Ayat pendek di surat Ar- Rahman ayat 37 teks terjemahannya berbunyi : “Maka apabila langit terbelah dan menjadi merah mawar seperti minyak”, ayat ini diapit oleh dua ayat yang terjemahannya sama “Maka nikmat Rabbmu yang manakah yang kamu dustakan?”. Kita sering membacanya berulang-ulang, tetapi lebih banyaknya gagal memahami nikmat yang tersirat dari ayat tersebut. Bagaimana kita bisa tidak mendustakan nikmat-nikmat tersebut, kalau kita memahami nikmat yang dimaksud-pun tidak.
Ayat pendek di surat Ar- Rahman ayat 37 teks terjemahannya berbunyi : “Maka apabila langit terbelah dan menjadi merah mawar seperti minyak”, ayat ini diapit oleh dua ayat yang terjemahannya sama “Maka nikmat Rabbmu yang manakah yang kamu dustakan?”. Kita sering membacanya berulang-ulang, tetapi lebih banyaknya gagal memahami nikmat yang tersirat dari ayat tersebut. Bagaimana kita bisa tidak mendustakan nikmat-nikmat tersebut, kalau kita memahami nikmat yang dimaksud-pun tidak.
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini bercerita tentang akhir alam semesta ketika langit terbelah, alam semesta akan meleleh seperti bara yang sangat panas – seperti panasnya minyak yang dipanaskan. Penjelasan tafsir ini sangat valid karena dikuatkan oleh ayat lain yg senada yaitu : “Apabila langit terbelah” (QS 84:1).
Nikmat apa yang tersirat dari berita kedasyatan akhir jaman ini ? Antara lain ya nikmat Iman itu sendiri, kita mendapatkan berita masa depan tentang hari akhir dan mengimani-nya – itulah nikmat yang tiada duanya.
Tetapi mengapa Allah memberikan gambaran yang sangat indah tentang mawar merah yang merekah, mengkilat seperti minyak – untuk sesuatu yang sebenarnya sangat dasyat tentang berakhirnya alam semesta ini ? Wa Allahu A’lam – hanya Allah yang tahu maksudnya.
Yang jelas seperti yang dijanjikan oleh Allah bahwa : “…Tiadalah Kami luput sesuatu pun di dalam Al Kitab…(Al-Qur’an)” (QS 6:38), penyebutan “…bunga mawar merah seperti minyak…” dalam ayat tersebut pasti memberi pelajaran tersendiri bagi yang mau mentadaburinya.
Dan di akhir Ramadhan ini Alhamdulillah kami diberi kesempatan olehNya untuk mentadaburi ayat ini sampai ujung peradaban manusia tertinggi hingga saat ini - yang berusaha memahami minyak dari mawar merah ini.
Sejak abad lalu ketika seorang Amerika yang bernama Francis D. Dodge merasa puas telah menemukan zat yang katanya berbau seperti mawar yang disebut Citronellol – zat yang diambil dari Citronella, tidak henti-hentinya para ilmuwan menemukan tandingannya – yang dianggap lebih baik atau lebih mendekati lagi.
Hingga kini sudah ditemukan ratusan molekul aroma (odor molecule) yang dianggap merepresentasikan aroma mawar – hasil kerja keras para ilmuwan berpuluh tahun silih berganti. Puluhan diantaranya saya list dibawah lengkap dengan referensinya – bila diklik akan ada penjelasan apa dari mana dlsb. sbb:
citronellol, geraniol, nerol, linalool, phenyl ethyl alcohol, farnesol, stearoptene, α-pinene, β-pinene, α-terpinene, limonene, p-cymene,camphene, β-caryophyllene, neral, citronellyl acetate, geranyl acetate, neryl acetate, eugenol, methyl eugenol, rose oxide, α-damascenone, β-damascenone, benzaldehyde, benzyl alcohol, rhodinyl acetate and phenyl ethyl formate.
Tetapi apakah zat-zat tersebut secara sendiri-sendiri maupun secara bersama-sama bisa menghasilkan aroma mawar yang sesungguhnya ? Ternyata tidak.
Instrumen kecil di atas lubang hidung kita yang menjadi sensor bau-bauan – yaitu syarat-syaraf olfactory kita, bila dilatih akan mampu dengan mudah membedakan ratusan temuan para ilmuwan tersebut dengan aroma mawar yang asli.
Di tempat saya memahami karakter mawar ini di Grasse – kota kecil di selatan Perancis – saya menemukan standar mahasiswa/wi magang di industri parfume-pun sudah bisa membedakan 500-an bau-bauan, yang asli maupun yang sintetis. Guru mereka rata-rata bisa membedakan 3,000-an jenis bau-bauan.
