Ketika membaca bagaiamana Luqman menasihati anaknya : " …Wahai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya)…”, mungkin tidak mudah bagi kita untuk langsung menangkap dampak dari perbuatan seberat biji sawi tersebut. Tetapi bagi yang mau menekuni pertanian, dampak yang luar biasa dari sebuah biji (apapun) ini akan lebih mudah dipahami. Bahkan problem yang sangat berat di dunia saat ini, yaitu krisis pangan yang bisa melanda lebih dari 1 milyar orang – insyaAllah bisa diatasi mulai dari biji-biji ini.
Sumber daya untuk menghasilkan bahan pangan sesungguhnya tersedia cukup, yang membuatnya ada lebih dari satu milyar tidak mendapatkan pangan yang cukup adalah masalah distribusi dari resources tersebut. Modernisasi dan urbanisasi membuat orang berbondong-bondong ke kota mengejar kemakmuran yang semu, sementara sumber-sumber kemakmuran yang sesungguhnya – yaitu ketersediaan bahan pangan yang cukup untuk semua – tidak mendapatkan perhatian dan resources yang seharusnya.
Waktu kecil dahulu – seperti ibu-ibu rumah tangga di desa pada umumnya – ibu saya mampu membuat tepung sendiri dari tanaman garut yang tumbuh di tegalan sekitar rumah, mampu menumbuhkan kecambah sendiri untuk kebutuhan sayur mayur yang sehat dlsb.dlsb. Adakah wanita-wanita desa sekarang masih melakukan hal ini ?, mungkin masih juga ada, namun jumlahnya pasti sudah banyak berkurang karena banyak yang memilih mencari penghasilan di kota-kota atau bahkan di luar negeri.
Intinya adalah kecintaan untuk menghasilkan sesuatu atau menumbuhkan sesuatu dari sumber daya yang ada di sekitar kita ini yang memudar, ekonomi yang berbasis produksi menyusut oleh dominasi ekonomi yang berbasis konsumsi – kita lebih menyukai yang mudah yaitu membeli saja – daripada menghasilkan sesuatu dari tangan sendiri.
Dampak dari sikap ini membuat kita memilih untuk mengimpor apa saja yang kita butuhkan dari tepung (gandum), daging, susu, kapas bahkan juga kadang harus impor beras dan garam. Bisa dibayangkan apa jadinya generasi keturunan-keturunan kita kedepan bila trend ini terus berlangsung ?, sekarang-pun sudah cukup buruk dan tentu kita tidak ingin anak cucu kita mengalami yang lebih buruk lagi.
Itulah nasihat Luqman dalam Al-Qur’an surat 31 ayat 16 tersebut diatas bisa menjadi inspirasinya. Perbuatan sekecil apapun yang kita lakukan saat ini akan ikut berperan dalam menghasilkan generasi yang akan datang. Bila kita cuek dengan masalah-masalah pangan dan produksi tersebut misalnya, maka generasi yang akan datang akan ikut menderita karenanya. Sebaliknya bila kita mulai berbuat sesuatu saat ini untuk merintis sumber-sumber pangan yang cukup, insyallah generasi yang akan datang akan ikut menikmati hasilnya.
Perbuatan sebesar biji ini kini secara harfiah benar-benar kita bisa mulai lakukan dan dapat kita lihat dampaknya insyaallah hanya dalam bilangan hari. Untuk exercises memulai perbuatan ‘sebesar biji’ ini saya gunakan biji yang sesungguhnya, saya pilihkan biji dari bapak segala tanaman yaitu biji Alfalfa yang sudah banyak saya tulis di situs ini.
Biji alfalfa ini beratnya hanya 0.0031 gram, kita tahu persis ini karena bener-bener kita timbang untuk keperluan perhitungan kebutuhan benih per hektarenya – bila hendak menanam secara luas. Bila biji ini kita tumbuhkan menjadi kecambah saja, dalam tiga sampai lima hari biji tersebut beratnya akan berlipat 10 – 15 kalinya. Dalam bentuk kecambah alfalfa, Anda kini sudah dapat memperolehnya di super market- super market terkenal di Jakarta. Tetapi ini bukan produksi kita, dari labelnya kita tahu ini impor dari Australia.

Mengapa sampai kecambah saja diimpor ?, karena ada pasarnya di sini, warga negara asing dan orang-prang kaya Jakarta yang tahu betul khasiat kecambah alfalfa ini – rela membayar mahal untuk membeli kecambah alfalfa impor ini. Dari sudut pandang investasi, pasar nampaknya ada dan bisa dikembangkan untuk kelompok masyarakat menengah dan seterusnya. Dari sudut value creation, bayangkan dengan hanya 3 – 5 hari kita bisa menghasilkan bahan makanan bergizi tinggi yang beratnya 10 – 15 kali asalnya, bukankah ini peluang ?.
Cara membuat kecambah alfalfa ini juga tidak sulit, Anda dapat pelajari dengan mudah kini karena ada youtube. Salah satunya adalah pada link yang saya berikan ini . Bila hendak produksi secara komersial tentu Anda bisa modifikasi prosesnya.
Bila Anda ada lahan yang cukup luas, ada peluang lain untuk ini. Anda bisa bekerjasama dengan kami untuk bertani alfalfa. Setelah berhasil dengan baik, hasilnya bisa kita pakai untuk pakan ternak bergizi tinggi yang akan menjadi cikal bakal kecukupan pangan khususnya daging di negeri ini.

Bila Anda termasuk orang yang bener-bener ingin berbuat, akhir pekan ini kami akan adakan acara Post I’tikaf Follow Through di Masjid Daarul Muttaqiin – Jonggol farm. Selain mengundang para peserta I’tikaf Ramadhan yang mendiskusikan alfalfa ini awalnya, peserta program Pesantren Wirausaha seluruh angkatan , kami juga memberi kesempatan masyarakat pembaca situs ini untuk bergabung – untuk yang terakhir ini perlu menyertakan CV atau latar belakang untuk data base kami. Selain lewat email, pendaftaran peserta juga dapat melalui join event yang kami cantumkan di facebook GeraiDinar.

Acara ini gratis, Anda hanya perlu membawa keperluan pribadi Anda dan utamanya sleeping bag karena kita akan tidur di masjid terbuka seperti waktu I’tikaf bulan Ramadhan kemarin. Konsumsi selama acara ini insyaallah disediakan panitia.
Acaranya sendiri mulai Sabtu malam (01/10) sampai Ahad siang (02/10) yang akan diisi antara lain dengan kajian ayat-ayat pilihan, sirah kejayaan Islam sampai panduan teknis bertanam alfalfa. Pada akhir acara kami juga akan bagikan benih alfalfa – agar kita bener-bener bisa mulai berbuat sesuatu, mulai dari biji alfalfa yang per bijinya seberat 0.0031 gram ini. Insyaallah.