Menurut World Health Organization (WHO) pada tahun 2000 lalu penderita diabetis di Indonesia telah mencapai 8,426,000 jiwa dan diperkirakan akan menjadi 21,257,000 jiwa pada tahun 2030. Bila trend tersebut dianggap linier, maka saat ini kemungkinan sudah mencapai sekitar 13.5 juta orang penderita diabetis di negeri ini. Bagaimana kita bisa membantu puluhan juta orang penderita diabetis ini mengatasi masalahnya ?, saya melihat salah satunya adalah menggunakan solusi social media.
Menurut World Health Organization (WHO) pada tahun 2000 lalu penderita diabetis di Indonesia telah mencapai 8,426,000 jiwa dan diperkirakan akan menjadi 21,257,000 jiwa pada tahun 2030. Bila trend tersebut dianggap linier, maka saat ini kemungkinan sudah mencapai sekitar 13.5 juta orang penderita diabetis di negeri ini. Bagaimana kita bisa membantu puluhan juta orang penderita diabetis ini mengatasi masalahnya ?, saya melihat salah satunya adalah menggunakan solusi social media.
Terlepas dari banyaknya dampak miring dari maraknya social media, sesungguhnya kita bisa mengambil sisi positifnya untuk mengatasi problem-problem yang meluas di masyarakat. Salah satunya sebagai contoh kasus penderita diabetis ini. Bagaimana cara kerjanya ?.
Selain pengobatan dengan berbagai obat-obat modern, tibbun nabawi, pengobatan tradisionil dlsb. ; tidak kalah pentingnya adalah diet makanan yang rendah karbohidtrat dan rendah gula. Beras, terigu dan gula yang merupakan komponen makanan sehari-hari bagi masyarakat pada umumnya, menjadi bahan yang berbahaya bagi para penderita diabetis – bila konsumsinya tidak dikendalikan.
Lantas apa hubungannya ini dengan social media ?, sejak saya me-release gambar-gambar gembili di bulan Ramadhan lalu misalnya, banyak sekali yang meresponnya dan memberi berbagai tambahan informasi dan ilmu yang sangat bermanfaat untuk para penderita diabetis.
Gembili (Dioscorea esculanta) merupakan salah satu varietas dari jenis uwi-uwian (Dioscorea spp.) yang mengandung kadar inulin paling tinggi yaitu sekitar 14.5 %.
Tetapi apa inulin ini ?, kontak kita yang lain di social media menjelaskan : “inulin adalah jenis fruktan yang digunakan tanaman untuk menyimpan energy, umumnya di akar atau rizhoma. Inulin dapat digunakan sebagai pengganti gula, lemak dan tepung sekaligus. Karena inulin hanya mengandung 25%-35% dibandingkan dengan karbohidrat, maka mengkonsumsinya jauh lebih aman bagi penderita diabetis ketimbang mengkonsumsi karbohidrat dari beras, terigu, gula dlsb.”
Lantas bagaimana kita bisa mengambil inulin ini dari gembili ? , teman-teman di perguruan tinggi memberi jawaban : “Sudah berbagai proses dicoba, sebagiannya lebih ekonomis ketimbang yang lain – silahkan Anda datang ke lab kami untuk memilih yang mana !”.
Sampai disini dengan menggunakan social media kita bisa tahu apa yang ada di dalam gembili, apa manfaatnya, bagaimana mengolahnya dan lab-lab mana yang siap digunakan untuk exercise lebih lanjut.
Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana kita memproduksi gembili dalam skala besar ?, Karena gembili bisa tumbuh diantara kerindangan pohon – maka di kebun-kebun kami yang sudah ada tanamannya sengon dlsb. – bisa ditumbuhkan gembili dibawahnya. Exercise kami untuk beberapa hektar lahan sudah mulai menunjukkan pertumbuhan yang baik setelah beberapa kali hujan turun di Jonggol.
Bibit dalam skala besar-pun kini tengah kami coba kembangkan melalui tektik kultur jaringan, mudah-mudahan segera memberikan hasil. Di mana bibit-bibit ini nantinya akan ditanam ?. Selain di kebun-kebun yang kami kelola dan kebun-kebun KKP, bibit-bibit ini juga nantinya bisa menyebar ke masyarakat luas untuk ditanam di pekarangan-pekarangan mereka – ya antara lain lagi-lagi menggunakan social media untuk penyebaran informasinya.
Setelah gembili bisa dipanen, tepung gembili bisa dibuat atau bahkan inulin juga sudah diproduksi, lantas untuk apa ?. Karena berdasarkan informasi tersebut di atas inulin dapat digunakan sebagai pengganti gula, lemak maupun tepung – maka kita bisa buat makanan jenis apa saja yang berbasis tepung gembili dan inulin ini.
Melalui social media pula, kami tersambung dengan tokoh per-roti-an Indonesia yang sudah sejak beberapa pekan ini berbagi ilmunya dengan kami. Lab kecil untuk exercise berbagai jenis roti dengan berbagai bahan telah membantu kami memahami seluk beluk per-roti-an ini. Dari permesinan, pengetahuan bahan sampai proses.
Tetapi karena kebanyakan kita di Indonesia ini kan makannya nasi, belum tentu cocok dengan makanan-makanan seperti roti dlsb. bagaimana merespon ini ?. Teman peneliti yang lain segera menjawab : “Oh tidak masalah itu, insyaallah tepung gembili bisa dibuat menjadi bahan untuk beras analog – sehingga yang terbiasa makan nasi – tetap makan nasi, tetapi kalorinya jauh lebih rendah karena terbuat dari gembili !”.
Bila waktunya roti-roti dan berbagai makanan berbahan dasar gembili yang rendah kalori dan mengandung inulin ini bener-bener siap, bagaimana dipasarkan ?. Sekelompok anak-anak muda telah datang kepada kami dengan proposalnya yang luar biasa.
Dengan aplikasi social media yang mereka kembangkan, bukan hanya jaringan penjaja makanan rendah kalori berbasis gembili yang bisa sangat variatif ini mudah diketahui keberadaannya oleh para pengguna – tetapi juga sebagai bonus di hp-hp pengguna akan bisa memonitor konsumsi kalori mereka setiap saat.
Masih ada lagi satu kendala yaitu bagaimana makanan-makanan ini nantinya bisa dikirim tepat waktu ke masyarakat yang membutuhkannya ?. Untuk inilah system per-ojek-an berbasis social media juga, sejak pekan lalu kami tawarkan ke para mobile developer untuk menjadi mitra pengembangan kami dalam project O-JEX (www.o-jex.com).
Selain bersinergi sebagai provider untuk delivery services project gembili, O-JEX tentu juga akan bisa menjadi profit center tersendiri untuk system layanan transportasi barang dan manusia yang berbasis social media.
Dari keseluruhan rangkain di atas, mulai dari bagaimana ide gembili digagas, dilengkapi, disempurnakan, dicoba, dikembangkan sampai nantinya diimplementasikan, diproduksi dan dipasarkan – teknologi social media menjadi sarana penunjangnya yang berperan sangat penting dalam mengakselerasi proses industrialisasi gembili ini.
Pendekatan yang kurang lebih sama dengan menggunakan sarana penunjang yang sama – yaitu social media, insyaallah juga dapat Anda gunakan untuk mengakselerasi implementasi dari gagasan-gagasan besar Anda. InsyaAllah.