Article Categories

Gerai Dinar

Sumber Daya Bebas Bea Untuk Pendidikan, Pelatihan dan Pendampingan Usaha dan Kewirausahaan.
Selasa, 15 Oktober 2019

Umum

Dicari : Solusi Ekonomi Yang Tidak Mengandalkan Hutang…

Debt

Allahumma innii a’udzubika minal hammi wal khazan, wa a’udzubika minal ‘adzji wal kasal, wa a’udzubika minal jubni wal bukhl, wa a’udzubika min ghalabati al-daini wa khohri al rijaal.

 

“Ya Allah saya bersungguh-sungguh berlindung kepadaMu dari rasa susah dan sedih, dan aku berlindung kepadaMu dari rasa lemah dan malas, dan aku berlindung kepadamu dari sifat pengecut dan kikir, dan aku berlindung kepadamu dari lilitan hutang dan tekanan orang lain.”

 

Kalau saja hutang itu baik untuk membangun negeri, mungkin kita tidak diajari oleh Usmatun Hasanah kita untuk berlindung dari lilitan hutang seperdi do’a yang matsur (dicontohkan) tersebut diatas setiap pagi dan petang. Tetapi karena hutang ini bisa melilit kita dan membuat kita terjebak dalam tekanan orang lain, maka penting sekali bagi kita untuk berlindung dari hutang ini.

 

Sepuluh tahun lalu ekonomi negeri ini porak poranda sampai uang kita tinggal bernilai seperempatnya, antara lain penyebabnya adalah gedenya hutang luar negeri kita. Kebutuhan akan Dollar yang begitu tinggi dibandingkan dengan kemampuan kita untuk menghasilkan Dollar telah menyebabkan mata uang Dollar naik lebih dari empat kali lipat selama krisis.

 

Kini kesalahan yang sama terulang – seolah kita begitu mudah melupakan kesalahan sebelumnya. Kalau keledai saja tidak terperosok dalam lubang yang sama dua kali, kita bisa terperosok ke lubang yang sama berulang-ulang.

 

Prihatin saya membaca berita di Republika hari ini yang mengungkap hutang korporasi kita telah mencapai kisaran US$ 50 – 60 milyar, sedikit saja dibawah hutang negara yang mencapai US$ 62 milyar.  Yang lebih menyedihkan lagi adalah jumlah hutang yang akan jatuh tempo tahun ini saja akan mencapai US$ 17.4 Milyar, jumlah yang berpotensi untuk menggerus cadangan devisa kita yang per maret hanya US$ 53.7 Milyar.

 

Read more...

Quantitative Easing : Cara Baru Bank-Bank Sentral Dunia Mencetak Uang…

magic

Dalam tulisan saya tanggal 12 Desember 2008 lalu saya mengutip pendapat Ibnu Taimiyyah tentang bagaimana seharusnya penguasa negeri mencetak fulus : “Jumlah fulus ( uang yang lebih rendah dari Dinar dan Dirham seperti tembaga) hanya boleh dicetak secara proporsional terhadap jumlah transaksi sedemikian rupa sehingga terjamin harga yang adil. Penguasa tidak boleh mencetak fulus berlebihan yang merugikan masyarakat karena rusaknya daya beli fulus yang sudah ada di mereka”.

Andai saja pemikiran Ibnu Taimiyyah tersebut dijadikan rujukan oleh para pemegang otoritas moneter dan keuangan dunia; Insyaallah berbagai krisis yang mendera umat seluruh dunia ini tidak akan terjadi.

Karena kesombongan manusia, mereka enggan mencari petunjuk yang benar – alih-alih belajar dari kekeliruan sebelumnya – mereka malah membenamkan umat manusia ke potensi krisis yang lebih besar lagi.

Saya ambilkan bukti nyatanya dari apa yang dilakukan oleh pemerintah Inggris akhir-akhir ini.

Ketika upaya penyelamatan ekonomi melalui pengendalian suku bunga yang saat ini sudah mencapai 0.5% - terendah dalam 315 tahun terakhir ! – dirasa belum juga menyembuhkan krisis yang ada, mereka mulai mencari akal (-akal-an) untuk memoles ekonomi mereka.

Read more...

Raksasa-Raksasa Yang Berguguran…

wtc

Sinyal belum beresnya system keuangan ribawi di dunia masih terus bermunculan dari hari ke hari. Pasar saham dunia semalam ditutup dengan penurunan yang sangat tajam, DOW turun 4 % menjadi 6763.29 yaitu terendah sejak 12 tahun terakhir.

