Mengelola Wealth Producing Assets Dengan Gold Based Capital...

Gerai Dinar

Sumber Daya Bebas Bea Untuk Pendidikan, Pelatihan dan Pendampingan Usaha dan Kewirausahaan.
Rabu, 13 November 2019

Mengelola Wealth Producing Assets Dengan Gold Based Capital...

Mengapa tolok ukur baku itu kita gunakan emas, bukan angka inflasi ?. Kalau kita gunakan angka inflasi, angka inflasi mana yang kita gunakan ?. Inflasi umum yang rata-ratanya 6.8 % atau inflasi bahan pangan yang 12 % selama lima tahun terakhir ?. Mengapa hanya lima tahun ?, mengapa tidak 10 tahun , 20 tahun atau 30 tahun – yang lebih setara dengan lama kerja rata-rata karyawan?. Data puluhan tahun  yang terkait inflasi ini selain belum tentu ada dan kalau toh ada yang jelas juga belum tentu akurat. Maka mengapa tidak kita gunakan data yang sahih saja yang umurnya 1400 tahun lebih ?. Inilah data daya beli emas (Dinar) yang direpresentasikan dalam bentuk daya belinya terhadap kambing.

 

Dalam contoh ilustrasi diatas Rp 100 Milyar aset  setara dengan sekitar 125,000 Dinar (atau 125,000 ekor kambing ukuran baik) lima tahun lalu, asset perusahaan yang menjadi Rp 200 Milyar sekarang  hanya setara dengan 105,800 Dinar ( atau 106,820 ekor kambing ukuran baik). Bila seandainya Anda seorang peternak kambing, lima tahun lalu Anda memiliki 125 ekor kambing dan sekarang kambing tersebut tinggal 106 ekor apakah dapat dikatakan Anda bertambah makmur ?, jangankan bertambah makmur – mempertahankan kemakmuran Anda-pun tidak.

 

Bila perusahaan Anda sejatinya tidak bertambah makmur, lantas apakah perusahaan tersebut dapat memakmurkan orang-orang yang bekerja di dalamnya ?. Kemungkinan besarnya juga tidak.

 

Pertanyaan cerdas-nya adalah, bukankan perusahaan yang sudah berjerih payah di sektor riil seharusnya asetnya menjadi Wealth Producing Assets seperti dalam tulisan tersebut diatas ?. Betul demikian, tetapi setelah memberikan hasil – ibarat ember bocor – hasil jerih payah tersebut tersimpan kembali dan tercatat dalam nilai mata uang yang terus tergerus inflasi.

 

Hasil jerih payah usaha sektor riil tersebut yang belum digunakan saat ini untuk membayar biaya biaya – termasuk gaji Anda, sebagian besarnya akan tersimpan dalam mata uang kertas berupa retained earning, cadangan pengembangan usaha, cadangan penyusutan untuk membeli mesin-mesin atau peralatan baru nantinya, cadangan pesangon karyawan yang akan pensiun sekian tahun yang akan datang, cadangan biaya kesehatan karyawan dan keluarganya dlsb.dlsb.

 

Walhasil, cape-cape berusaha memutar aset menjadi Wealth Producing Assets – ketika menyimpan hasilnya di Wealth Reducing Assets – efek resultant-nya adalah dibawah Wealth Preserving  Assets. Hasil usaha sektor riil Anda sejatinya sudah bener  berada di daerah hijau pada grafik dibawah, namun karena hasilnya tersimpan di daerah merah – maka kemungkinan hasilnya di garis kuning atau bahkan diawahnya seperi contoh dalam ilustrasi kambing diatas.

 Logarithmic Wealth Reducing, Preserving and Producing Assets

Grafik logaritmik diatas menunjukkan bahwa, bila hasil jerih payah Anda yang tersimpan dalam mata uang Rupiah memberikan hasil bersih 6 % misalnya (Deposito) – sedangkan pertumbuhan harga emas rata-rata 18% saja – maka setelah 30 tahun (saat Anda pensiun !) dana yang Anda depositokan beserta akumulasi bagi hasil-nya setelah dikonversikan kembali ke emas tinggal 4.46% !. Wealth Reducing Assets inilah yang menggerogoti hasil jerih payah Anda berpuluh tahun.

 

Lantas bagaimana mengatasi hal ini ?. Sumber pelajarannya ada di Surat Yusuf 47-48 berikut : Yusuf berkata: “Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) secara sungguh-sungguh; maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan. Kemudian sesudah itu akan datang tujuh tahun yang amat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun sulit), kecuali sedikit dari (bibit gandum) yang kamu simpan”.

 

Menimbun emas, perak, gandum dlsb. di Islam adalah hal yang sangat dilarang (QS 9 : 34), namun mengapa di Al-Qur’an juga diberi contoh bagaimana Nabi Yusuf menganjurkan umat-nya menyimpan sebagian hasil panenannya selama tujuh tahun ?.  Karena yang dilakukan Nabi Yusuf tersebut bukan menimbun (yaknizun) tetapi membangun ketahanan ekonomi (yukhsinun). Gandum yang disimpan dibulirnya oleh Nabi Yusuf  berdasarkan kebutuhan yang nyata kedepan – yaitu menghadapi paceklik.

 

Kita yang hidup di jaman ini, tidak diberi wahyu untuk mendeteksi kebutuhan yang akan datang seperti Nabi Yusuf tersebut diatas. Tetapi kita diberi ilmu untuk bisa memahami data-data empiris bahwa daya beli mata uang kertas terus menyusut, bahwa biaya hidup kita akan terus meningkat, bahwa harga mesin atau peralatan usaha terus naik dlsb.dlsb., maka insyaAllah mempertahankan daya beli dari hasil jerih payah kita juga termasuk bentuk membangun ketahanan ekonomi – menjaga agar ‘gandum’ kita di ‘bulir’nya – yaitu tidak busuk dan tetap bernilai tinggi ketika waktunya dinvestasikan (ditanam) kembali atau digunakan di masa yang akan datang.

 

Lantas teknisnya bagaimana ?, teknisnya sudah saya singgung pada tulisan Gold Based Capital tersebut diatas. Jerih payah usaha Anda yang tidak segera digunakan dalam setahun kedepan, dapat dirupakan dalam bentuk cadangan emas atau Dinar. Pada waktunya digunakan  untuk membeli mesin, memberi pesangon karyawan saat pensiun, ekspansi usaha dlsb. dicairkan dalam bentuk bisa digadai atau dijual. Solusi komprehensif tentang Gold Based Capital untuk korporasi atau institusi saat ini sudah dapat kami berikan sebagai hasil kerjasama kami dengan beberapa bank syariah yang sudah menunjukkan ketertarikannya. Karena solusi masing-masing korporasi atau institusi akan unique, maka silahkan menghubungi kami bila korporasi atau institusi Anda tertarik.

 

InsyaAllah kita bisa membangun dan sekaligus menjaga kemakmuran umat ini secara bersama-sama. Amin.