Kelapa Dua Raya 189 Depok, Jawa Barat 16951 Indonesia
+(62) 856-93-010101 admin@geraidinar.com
Mon - Fri 8.30 - 16.00 National Holiday Closed

Tahun 2013 ini oleh Sidang Umum PBB dideklarasikan sebagai "Tahun Internasional Untuk Quinoa”. Ini adalah untuk menekankan pentingnya introduksi bahan pangan baru yang semula berasal dari  negeri-negeri di pegunungan Andes utamanya Peru dan Bolivia. Bisa jadi Quinoa ini juga akan segera melengkapi bahan pangan introduksi baru bagi penduduk negeri ini – yang semula bukan tanaman asli kita.

Tahun 2013 ini oleh Sidang Umum PBB dideklarasikan sebagai "Tahun Internasional Untuk Quinoa”. Ini adalah untuk menekankan pentingnya introduksi bahan pangan baru yang semula berasal dari  negeri-negeri di pegunungan Andes utamanya Peru dan Bolivia. Bisa jadi Quinoa ini juga akan segera melengkapi bahan pangan introduksi baru bagi penduduk negeri ini – yang semula bukan tanaman asli kita.

 

Jauh sebelumnya kita mengira jagung adalah makanan pokok saudara kita di Madura, dan singkong adalah makanan saudara kita lainnya di Gunung Kidul. Padahal sebenarnya jagung, singkong, ubi jalar, garut dlsb. adalah juga tanaman introduksi yang dibawa oleh Portugis dan Belanda ke negeri ini sekian abad yang lampau.

 

Demikian pula sawit yang beberapa butirnya dibawa Belanda dari Afrika Barat, kini telah menjadikan Indonesia produsen terbesarnya bagi dunia. Hal ini biasa dalam perjalanan produksi hasil pertanian dunia,  produsen utamanyaa tidak harus negeri asalnya.

 

Kita mengenal Spanyol sebagai produsen minyak zaitun terbesar dunia kini, dan Amerika adalah produsen terbesar untuk alfalfa dunia – padahal Spanyol belum mengenal zaitun sebelum Tariq bin Ziyad menaklukkan negeri itu di awal abad ke 8 masehi. Demikian pula benua  Amerika baru mengenal alfalfa 8 abad setelah tanaman ini diperkenalkan oleh pasukannya Tariq bin Ziyad - setelah mereka menguasai negeri Spanyol.

 

Bahwa asal suatu tanaman tidak lagi terlalu penting, tetapi yang lebih penting adalah apakah tanaman itu cocok untuk negeri kita dan apakah akan bisa kita produksi secara cukup untuk memenuhi kebutuhan bahan pangan kita kedepan.

 

Upaya menemukan kombinasi bahan-bahan makanan yang bisa diproduksi secara cukup di negeri ini, menjadi sangat-sangat penting karena ada trend yang memburuk dalam hal pemenuhan kebutuhan bahan makanan kita selama lebih dari setengah abad terakhir.

 

Perhatikan grafik dibawah, trend impor yang terus meningkat untuk bahan pangan kita utamanya adalah gandum dan kedelai. Gandum aslinya bukan makanan pokok kita tetapi kini terlanjur menjadi ‘ bahan makanan pokok’ dalam berbagai bentuknya, padahal kita tidak bisa memproduksinya sama sekali. Sementara kedelai yang merupakan bahan untuk lauk-pauk utama kita, kebutuhannya terus meningkat sementara produksinya semakin tertinggal.

 

 

Maka dengan prakarsa PBB untuk memperkenalkan Quinoa ( Chenopodium quinoa) keseluruh dunia, perlu juga diantisipasi oleh praktisi pertanian dan juga ekonomi Indonesia. Tanaman yang konon bisa tumbuh dari ketinggian 0 sampai 4,000 dpl, dari suhu – 4 sampai + 35 derajat celcius ini, memang bisa jadi akan cocok di Indonesia.

 

Tanaman yang bisa menjadi pengganti beras untuk nasi ini konon juga kaya akan  asam amino esensial dan vitamin, mengandung cukup karbohidrat sekaligus protein. Itulah mengapa PBB getol meng-internasionalisasi tanaman ini ke masyarakat dunia sebgain bagian dari keamanan pangan bagi dunia kedepan.

 

Tidak ada salahnya bila ini memang baik, tetapi yang lebih penting adalah jangan sampai kita hanya menjadi konsumen nantinya sementara kita tidak memproduksinya sama sekali seperti gandum, atau memproduksinya tetapi kalah dengan tingkat konsumsinya seperti pada kasus kedelai.

 

Dari sudut pandang petunjuk kita di Al-Qur’an, Quinoa masuk dalam kategori jenis tanaman yang disebut secara generik – biji-bijian. Menurt Ibnu Katsir bila ada yang disebut secara specifik di antara yang  generik, maka yang specifik itu yang lebih dipentingkan.

 

Misalnya dalam ayat  Di dalam kedua surga itu ada buah-buahan, kurma dan delima” (QS 55:68), kurma dan delima sebenarnya juga sudah tercakup dalam istilah generik buah-buahan, tetapi karena keduanya disebut secara spesifik – maka keduanya diunggulkan atau dipentingkan diantara buah-buahan yang lain.

 

Dengan pola pemahaman demikian insyaAllah kita akan bisa lebih efektif dalam mengembangkan apa-apa yang harus kita pentingkan dalam memenuhi kebutuhan pangan kita itu. Dalam rangkaian ayat lain, petunjuk itu begitu jelas, dimulai dari “Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya” (QS 80 :24), kemudian berturut-turut Allah menyebutkan biji-bijian (QS 80:27) , anggur dan tanaman bergizi tinggi (QS  80:28), zaitun dan kurma (QS  80:29), tanamn semak, buah-buan dan rumput-rumputan (QS 80 : 30-31).

 

Kemudian rangkain ayat-ayat tentang makanan ini ditutup dengan “(Semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk hewan-hewan ternakmu” (QS 80:32). Dari sini kita bisa melihat betapa komprehensif-nya petunjukNya itu, selain kita mengurusi makanan kita secara langsung, kita juga harus memikirkan makanan untuk ternak-ternak kita – karena dari ternak inilah kita juga akan memperoleh bagian sangat penting dari manakan kita  yaitu sumber protein utama.

 

Ketika kita lalai memperhatikan makanan ternak kita, itulah yang kita hadapi di negeri ini sekarang. Kita tidak bisa memproduksi daging  dan susu yang cukup, kalau toh digenjot produksinya akan melonjakkan impor bahan pakan ternak seperti jagung dan juga sebagian kedelai.

 

Jadi kalau toh PBB getol memperkenalkan Quinoa bagi warga dunia, tidak ada salahnya kita sambut – tetapi mestinya tidak lebih dari penyambutan introduksi yang lebih komprehensif, lebih jelas dan berlaku sepanjang jaman di seluruh belahan dunia – yaitu introduksi tanaman-tanaman Al-Qur’an, dari sinilah muncul konsep kita tentang Kebun-Kebun Al-Qur’an – bukan  Kebun Quinoa ! InsyaAllah