Jadi sudah ketemukah nikmat yang kita dustakan ? Nikmatnya ciptaan Allah yang ada di indera penciuman kita yang tidak tertandingi oleh computer secanggih apapun. Nikmatnya ciptaan Allah yang melekat di bunga mawar ( dan juga bunga-bungaan lainnya), yang ternyata tidak bisa ditandingi oleh karya ratusan ilmuwan yang paling pinter sekalipun.
Juga nikmatnya ilmu yang melampaui jamannya ketika suatu ilmu itu diinpirasi oleh petunjuk Al-Qur’an. Para guru dan para magang di pusat industri minyak wanginya Perancis di Grasse (kota ini sering disebut ibukota minyak wangi dunia) ini setengah tidak percaya ketika saya sampaikan bahwa team startup kami di Huurun Project mungkin akan perlu waktu untuk sampai secanggih mereka dalam membedakan ribuan bau-bauan.
Tetapi kami punya teknologi yang bahkan orang awam sekalipun akan bisa membedakan masing-masing bau-bauan yang asli maupun bau-bauan yang sintetis. Orang awam bahkan akan bisa menggambar secara visual seperti apa bau-bauan tertentu itu.
Teknologi yang kami sebut scentsight ini adalah teknologi untuk membuat sesuatu yang intangible menjadi tangible, yaitu teknologi untuk penampakan bau atau aroma – yang semula hanya bisa dicium dengan hidung – kini seolah terlihat oleh mata !
Mereka heran bagiaman orang seperti kita – yang bukan ahli di bidang wewangian – tiba-tiba bisa bisa berfikir seperti ini ? itulah nikmat ilmu yang sejak dahulu dinikmati oleh ulama-ulama kita. Ketika kita menggunakan Al-Qur’an sebagai inspirasi dan sumber ilmu, maka ilmu kita menjadi tidak berbatas fakultas atau tempat kita berguru menuntut ilmu.
Karena ilmu itu diberikan langsung oleh Allah kepada orang yang bertakwa : “…bertakwalah kepada Allah, Allah akan memberimu Ilmu…” (QS 2:282). Allah juga memberi kita jalan untuk menjadi ahli yang bener-bener menguasai inti persoalan segala sesuatu atau yang disebut ulil albab, dengan cara terus mengingatNya dan tidak berhenti memikirkan ciptaanNya (QS 3:190-191). Bahkan lebih dari llmu itu sendiri – beyond knowledge – Allah juga memberi hikmah bagi yang dikehendakinya (QS 2:269).
Tetapi penjelasan ilahiah – divine explanation – seperti ini tentu tidak mudah diterima oleh para ilmuwan yang tidak beriman, maka saya mudahkan mereka memahami dengan bahasa mereka – yaitu menggunakan lompatan teknologi yang kami sebut scentsight tersebut di atas.

Gambar dibawah adalah dua parfum dengan aroma mawar yang satu saya buat dari 9 jenis minyak atsiri alami, yang satu saya buat dari 9 zat sintetis yang oleh para penemunya disebut merepresentasikan aroma mawar.
Secara umum kita akan menciuma aroma yang kurang lebin sama, tetapi para ahli penciuman akan bisa membedakannya. Aroma mawar yang dibuat dari 9 minyak atsiri alami akan seperi kita mencium aroma mawar di tempat tumbuhnya, ada bau tangkainya- daunnya bahkan bau tanah tempat tumbuhnya.
Mawar yang dibuat dari melekul sintetis – sangat kuat menyengat – tetapi tidak dalam. Aromanya cenderung monoton, sebanyak apapun zat yang kita campurkan , tidak akan pernah seperti mawar yang asli yang tumbuh di alam.
Lebih dari sekedar bau adalah dampaknya pada kesehatan, menghirup mawar yang asli akan membuat orang merasa sejahtera, hilang kegalauan, hilang stress dan berbagai penyakit lain yang di-trigger dari otak kita. Mencium aroma mawar tiruan, orang justru bisa terkena segala macam penyakit yang di-trigger dari alembic system di otaknya – karena dia memasukkan unsur-unsur petroleum – bahan baku bebauan sintetis ke otak mereka.
Jadi dengan mentadaburi ayat tentang mawar saja kita bisa mensyukuri ciptaanNya yang sangat canggih yang ada di hidung kita, sekaligus juga ciptaanNya yang tidak bisa ditiru oleh ilmuwan siapapun – untuk heharuman yang sangat kaya – yang kini paling banyak dicari manusia di dunia – yaitu heharuman mawar.
Maka nikmat Rabbmu yang mana (lagi) yang engkau dustakan ?