Gold Rush…

Gerai Dinar

Sumber Daya Bebas Bea Untuk Pendidikan, Pelatihan dan Pendampingan Usaha dan Kewirausahaan.
Senin, 21 Oktober 2019

Gold Rush…

Tetapi yang saya tulis kali ini bukan mengenai ‘gold rush’-nya sendiri, melainkan mengenai pelajaran lain yang bisa kita ambil agar kita tidak menjadi korban dari ‘gold rush – gold rush’ dalam berbagai bentuknya. Saya ambilkan sisi lain dari cerita ‘gold rush’ di abad 19 tersebut diatas.

 

Alkisah setelah James W. Marshall menemukan emas di California tahun 1948, tidak sampai setahun kemudian 300,000-an orang dari seluruh penjuru Amerika bahkan juga dari negara lain datang ke California untuk ikut berburu emas. Tidak terbayangkan tingkat kesulitan dan persaingan yang dihadapi oleh generasi forty-niners ini (me-refer tahun 1849 atau setahun setelah emas pertama kali ditemukan di California 1948).

 

Salah satu yang semula menjadi korban ini adalah seorang pemuda yang telah menempuh perjalanan ribuan kilometer dari Texas ke California untuk ikut berburu emas. Dengan persaingan yang luar biasa dan bahkan orang dengan mudah rela saling membunuh untuk sekedar memperebutkan secuil emas, pemuda ini akhirnya menyerah dan balik lagi ke kampungnya di Texas.

 

Sesampai di kampung halamannya Texas,  berhari-hari pemuda  tersebut duduk di halaman belakang rumahnya merenungkan apa yang telah dialaminya, dan hampir kehabisan ide untuk mengangkat derajat kehidupannya karena seluruh kekayaannya ludes untuk menempuh perjalanan ‘gold rush’ yang diimpikannya.

 

Dalam keputusasaannya dia melihat gelembung-gelembung dari air hitam di tanah di belakang rumahnya. Gelembung hitam ini nampak menjadi indah dimatanya - menyerupai pelangi manakala terkena sinar matahari. Karena memang lagi tidak ada ide, dengan keisengannya dia korek-korek tanah tempat gelembung hitam tersebut berasal.

 

Makin lama kok-makin banyak air hitam yang keluar, maka terus digalinya tanah sumber air hitam ini sampai akhirnya memancarlah air hitam dengan kuat dari tanah di belakang rumahnya tersebut. Pancaran air hitam inilah yang kemudian diketahui ternyata adalah sumber minyak. Pemuda tersebut tidak berhasil berburu emas kuning karena tidak mampu bersaing dengan 300,000-an orang  yang terkena demam ‘gold rush’ , tetai dia justru sangat sukses dengan emas hitam (minyak) yang ternyata ada di belakang rumahnya sendiri.

 

Fenomena ‘gold rush’ selalu membawa korban bagi orang yang hanya ikut-ikutan, sementara di ‘belakang rumah kita’ ada black gold yang hanya kita yang punya – kita tidak perlu bersaing dengan siapa-siapa dalam meng-eksplorasi potensi yang ada di ‘belakang rumah kita’.

 

Potensi black gold yang ada di ‘belakang rumah kita’ tersebut bisa berupa keahlian unique yang kita miliki yang tidak dimiliki orang lain, jaringan pertemanan/silaturahim, kekayaan ide/kreativitas kita yang tidak ada batasannya, mimpi-mimpi atau visi-visi kita. Dua orang kembar-pun tidak memiliki mimpi yang sama – maka itulah uniqueness kita yang bisa kita explore sendiri tanpa batas dan tanpa pesaing itu.

 

Salah satu contoh ‘sumber black gold’ di ‘belakang rumah kita’  itu adalah sumber dari segala sumber ilmu, teknologi dan solusi – yaitu Al-Qur’an. Berapa banyak dari kita yang berburu habis-habisan ilmu-ilmu yang tidak jelas asal dan manfaatnya, sementara kita lupa bahwa ada sumber ilmu yang sudah ada di rak-rak lemari kita yang  kita lupa untuk meng-explore-nya.

 

Sumber ilmu yang tanpa batas itu alhamdulillah dapat saya rasakan contoh konkritnya pagi ini. Ketika kami menyaksikan tanaman-tanaman alfaafa yang kami tanam di Blitar tumbuh tidak setinggi dan secepat tanaman dengan benih yang sama yang kami tanam di Jonggol.

 

Kami bertiga bersama dua orang ahli tanaman mencoba menjawab permasalahan tersebut diatas, yang bukan ahli tanaman spontan nyletuk : “An- Naba 13 ”.  Salah satu dari dua yang ahli bertanya : “ apa itu ? ”,  dijawabnya : “Wa ja’alnaa siraajaw wahhaaja.” – ‘dan Kami jadikan sinar matahari yang sangat terang !’. Untuk bisa tumbuh baik, alfaafa memang perlu sinar matahari yang sangat terang – artinya tidak ada tumbuhan lain yang mengayominya. Tanaman alfaafa kami di Blitar tidak tumbuh dengan maksimal karena terlalu banyak kerindangan tanaman lain di sekitarnya !.

 

Itulah salah satu bukti bahwa Al-Qur’an itu adalah tibyaanal likulli sya’i (Qs 16:89) – penjelasan untuk segala sesuatu !. Nah kalau keimanan kita pada Al-Qur’an bisa membuat kita yakin seyakin-yakinnya bahwa di kitab tersebutlah seluruh jawaban persoalan hidup kita, bukankah ini ‘sumber black gold’ yang bisa kita eksplorasi tanpa batas – tidak perlu bersaing dengan umat lain yang tidak memiliki Al-Qur’an.

 

Yang kita perlukan tinggal kita cari ahli-ahli eksplorasinya yaitu para pakar tafsir Al-Qur’an yang paham betul bukan hanya Al-Qur’annya tetapi juga permasalahan yang dihadapi oleh umat di jaman ini. Insyaallah kita tidak akan menjadi korban ‘gold rush’ karena kita akan dapat menemukan ‘sumber black gold’ kita sendiri. Amin.