Sawu Sufufakum : Membangun Business Ecosystem Untuk Ekonomi Umat...

Gerai Dinar

Sumber Daya Bebas Bea Untuk Pendidikan, Pelatihan dan Pendampingan Usaha dan Kewirausahaan.
Senin, 21 Oktober 2019

Sawu Sufufakum : Membangun Business Ecosystem Untuk Ekonomi Umat...

Maka seandainya saja umat ini, dapat mengimplementasikan rapatnya barisan sholat ini kedalam kehidupan sehari-hari – pastilah umat ini unggul di segala bidang seperti yang dijanjikan pula oleh Allah dalam ayat “Dan janganlah kamu merasa lemah, dan jangan pula bersedih hati, sebab kamu paling tinggi derajatnya jika kamu orang beriman” (QS Ali ‘Imran : 139).

 

Ketika rapatnya barisan ini diimplementasikan dalam linkungan usaha yang kemudian dikenal dengan istilah Business Ecosystem – pun menjadikan business tersebut unggul – meskipun yang menerapkan bukan orang yang beriman. Menurut penggagas teori Business Ecosystem ini -  James F More – kekuatan business-business besar dunia terletak pada kokohnya Business Ecosystem yang berhasil dibangunnya.

 

Teorinya yang memenangkan McKinsey Award ini menjelaskan Business Ecosystem sebagai berikut : “Komunitas ekonomi yang didukung oleh organisasi-organisasi dan individu-individu yang saling berinteraksi - mereka adalah organism (makhluk hidup) dalam dunia business. Organism ini terdiri dari suppliers, producers, competitors dan semua stakeholders. Dari waktu ke waktu mereka ber-evolusi  dalam peran dan kemampuan. Mereka merapat dalam barisannya masing-masing dengan dipimpin oleh satu atau lebih perusahaan inti. Perusahaan inti ini bisa saja berganti peran dari waktu ke waktu, kepemimpinan dari ecosystem ini  ditentukan oleh kemampuannya menggerakkan organism-organism di dalamnya, berbagi visi, merapatkan investasi dan memfasilitasi peran yang saling menunjang”.

 

Besarnya raksasa-raksasa usaha seperti Microsoft, Cysco dan lain sebagainya menurut More adalah karena mereka berhasil membangun ecosystem ini.  Ecosystem mereka ini terdiri dari ribuan organism berupa suppliers, marketers, manufacturers, installers dlsb. yang saling ‘menghidupi’ satu sama lain.

 

Nah, bila teori ‘rapatnya barisan’ ini sukses diterapkan oleh orang-orang yang tidak pernah sholat, seharusnya umat ini dapat lebih unggul dari mereka karena kita setiap hari belajar merapatkan barisan ini lima kali. Maka tidak seharusnya negeri yang mayoritas penduduknya rajin belajar merapatkan barisan ini menjadi negeri yang rata-rata penduduknya miskin.

 

Lantas bagaimana kita memulai membangun ecosystem kita sendiri yang sesungguhnya diambil dari nilai-nilai sholat berjamaah ini ?. Kita bisa mulai dari diri kita sendiri, mulai dari yang kita bisa. Kemudian dari yang kita bisa tersebut, kita tempatkan diri kita dalam barisan jamaah yang sesuai – bisa sebagai imam maupun  sebagai makmum. Sebagai imam harus memiliki visi yang jelas kemana ‘jamaah’ (business ecosystem) akan dibawa, sebagai makmum kita merapat di barisan dan mengisi shaf-shaf yang masih kosong. Imam selalu bisa salah/batal dan bisa diganti, makmum yang dibelakangnya harus mampu setiap saat menggantikan imam bila perlu.

 

Contoh aplikasinya yang sangat kecil tetapi sedang membangun ecosystem adalah situs ini – GeraiDinar.Com. Awalnya adalah hanya ada GeraiDinar (GD) yang menyebar-luaskan Dinar emas secara fisik maupun know how yang menunjangnya. Kemudian merapat dibelakangnya puluhan agen yang rata-rata capable menggantikan peran GeraiDinar kapan saja bila diperlukan.

