Life Artisan

Gerai Dinar

Sumber Daya Bebas Bea Untuk Pendidikan, Pelatihan dan Pendampingan Usaha dan Kewirausahaan.
Selasa, 26 Maret 2019

Harga Dinar per 6 jam

Harga Dinar

Harga Dinar
  • Harga Dinar Emas per Tue, 26 Mar 2019 12:30:00 +0700 Jual Rp. 2,389,833 Beli Rp. 2,294,240

  • Harga Dinar Emas per Tue, 26 Mar 2019 06:30:00 +0700 Jual Rp. 2,394,514 Beli Rp. 2,298,733

  • Harga Dinar Emas per Tue, 26 Mar 2019 00:30:00 +0700 Jual Rp. 2,396,648 Beli Rp. 2,300,782

  • Harga Dinar Emas per Mon, 25 Mar 2019 18:30:00 +0700 Jual Rp. 2,387,477 Beli Rp. 2,291,978

  • Harga Dinar Emas per Mon, 25 Mar 2019 12:30:00 +0700 Jual Rp. 2,387,477 Beli Rp. 2,291,978

Life Artisan

Saya miris membaca berita media yang di-forward oleh komunitas ini kemarin, yang mengungkap potret pendidikan kita yang klise dan men-dagradasi pentingnya bertani. Seorang guru yang dengan bangganya mendukung pendirian pabrik semen di suatu daerah dengan alasan agar anak-anak petani tidak hanya bisa menjadi petani, tetapi juga bisa menjadi pegawai pabrik semen ! meskipun jadi pegawai pabrik semen juga baik, demikian pula jadi dokter, insinyur dan bahkan juga jadi presiden bila dia bisa adil terhadap rakyatnya juga baik. Tetapi nothing wrong dengan tetap menjadi petani ! 

 

Apresiasi yang hilang terhadap petani – yang tanpa sadar sering sekali terungkap dengan kata-kata – “ anak petani yang bisa menjadi….” inilah yang justru membunuh sektor pertanian kita secara perlahan tetapi pasti.

 

Bila petani-petani tua di Jepang yang saya temui beberapa waktu lalu mengungkapkan kesedihannya karena anak-anaknya tidak ada yang meneruskannya menjadi petani, anak-anaknya tidak ada yang menanam kembali benih yang diwariskan secara turun temurun – di kita justru sebaliknya, kita dorong dengan bangga agar anak petani meninggalkan dunia pertanian melalui ungkapan-ungkapan “…anak petani juga bisa menjadi …” tersebut !

 

Di tengah arus urbanisasi yang begitu cepat, 7 dari 10 penduduk negeri ini akan berada di kota dalam dua kali pemilihan presiden yang akan datang – saya melihat bahaya besar mengancam bangsa ini karena terus berkurangnya generasi muda yang akan mensupport kebutuhan pangan penduduk.

 

Negeri ini akan semakin tergantung pada produk pangan impor – itupun kalau masih ada yang bisa diimpor. Kalau tidak ada yang bisa diimpor lagi, karena masing-masing negara pasti akan mengamankan kebutuhan rakyatnya sendiri-sendiri – kita bisa mengalami food crash seperti Venezuala kini yang rakyatnya berpenghasilan empat kali dari kita tetapi harus antri untuk membeli makanan sampai 5-6 jam !

 

Lantas apa yang bisa kita lakukan ? saya tidak berpretensi bisa juga membuat perubahan besar di bidang mindset yang meleset tersebut, tetapi perubahan-perubahan kecil yang bisa kita lakukan dengan komunitas ini insyaAllah sedang berlangsung.

 

Kita sedang menyemai generasi baru petani – yang saya sebut Life Artisan – seniman kehidupan. Yaitu anak-anak muda yang memiliki passion yang sangat kuat dalam ‘melukis’ alam sekitarnya untuk bisa menopang kehidupan yang panjang.

 

Sektor pertanian-pun bisa nampak menjadi sangat indah manakala kita pandai ‘melukiskan’-nya. Dan bila bertani itu seperti seniman, saya memilih seniman kaligrafi – hanya saja saya tidak belajar menulis ayat-ayat Al-Qur’an yang memang sudah indah dari sana-nya di atas kertas, tetapi saya ingin menuliskannya di lapangan, di kebun-kebun, di sawah-sawah, di kandang-kandang peternakan kita dst.

 

Dan sumber keindahan dari ayat-ayatNya itu tidak akan pernah habis digali , sumber ilmu yang kita tidak akan pernah tamat mempelajarinya – maka begitulah keindahannya yang insyaAllah bisa terus terwujud melalui karya-karya life artisan tersebut di atas.

 

Sebagai contoh ketika kita mulai mengaji ayat-ayat pertanian, kita temukan perintah menggembala (QS 16:10-11, QS 20:54) – maka saat itu saya berpendapat menggembalalah adalah solusi terbaik untuk beternak kita – which is still the case.

 

Tetapi ketika lahan-lahan gembalaan kita semakin berkurang – apakah kita tidak lagi bisa beternak ? Kita tahu bahwa susu terbaik untuk minuman kita adalah susu segar yang khoolison saaighon (QS 16:66)– bersih dan mudah dicerna, bukan susu yang telah diawetkan – lantas bagaimana orang kota yang segera menjadi mayoritas tersebut di atas bisa minum susu segar  - yang khoolison saaighon ?

 

Mana lagi ayat-ayat yang bisa kita lukis dengan indah di alam untuk menyelesaikan masalah-masalah tersebut di atas ? ternyata ayatnya ada di depan mata. Ayat-ayat yang selalu dibaca setiap malam oleh orang-orang yang mengetahui keutamaan surat As-Sajdah, atau setidaknya dibaca sepekan sekali oleh Imam Masjid yang mengetahui keutamaan membaca surat tersebut untuk sholat subuh hari Jum’at.

