Saya tidak kebayang bisa memperkenalkan Dinar secara efektif ke masyarakat luas dua puluh tahun lalu atau bahkan sepuluh tahun lalu. Seribu satu penjelasan perlu disampaikan ke masyarakat, dan seribu satu pertanyaan pula perlu dijawab. Dinar tidak seperti produk makanan yang hanya dengan mencium aromanya orang pingin mencicipi; atau seperti produk pakaian yang hanya dengan melihat modelnya orang ingin mencoba dan membelinya.
Dinar adalah produk berbasis pengetahuan, yang menjadi semakin menarik ketika orang semakin memahaminya. Di era teknologi informasi inilah produk-produk berbasis pengetahuan semacam Dinar ini memiliki peluang yang sangat baik untuk diterima dan digunakan di masyarakat.
Melalui teknologi informasi khususnya internet yang konon menurut data Menkoinfo jumlah penggunanya kini telah mencapai 45 juta orang di Indonesia, produk-produk berbasis pengetahuan tersebut akan dapat membangun ekonomi baru yang disebut knowledge economy atau knowledge-based economy. Yang pertama berarti pengetahuan sebagai product sedangkan yang kedua berarti pengetahuan sebagai alat – saya lebih suka menggunakan yang kedua yaitu pengetahuan sebagai alat atau knowledge-based economy untuk elaborasi tulisan ini dan penerapannya di lapangan.
Bahwasanya peluang di knowledge-based economy ini mencuat di beberapa tahun terakhir, karena adanya dorongan perkembangan teknologi informasi yang demikian pesatnya baik dari sisi aplikasi maupun penggunanya. Dorongan semacam ini belum muncul sampai sepuluh tahun lalu ketika pengguna internet di Indonesia baru berkisar di angka 2 jutaan.
Lantas apa bedanya ekonomi konvensional dengan ekonomi yang berbasis ilmu pengetahuan ini ?. Berikut adalah beberapa poin yang relevan untuk kita gunakan dalam aplikasi nantinya ;
· Dalam knowledge-based economy, faktor-faktor ekonominya tidak langka tetapi melimpah (abundance).
· Lokasi tidak lagi menjadi kendala, secara nasional maupun global – batasan negara tidak lagi kentara.
· Peraturan, hukum, per-pajak-an dan sejenisnya tidak akan menjadi penghalang karena pelaku ekonomi akan cair seperti air – mengalir ketempat yang rendah (yang mudah peraturannya, kondusif pajaknya, kooperatif aparatnya dlsb).
· Harga-harga akan adil dan lebih menyesuaikan mekanisme pasar. Yang terlalu murah akan bangkrut , yang mahal akan ditinggalkan pembeli.
· Human capital atau kompetensi SDM akan menjadi komponen utama yang akan membedakan pelaku yang sukses dan yang gagal.
Lantas bagaimana kita meng-aplikasikan keunggulan knowledge-based economy tersebut pada project-project economy yang kita bangun ?, berikut adalah salah satu contoh aplikasinya dalam project Pasar Madinah yang sudah saya perkenalkan dalam tiga tulisan sebelumnya.
Bila kita menerapkan pendekatan konvensional, maka untuk membangun Pasar Madinah secara fisik kita butuh lahan minimal 5 Ha (sama dengan perkiraan luasan Pasar Madinah yang dibangun Rasulullah Shallallahu ‘Alahi Wasallam 500 m x 100 m) di daerah yang mudah dijangkau dari mayoritas masyarakat. Bisa kebayang betapa mahalnya luasan area 5 Ha ini di Jabodetabek misalnya.
Meskipun area fisik ini terus kami upayakan untuk bisa diperoleh, Pasar Madinah dengan konsep knowledge-based economy akan bisa lahir lebih dahulu dengan bantuan teknologi informasi. Suatau pasar virtual yang menerapkan prinsip-prinsip "fala yuntaqashanna" , “fala yudhrabanna” dan pengelolaan pasar yang mengikuti ketentuan pengelolaan masjid.
Pasar yang sifatnya virtual ini, insyallah tidak akan mengalami kendala perijinan dlsb. karena di era otonomi daerah, industri kreatif akan mudah lahir di daerah-daerah yang aparat Pemda-nya kreatif pula. Dari interaksi saya dengan beberapa (aparat) Pemda misalnya, kabupaten Bogor, Tasikmalaya, Palembang dan Aceh adalah beberapa contoh yang menurut saya cukup responsive terhadap ide-ide kreatif.
Yang kita butuhkan sekarang tinggal beberapa SDM kreatif dan berdedikasi dari berbagai latar belakang IT, economy, syariah dan berbagai latar belakang lainnya yang bisa memberi nilai tambah dalam proses menghadirkan kempali Pasar Madinah di knowledge-based economy sambil juga terus mengupayakan Pasar Madinah secara fisik.
Bagi yang serius berminat untuk berkontribusi dalam membangun Pasar Madinah ini, silahkan bergabung di event Vision Sharing tanggal 25 September 2010 jam 10:00 di Citra Grand D 3 no 28 Cibubur. Cara bergabungnya sederhana, masuk ke entry event di facebook GeraiDinar, kemudian join di event tersebut. Bagi yang tidak familiar dengan event di facebook, dapat berkirim email ke kontak situs ini untuk mendaftarkan kehadiranya. Selain yang sifatnya individu, pimpinan perusahaan-perusahaan yang tertarik untuk berkembang di era konwledge-based economy bersama team kami, Anda juga dapat mengirimkan wakil perusahaan untuk bergabung di acara vision sharing tersebut.
Semoga Allah memudahkan kita pada amal shaleh yang diridloiNya.