 

Karena Dinar tidak untuk ditimbun , tetapi harus mampu menggerakkan ekonomi – maka muncullah institusi keuangan BMT – Daarul Muttaqqiin (DM) dan jaringan-jaringan BMT/Koperasi lain yang bekerjasama dengannya.  Kemudian kerena GD dan DM membutuhkan mitra-mitra usaha yang professional dan terpercaya - Qowiyyun Amin – maka lahirlah Pesantren Wirausaha Daarul Muttaqqiin (PWDM).

 

Melalui program-program PWDM inilah kemudian Business Ecosystem yang lebih besar mulai ter-visi-kan. Dari berbagai angkatan (sekarang sudah 12 angkatan) kini telah lahir embrio-embrio dari industri perkambingan nasional , industri jamur, industri makanan berbasis kambing, industri makanan beku, industri composit materials dan insyaallah berbagai industri lain kedepan.

 

Selain masing-masing industri tersebut saling terkait dan saling membutuhkan layaknya sebuah ecosystem atau shaf dalam shalat, berbagai institusi lain kini tengah mulai bergabung – mengisi shaf-shaf yang sebelumnya kosong. Ada beberapa perguruan tinggi negeri ternama yang kini mengolah pakan ternak untuk industri kambing kami, perguruan tinggi lain membuatkan pabrik pengolahan susu, ada pemain industri pangan besar yang siap mendukung project planet beku, ada perusahaan pembuat tas yang siap melengkapinya dengan tas khusus makanan beku dlsb.dlsb.

 

Sejauh ini memang baru beberapa ratus tenaga kerja yang terlibat langsung maupun tidak langsung dalam berbagai project tersebut. Namun di depan mata insyallah kami juga siap membesarkan ecosystem ini menjadi ecosystem yang menampung ribuan atau puluhan ribu organism yang hidup di dalamnya baik dari kategori institusi atau individu. Bagaimana caranya ?.

 

Salah satu program kami sate kambing masuk mal – urusan pemasarannya sudah ditampung oleh team yang dikepalai oleh seorang Doktor ekonomi dari institusi kenamaan. Mereka sanggup memasarkan 200 ekor kambing potong setiap hari, atau 6,000 ekor setiap bulan dan 72,000 setiap tahun. Bila rata-rata petani kambing bisa memelihara 12 ekor kambing setahun  dan menjualnya 1 ekor setiap bulan; maka pengadaan kambing potong tersebut bisa menciptakan 6,000 lapangan pekerjaan bagi peternak kambing.

 

Lantas project composites untuk membangun rumah dari gedebog pisang yang juga sangat banyak di response positif oleh pembaca; project percontohannya akan segera di mulai. Bahkan untuk pertama kalinya rumah gedebog yang akan kami bangun bukanlah rumah kita-kita, tetapi rumahnya Allah alias sebuah masjid di Jonggol. Pembuatan mesin untuk mengolah gedebog menjadi bahan bangunan yang kokoh kini telah mulai, design masjid-nya pun insyallah rampung dalam beberapa pekan kedepan.

 

Bersamaan dengan dimulainya pembangunan masjid dari gedebog pisang inilah, insyaAllah business ecosystem yang kita bangun bersama tersebut akan semakin membengkak ukurannya. Ribuan ibu-ibu di desa akan dapat segera mengolah gedebog pisang menjadi anyaman-anyaman yang kemudian kita beli untuk bahan baku industri composites tersebut diatas. Bahkan kalau mau, Anda sekarang sudah dapat mulai menanam pisang atau mengajak orang lain menanam pisang. Buahnya Anda jual ke pasar seperti biasa, gedebog pisangnya Anda olah menjadi anyaman – kemudian Anda jual ke kami.

 

Bila tadinya kita hanya sholat di mushola yang kecil dengan beberapa puluh jamaah (agen Dinar awalnya), saat ini kita sedang siap-siap shalat hari raya di lapangan yang akan melibatkan ribuan atau bahkan puluhan ribu jamaah. Tentu saja selain imam harus tahu betul kemana arah kiblat dan jamaah-jamaah pinter yang siap menggantikan imam kapan saja bila dibutuhkan, kita juga butuh jamaah umum yang tertib dan mau merapatkan barisan – mengisi shaf-shaf yang masih kosong di depan...Sawu Sufufakum....!. Allahu Akbar !.