Kelapa Dua Raya 189 Depok, Jawa Barat 16951 Indonesia
+(62) 856-93-010101 admin@geraidinar.com
Mon - Fri 8.30 - 16.00 National Holiday Closed

Drop-in biofuels adalah bahan bakar hydrocarbon - persis bahan bakar fosil yang kita pakai sekarang, hanya kita produksi dari minyak nabati/hewani atau biomasa. Dia pasti lebih bersih dari bahan bakar fosil karena emisi yang dikeluarkan saat pembakarannya ter-offset oleh CO2 semasa pertumbuhan tanamannya.

Bagaimana dia lebih cepat pengadaannya ketimbang pencarian sumber minyak baru misalnya? Perhatikan grafik di bawah. Sejak eksplorasi sampai benar-benar produksi, minyak bumi paling cepat bisa produksi 10 tahun. Minyak dari tamanu misalnya sudah bisa diproduksi masal dalam rentang waktu 4-7 tahun.

Lalu bagaimana dia bisa lebih murah? Dua faktornya, pertama dia bisa diproduksi dari tanaman yang ditanam di lokasi penggunanya, selain menekan biaya logistik juga jauh lebih rendah carbon footprint. Kedua adanya apa yang disebut Multiple Products Cost Sharing (MPCS), biaya produksi bahan bakar diserap bersama dengan produk-produk lain seperti Virgin Tamanu Oil (VTO) dan Polyphenols yang bernilai lebih tinggi untuk industri wellness dan farmasi.

Jadi kalau kita sudah tahu minyak kita akan habis, dan kita juga dalam komitmen global untuk mengurangi emisi bersama, bahan bakar apa yang mestinya menjadi top priority untuk dikembangkan? Menurut saya yang paling logis ya Drop-in biofuels ini. Apalagi lahannya ada, 14 juta hektar lahan kritis dan sangat kritis di 33 propinsi.

Dan ini bahkan bisa dikembangkan dalam skala mikro, komunitas yang peduli energi bersih, masyarakat pulau terpencil, project-project di remote area dlsb.