 

Perhatikan terjemahan ayat nya sebagai berikut :

 

Dan apakah mereka tidak memperhatikan, bahwasanya Kami menghalau (awan yang mengandung) air ke bumi yang tandus, lalu Kami tumbuhkan dengan air hujan itu tanam-tanaman yang daripadanya (dapat) makan binatang-binatang ternak mereka dan mereka sendiri. Maka apakah mereka tidak memperhatikan?” (QS 32:26)

 

Berbeda dengan ayat-ayat lain yang pada umumnya mengisyaratkan bahwa hasil tanaman semusim (zar’a) itu utamanya untuk manusia , di ayat tersebut didahulukan untuk ternak kita – baru kemudian untuk kita manusia.

 

Jadi dari sekian banyak jenis tanaman-tanaman kita, ada tanaman yang hasil panennya didahulukan untuk ternak kita, tanaman apa ini kira-kira yang pas ? Saya menemukan salah satunya yang pas untuk jaman ini ya jagung ! Mengapa jagung ? karakter jagung yang lebih tinggi insoluble fiber-nya memang lebih cocok untuk pakan ternak, meskipun juga bisa dikonsumsi manusia.

 

Bertani jagung ini akan bisa mengisi missing link antara kebutuhan daging dan kebutuhan susu segar kita, dengan realita produksi daging dalam negeri – apalagi susu segar yang sangat tidak memadai untuk melahirkan bangsa yang sehat dan kuat.

 

Tetapi jagung kalau langsung digunakan untuk pakan ternak jatuhnya mahal, ternak kita menjadi tidak ekonomis karena harga daging dan susunya menjadi terlalu mahal. Lantas bagaimana mensiasatinya ? Itulah dibutuhkan life artisan tersebut, bukan petani biasa yang bisa mengatasinya – perlu petani yang memiliki passion yang sangat tinggi untuk tidak lelah-lelahnya berusaha menemukan keindahan-keindahan solusi tersembunyi dari setiap masalah yang ada.

 

Salah satu solusi itu adalah dengan menumbuhkan jagung-jagung yang telah dipanen tersebut menjadi fodder – semacam microgreen tetapi untuk ternak. Yaitu jagung ditebar di tempat yang lembab sehingga tumbuh. Dalam empat belas hari jagung tersebut akan menjadi kira-kira sejengkal tanaman jagung muda, empuk, enak dan mudah dicerna bagi ternak – selain juga bergizi tinggi .

 

Yang menarik dari konsep ini adalah nilai ekonomisnya. Bila jagung harga per kg-nya antara Rp 3,000 – Rp 4,000 ketika panen, ini terlalu mahal untuk pakan ternak – yang saya hitung harus dibawah Rp 2,500/kg-nya untuk menjadi ekonomis – maka ketika di-fodder-kan jagung menjadi menarik sekali untuk pakan ternak.

 

Setiap 1 kg jagung bisa menjadi 6-7 kg fodder. Artinya per kg fodder biaya bahannya hanya sekitar Rp 650,- bila termasuk tenaga yang menanganinya dlsb. katakanlah menjadi dua atau bahkan tiga kalinya-pun tetap akan ekonomis.

 

Yang lebih menarik lagi adalah dengan konsep fodder untuk pakan ternak ini, akan segera memungkinkan kambing-kambing susu hadir di perumahan-perumahan untuk bisa menyediakan bagi penghuninya susu segar setiap pagi. Bila komplek perumahan Anda terdiri dari 100 rumah misalnya, Anda butuh sekitar 100 ekor kambing susu produktif untuk memenuhi kebutuhan susu segar satu komplek.

 

Dengan konsep konvensional, Anda tidak bisa beternak kambing susu di komplek karena tidak ada daya dukung pakannya – tidak ada rumput untuk diarit dan tidak ada lahan gembalaan. Tetapi dengan konsep fodder -  untuk 100 ekor kambing produktif – Anda hanya perlu bermitra dengan petani jagung dengan luas lahan tanam 1 hektar yang bisa ditanami dua kali setahun dengan hasil rata-rata panen 12 ton jagung pipil setiap panennya. Dan petani yang menanam jagung ini tentu tidak perlu di kota, bisa di tempat-tempat yang jauh dari kota tidak masalah – hanya perlu kirim 4 truk jagung setiap tahun ke kota !

 

Kita melihat sekarang keindahan ayat-ayatNya itu, di jaman ketika manusia mayoritas tinggal di kota-pun susu yang baik labanan – khoolison – saaighon tetap bisa diproduksi dan dikonsumsi dalam kondisi terbaiknya – segera setelah diperah.

 

Bagaimana agar ayat-ayat seperti ini bener-bener terwujud di lapangan ? Angkatan ke 4 Madrasah Al-Filaha di Jonggol farm sedang menggarap hal-hal seperti ini. Kajian umumnya dapat diikuti oleh siapa saja, yang terdekat besuk pagi di Jonggol Farm - Bogor. Demikian pula dengan project-project life artisan kami lainnya seperti Huurun Project yang technical briefingnya Sabtu ini dan Sabtu depan –semua untuk umum.

 

Agar anak petani tetap tertarik untuk menjadi petani meskipun ia juga bisa menjadi apa saja, kita memang harus membuat dunia pertanian ini indah dan menarik sesuai jamannya – dan inilah pekerjaannya para ‘seniman’ - art beyond science , dan lebih specific lagi ini menjadi pekerjaannnya para life artisan ! InsyaAllah.