Setelah tulisan saya tentang “25 Tahun Menikah, 25 Tahun Bahagia…” banyak email, telepon, sms dan pesan BBM yang masuk ke saya. Sebagian membantah karena ketika mencoba mengingat perkawinannya, tetap yang teringat adalah duka. Tetapi ada juga yang mencoba mengingat kebelakang dan hasilnya sama dengan saya, yaitu hanya teringat suka. Yang lebih banyak adalah yang menanyakan ‘How’-nya, bagaimana kita bisa membangun keluarga yang penuh suka.
Setelah tulisan saya tentang “25 Tahun Menikah, 25 Tahun Bahagia…” banyak email, telepon, sms dan pesan BBM yang masuk ke saya. Sebagian membantah karena ketika mencoba mengingat perkawinannya, tetap yang teringat adalah duka. Tetapi ada juga yang mencoba mengingat kebelakang dan hasilnya sama dengan saya, yaitu hanya teringat suka. Yang lebih banyak adalah yang menanyakan ‘How’-nya, bagaimana kita bisa membangun keluarga yang penuh suka.
Tanpa bermaksud untuk menjadi konsultan pernikahan dadakan –saya mau share hal-hal kecil yang bisa Anda lakukan untuk mewarnai pernikahan Anda agar yang muncul adalah warna suka – bukan warna duka. Ibarat tembok polos yang kita hendak cat, kita punya dua warna yaitu warna putih yang mewakili duka dan warna merah yang mewakili suka.
Tinggal cat mana yang hendak Anda gunakan untuk tembok Anda. Berapa banyakpun warna putih Anda laburkan ke tembok Anda, bila Anda akhirnya bisa melaburkan warna merah secara menyeluruh – maka warna merah itulah yang akan nampak di seluruh tembok Anda, tidak nampak lagi sisa-sisa warna putih.
Sebaliknya juga terjadi bila warna putih menutup seluruh warna merah yang pernah ada, maka seluruh tembok nampak putih – meskipun dahulunya penuh warna merah yang ceria. Ketika warna merah tidak cukup menyeluruh, maka tembok akan belang-belang dan dari sanalah muncul istilah suka duka.
Beberapa poin yang bisa memperbanyak warna merah dan syukur-syukur bisa menutupi belang-belang putih yang umumnya ada di rumah tangga antara lain adalah tujuh hal yang saya sebut ‘7 Bukan’ berikut.
Suasana Bukan Benda
Banyak keluarga suka memberi barang mahal untuk pasangannya, mereka mengira bahwa barang-barang atau kemewahan tersebutlah yang mendatangkan kebahagiaan. Karena kebahagiaan itu adanya di hati, maka dia tidak bisa disentuh dengan benda – dia dibangun dengan suasana.
Keramahan dan senyuman adalah gratis, tidak perlu biaya apapun untuk menghasilkannya. Mengapa tidak kita hadiahi pasangan kita banyak-banyak dengan hadiah gratisan tetapi sangat efektif untuk membangun kebahagiaan ini ?
Berbagi Bukan Memberi
Banyak orang berusaha memberikan kebahagiaan pada pasangannya, lama kelamaan dia cape dan berhenti. Konsep memberi adalah satu arah, maka dari sini kadang rasa cape itu muncul ketika yang memberi tidak merasa mendapatkan balasannya. Ketika yang satu sudah merasa memberi, kok tidak ada timbal balik dst.
Maka kebahagiaan itu untuk berbagi, bukan memberi. Kita membangun kebahagiaan untuk diri kita, dan bersamaan dengan itu kita berbagi dengan pasangan kita. Tidak ada beban untuk membangun kebahagiaan untuk diri sendiri, dan tidak berkurang kebahagiaan itu bila kita bagi bersama pasangan kita.
Kini Bukan Nanti
Banyak keluarga ‘menunda’ kebahagiaannya untuk nanti dengan mengorbankan waktu yang berharga kini. Nanti kalau sudah pensiun kita akan lebih sering bersama, nanti kalau anak-anak sudah besar kita berjalan-jalan berdua, nanti kalau sudah pindah rumah…, nanti kalau sudah beli mobil…dst.dst.
Kebahagiaan muncul dari kemampuan menikmati dan mensyukuri apa yang ada kini, apa yang bisa kita lakukan sekarang – bukan nanti.
Win-Win Bukan Menang-Menangan
Memang-menangan adalah ketika Anda dan pasangan Anda terus berusaha membuktikan diri siapa yang paling benar, siapa yang paling berjasa, siapa yang lebih berkuasa dst. Anda bisa menang dari pasangan Anda, tetapi keluarga Anda akan kalah dalam kedukaan – siapapun orangnya tidak mau dalam posisi kalah.
Anda bisa memperjuangkan prinsip atau keinginan Anda tanpa harus mengalahkan pasangan Anda, ini bisa dibangun bila apapun yang Anda perjuangkan itu adalah juga yang ingin diperjuangkan oleh pasangan Anda.
Kedepan Bukan Kebelakang
Bisa jadi di masa lampau Anda atau pasangan Anda pernah berbuat salah satu sama lain, pernah menyakiti satu sama lain. Ini bisa menjadi luka yang tidak tersembuhkan bila terus diingat dan dimunculkan dalam pertengkaran-pertengkaran.
Masa depan adalah kertas putih, Anda berdua belum mengotorinya. Maka inilah kesempatan untuk mengisinya berdua dengan pasangan Anda dengan sesuatu yang memang ingin Anda capai bersama.
Dibuang Bukan Dipendam
Masalah demi masalah dalam rumah tangga tentu itu hal yang wajar, tetapi masalah ini jangan dipendam. Bila masalah demi masalah hanya dipendam, maka tinggal menunggu waktu untuk meledak. Ledakan akumulasi masalah yang dipendam ini bisa sangat besar diluar kemampuan Anda untuk mengatasinya.
Yang bisa Anda lakukan adalah mengatasi/menghilangkan masalah itu sejak pertama kali muncul, ketika api itu masih kecil mudah dipadamkan.
Usaha Bukan Hasil
Banyak penyebab hilangnya kebahagiaan rumah tangga karena kegagalan mencapai sesuatu. Ketika ada anak bermasalah, menyalahkan istri. Ketika penghasilan suami kurang, istri menyalahkan suami dst.
Ini adalah karena orang pada umumnya menginginkan hasil tanpa memperhatikan proses atau usahanya. Bila Anda ingin anak Anda sukses, Anda harus lalui proses usahanya bersama pasangan Anda. Didik dia dengan sebaik mungkin, beri motivasi, dengarkan problemnya dst.
Bila penghasilan Anda dirasa tidak cukup untuk membiayai biaya hidup yang semakin mahal, maka berdua dengan pasangan Anda dapat membicarakannya, merencanakannya dan mengusahakannya bersama. Setelah usaha Anda maksimal, maka apapun hasilnya tidak terlalu penting lagi bagi Anda karena itu bukan domain Anda. Domain Anda adalah berusaha, domain Yang Maha Kuasa untuk menentukan hasilnya.
Setelah lapis demi lapis cat berwarna merah itu Anda laburkan ke tembok rumah tangga Anda, masihkan nampak bekas-bekas warna putihnya ?, insyaallah tidak lagi nampak. Wa Allahu A’lam.