulisan ini.
Di atas kertas, bila setelah berjalan enam bulan secara bertahap Anda bisa mencapai tingkat penjualan 100 porsi per hari dengan asumsi harga @ Rp 10,000,- ; kemudian meningkat 10%-nya di tahun-tahun berikutnya ; maka usaha Anda dengan asumsi modal Rp 35 juta ini akan memberikan hasil sekitar 154 % per tahun - yang jauh diatas apresiasi Dinar sekalipun, apalagi terhadap hasil tabungan atau deposito. Target 100 porsi per hari atau Rp 1 juta penjualan per hari per booth ini mestinya cukup realistic dan achievable.
Tetapi bagi teman-teman kita yang tertarik ikut terlibat di project Minang Mini ini – secara syariah kita harus juga mengungkapkan ‘cacat’ atau kemungkinan gagalnya. Lantas apa penyebab kegagalan terbesar yang bisa diprediksi dari project ini ?, Yaitu bila pemilik booth secara persistent menjual kurang dari yang ditargetkan sementara biaya tidak ditekan. Bila penjualan hanya sampai rata-rata 80% dari target tetapi tidak bisa menurunkan biaya, maka usaha ini hanya akan memberikan hasil sekitar 7% per tahun – atau hanya sama dengan tingkat bagi hasil perbankan rata-rata – atau rugi bila dibandingkan dengan standar Dinar.
Simulasi death valley-nya untuk dua kondisi tersebut dapat dilihat secara grafis dibawah. Bila booth Minang Mini berjalan sesuai rencana, maka tidak perlu tambahan modal lagi dari modal awal Anda dan usaha Anda sudah akan lepas dari death valley di tahun kedua.

Sebaliknya bila kondisi terburuk yang terjadi – yaitu penjualan tidak tercapai dan biaya juga tidak dapat ditekan – maka Anda akan memerlukan injeksi modal di tahun kedua atau ketiga – agar Anda bisa tahan berada di death valley lebih panjang – lima tahun atau lebih sampai usaha Anda mentas dari lembah kematian ini.
Dua unsur yang berpengaruh menentukan seberapa dalam dan seberapa lama death valley ini adalah unsur penjualan dan unsur biaya. Unsur penjualan dapat Anda ketahui secara detil sejak hari pertama Anda jualan, demikian pula dengan unsur biaya. Artinya begitu sisi pendapatan tidak bisa di dongkrak untuk memenuhi target, Anda harus bisa menekan cost.
Maka sesungguhnya dalam dan lamanya death valley ini masuk area yang bisa di rencanakan, dipantau, dikoreksi dlsb dari waktu ke waktu. Kuncinya ada di perencanaan financial yang akurat, serta penerapannya yang sungguh-sungguh di lapangan.
“... Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya....”. QS 3 : 159.