Green Investment & Green Lifestyle : Membangun Tanpa Menebang Pohon, Bisakah...?

Gerai Dinar

Sumber Daya Bebas Bea Untuk Pendidikan, Pelatihan dan Pendampingan Usaha dan Kewirausahaan.
Senin, 21 Oktober 2019

Green Investment & Green Lifestyle : Membangun Tanpa Menebang Pohon, Bisakah...?

Bagaimana ini terjadi ?. Beberapa tahun terakhir Pemda kota Depok berusaha mengatasi masalah klasik yaitu kemacetan jalan di pagi hari ketika orang-orang Depok berangkat kerja ke Jakarta dan sore hari ketika mereka balik ke rumah. Lebar jalan dipandang tidak cukup maka harus ditambah satu jalur lagi di kiri dan kini juga di kanan.

 

Akibatnya pohon-pohon yang dahulu masih ada beberapa di pinggir jalan, kini harus ditebang semua. Menangis rasanya melihat pohon-pohon terakhir tersebut ditumbangkan satu demi satu dengan buldoser. Berapa puluh tahun deperlukan untuk menumbuhkan pohon tersebut ?, hanya diperlukan waktu beberapa jam saja untuk meratakannya dengan tanah.

 

Pemda Depok tentu punya alasan dengan apa yang dilakukannya, agar warganya nyaman ketika berangkat dan pulang kerja karena tidak dihantui kemacetan. Benarkan sasaran ini tercapai ?, mungkin perlu survey untuk menjawabnya. Namun dari pengamatan saya pribadi kemacetan tidak teratasi dengan menebang pohon dan melebarkan jalan ini.

 

Jalan yang sisi kiri (dari arah Jakarta menuju kota Depok) yang sudah selesai dilebarkan sejak beberapa bulan lalu, ketika sore hari bertepatan dengan karyawan pulang kantor dari Jakarta – malah diisi oleh para pedagang dan parkir mobil dan sepeda motor dari pengunjung toko atau restoran yang kini rata-rata kekurangan tempat parkir di sepanjang jalan ini. Walhasil kemacetan yang berusaha diatasi dengan mengorbankan pohon-pohon-pun juga tidak sepenuhnya teratasi.

 

Seandainya toh pemda Depok berhasil mengatasi kemacetan ini, diujungnya sana yaitu Jakarta – problem serupa atau bahkan lebih serius tengah menghadang para pekerja yang melajo Depok – Jakarta setiap hari.

 

Bedasarkan perhitungan pengamat transportasi dari Universitas Trisakti yang di publikasikan di Kompas hari ini (19/07/2010), diperkirakan tinggal dua tahun lagi yaitu tahun 2012 (maju dari perkiraan semula 2015) di Jakarta akan terjadi kemacetan total atau stagnasi di jalan. Kita bisa membeli mobil tetapi kita tidak bisa pergi kemana-mana karena tidak ada jalan untuk mobil kita.

 

Begini dramatiskah ?. Sang pengamat nampaknya punya data akurat untuk ini. