Article Categories

Gerai Dinar

Sumber Daya Bebas Bea Untuk Pendidikan, Pelatihan dan Pendampingan Usaha dan Kewirausahaan.
Senin, 24 Februari 2020

Umum

Negara-Negara Yang Merampok Bangsanya Sendiri…

Gold Finger Robbery

Bagi para penggemar film tentu ingat film James Bond tahun 60-an yang sampai sekarang tetap bisa diperoleh CD atau DVD-nya yaitu Goldfinger. Dalam film tersebut digambarkan bagaimana si tokoh jahat – Goldfinger – merancang sebuah perampokan raksasa dengan tidak memindahkan sedikitpun barang yang dirampoknya.

 

Yang dilakukan Goldfinger adalah meledakkan senjata nuklir di pusat penyimpanan cadangan emas Amerika yaitu Fort Knox. Dengan ledakan ini cadangan emas Amerika akan tercemari radio active sehingga tidak bisa disentuh dalam puluhan tahun.

 

Akibatnya pasar emas dunia akan kehilangan stok secara sangat significant dan harga akan naik minimal 10 kalinya. Goldfinger yang sebelum merampok telah mendepositokan emas senilai 20 juta Pounsterling, akan dengan mudah meraup keuntungan sebesar 180 juta Pounsterling atau US$ 504 juta pada kurs tahun 1964 yaitu 1 Poundsterling = US$ 2.8.

 

Read more...

Bila Anda Ingin Mengubah Dunia…

Change

Hari ini adalah hari-H, hari dimana hati para caleg Dag-Dig-Dug menunggu hasil pemilu yang diadakan serentak di seluruh negeri. Karena untuk DPR RI saja hanya ada 560 kursi yang diperebutkan oleh 11,219 caleg; maka kurang dari 5% caleg yang akan gembira hatinya karena terpilih. Sebaliknya lebih dari 95%nya akan kecewa.

 

Bagi yang terpilih, ingat-lah janji-janji Anda terhadap para rakyat pemilih, Ingatlah janji Anda untuk membuat perubahan di negeri yang terpuruk dengan berbagai macam krisis dan bencana ini. Jangan sampai Anda membawa penyesalan di akhir hayat Anda, mumpung Anda masih diberi kesempatan  - belajarlah dari penyesalan yang tertulis di batu nisan seorang penulis berikut:

 

"Ketika aku muda, aku ingin mengubah seluruh dunia. Lalu aku sadari, betapa sulit mengubah seluruh dunia ini, lalu aku putuskan untuk mengubah negeriku saja.

 

Ketika aku sadari bahwa aku tidak bisa mengubah negeriku, aku mulai berusaha mengubah masyarakatku. Ketika aku semakin tua, aku sadari tidak mudah mengubah masyarakatku, maka aku mulai berusaha mengubah keluargaku. Kemudian akupun sadar aku semakin renta, aku juga tak bisa mengubah keluargaku.

 

Ketika waktuku sudah hampir habis, aku menyesal ternyata satu-satunya yang bisa aku ubah adalah diriku sendiri. Bila saja aku bisa mengubah diriku sejak dahulu, aku pasti bisa mengubah keluargaku kemudian masyarakatku. Pada akhirnya aku akan mengubah negeriku dan setelah itu aku pun bisa mengubah seluruh dunia ini."

 

Read more...

Quantitative Easing : Cara Baru Bank-Bank Sentral Dunia Mencetak Uang…

magic

Dalam tulisan saya tanggal 12 Desember 2008 lalu saya mengutip pendapat Ibnu Taimiyyah tentang bagaimana seharusnya penguasa negeri mencetak fulus : “Jumlah fulus ( uang yang lebih rendah dari Dinar dan Dirham seperti tembaga) hanya boleh dicetak secara proporsional terhadap jumlah transaksi sedemikian rupa sehingga terjamin harga yang adil. Penguasa tidak boleh mencetak fulus berlebihan yang merugikan masyarakat karena rusaknya daya beli fulus yang sudah ada di mereka”.

Andai saja pemikiran Ibnu Taimiyyah tersebut dijadikan rujukan oleh para pemegang otoritas moneter dan keuangan dunia; Insyaallah berbagai krisis yang mendera umat seluruh dunia ini tidak akan terjadi.

Karena kesombongan manusia, mereka enggan mencari petunjuk yang benar – alih-alih belajar dari kekeliruan sebelumnya – mereka malah membenamkan umat manusia ke potensi krisis yang lebih besar lagi.

Saya ambilkan bukti nyatanya dari apa yang dilakukan oleh pemerintah Inggris akhir-akhir ini.

Ketika upaya penyelamatan ekonomi melalui pengendalian suku bunga yang saat ini sudah mencapai 0.5% - terendah dalam 315 tahun terakhir ! – dirasa belum juga menyembuhkan krisis yang ada, mereka mulai mencari akal (-akal-an) untuk memoles ekonomi mereka.

Read more...

Dicari : Solusi Ekonomi Yang Tidak Mengandalkan Hutang…

Debt

Allahumma innii a’udzubika minal hammi wal khazan, wa a’udzubika minal ‘adzji wal kasal, wa a’udzubika minal jubni wal bukhl, wa a’udzubika min ghalabati al-daini wa khohri al rijaal.

 

“Ya Allah saya bersungguh-sungguh berlindung kepadaMu dari rasa susah dan sedih, dan aku berlindung kepadaMu dari rasa lemah dan malas, dan aku berlindung kepadamu dari sifat pengecut dan kikir, dan aku berlindung kepadamu dari lilitan hutang dan tekanan orang lain.”

 

Kalau saja hutang itu baik untuk membangun negeri, mungkin kita tidak diajari oleh Usmatun Hasanah kita untuk berlindung dari lilitan hutang seperdi do’a yang matsur (dicontohkan) tersebut diatas setiap pagi dan petang. Tetapi karena hutang ini bisa melilit kita dan membuat kita terjebak dalam tekanan orang lain, maka penting sekali bagi kita untuk berlindung dari hutang ini.

 

Sepuluh tahun lalu ekonomi negeri ini porak poranda sampai uang kita tinggal bernilai seperempatnya, antara lain penyebabnya adalah gedenya hutang luar negeri kita. Kebutuhan akan Dollar yang begitu tinggi dibandingkan dengan kemampuan kita untuk menghasilkan Dollar telah menyebabkan mata uang Dollar naik lebih dari empat kali lipat selama krisis.

 

Kini kesalahan yang sama terulang – seolah kita begitu mudah melupakan kesalahan sebelumnya. Kalau keledai saja tidak terperosok dalam lubang yang sama dua kali, kita bisa terperosok ke lubang yang sama berulang-ulang.

 

Prihatin saya membaca berita di Republika hari ini yang mengungkap hutang korporasi kita telah mencapai kisaran US$ 50 – 60 milyar, sedikit saja dibawah hutang negara yang mencapai US$ 62 milyar.  Yang lebih menyedihkan lagi adalah jumlah hutang yang akan jatuh tempo tahun ini saja akan mencapai US$ 17.4 Milyar, jumlah yang berpotensi untuk menggerus cadangan devisa kita yang per maret hanya US$ 53.7 Milyar.

 

Read more...

Kapitalisme Ribawi Yang Memakan Dirinya Sendiri…

Credit Crunch

Ada cerita menarik dari Danah Zohar dalam bukunya yang best seller di seluruh dunia Spiritual Capital,  yang sangat relevan dengan krisis financial yang melanda dunia saat ini.

 

Cerita ini sendiri berasal dari Mythology Yunani kuno tentang seorang tukang kayu yang kaya namun sangat serakah bernama Erisychthon. Saking serakahnya, si tukang kayu bahkan berani menebang pohon kesayangan dewa mereka – dimana rakyat Yunani biasa ‘beribadah’ di sekitar pohon tersebut.

 

Konon sang ‘dewa’ sangat marah atas ditebangnya pohon tersebut, dan dikutuklah Erisychthon untuk tidak pernah kenyang walau apapun telah dimakannya. Maka mulailah Erisychthon memakan apapun yang dijumpainya, toko dan isinya dimakan sampai habis, setelah itu keluarganya juga dimakan sampai habis – sampai tinggal satu-satunya yang ada di sekitar dia, yaitu dirinya sendiri. Karena rasa lapar yang tidak pernah bisa terkenyangkan – maka akhirnya Erisychthon-pun memakan dirinya sendiri.

 

Betapapun tidak masuk akalnya cerita tersebut, tetapi nampaknya realita yang tidak jauh berbeda sesungguhnya terjadi di dunia financial ribawi jaman modern, sehingga menimbulkan krisis di seluruh dunia sampai saat ini.

 

Read more...