 

Harga minyak dunia juga turun lebih dari 10 % dipicu oleh kekawatiran memburuknya ekonomi sehingga konsumsi bahan bakar akan turun. Harga emas-pun turun tetapi tidak sebesar penurunan harga minyak dan komoditi lainnya.

 

Yang lebih menghebohkan lagi di berita-berita finansial kemarin adalah diumumkannya kerugian AIG – raksasa asuransi dunia – sebesar US$ 61.7 Milyar, suatu angka kerugian korporasi terbesar sepanjang sejarah Amerika.

 

Bukan hanya kerugian yang selangit ini yang bikin heboh, tetapi juga AIG dituntut oleh mantan salah satu  direksi yang juga pemegang sahamnya yaitu Maurice Greenberg. Greenberg menuduh manajemen AIG menutupi kondisi keuangan yang sebenarnya sehingga pemegang saham terbujuk untuk membeli saham tambahan dalam deferred compensation plans. Para pemegang saham ini akhirnya kehilangan seluruh investasinya di AIG setelah kerugian raksasa tersebut terungkap.

 

Bersamaan dengan hebohnya kerugian AIG; ‘dewa’-nya investasi Amerika Warren Buffet juga membuat heboh pasar investasi dengan surat terbuka ke para pemegang sahamnya. Di antara isi surat terbuka tersebut Buffet mengakui bahwa dirinya telah membuat beberapa langkah bodoh sehingga keuntungan kelompok usaha yang dipimpinnya anjlog 96 % dari tahun sebelumnya.

 

Read more...

Kapitalisme Ribawi Yang Memakan Dirinya Sendiri…

Credit Crunch

Ada cerita menarik dari Danah Zohar dalam bukunya yang best seller di seluruh dunia Spiritual Capital,  yang sangat relevan dengan krisis financial yang melanda dunia saat ini.

 

Cerita ini sendiri berasal dari Mythology Yunani kuno tentang seorang tukang kayu yang kaya namun sangat serakah bernama Erisychthon. Saking serakahnya, si tukang kayu bahkan berani menebang pohon kesayangan dewa mereka – dimana rakyat Yunani biasa ‘beribadah’ di sekitar pohon tersebut.

 

Konon sang ‘dewa’ sangat marah atas ditebangnya pohon tersebut, dan dikutuklah Erisychthon untuk tidak pernah kenyang walau apapun telah dimakannya. Maka mulailah Erisychthon memakan apapun yang dijumpainya, toko dan isinya dimakan sampai habis, setelah itu keluarganya juga dimakan sampai habis – sampai tinggal satu-satunya yang ada di sekitar dia, yaitu dirinya sendiri. Karena rasa lapar yang tidak pernah bisa terkenyangkan – maka akhirnya Erisychthon-pun memakan dirinya sendiri.

 

Betapapun tidak masuk akalnya cerita tersebut, tetapi nampaknya realita yang tidak jauh berbeda sesungguhnya terjadi di dunia financial ribawi jaman modern, sehingga menimbulkan krisis di seluruh dunia sampai saat ini.

 

Read more...

Dengan Dinar Kita Bisa Beli Saham Perusahaan Lebih Banyak...

dgrDalam blog saya yang lama www.geraidinar.com/old.php beberapa kali sepanjang tahun lalu saya menulis tentang Dow Gold Ratio (DGR) yang mengungkapkan perbandingan antara Dow Jones Insustrial Average dengan harga emas dunia dalam US$/oz.

Secara real-time DGR ini kita sajikan sebagai salah satu indicator di dashboard GeraiDinar.com. Saya sempatkan menengok ke dashboard tersebut pada saat menulis artikel ini dan nampak DGR berada pada angka 8.77.

Apa artinya angka ini ?, saat ini saham-saham di seluruh dunia menjadi sangat-sangat murah bila dibeli dengan emas atau Dinar kita. Bayangkan sepuluh tahun lalu DGR ini menunjukkan angka di kisaran 42.5.

Jadi secara rata-rata dengan uang Dinar yang sama Anda dapat membeli saham 4 - 5 kali lebih banyak sekarang dibandingkan dengan saham yang sama tahun 1999. Lantas sekarang apakah waktu yang baik untuk membeli saham karena harganya murah ?. Tidak juga, karena lihat trend sepuluh tahun dari grafik tersebut diatas - DGR masih terus menurun secara tajam.

Read more...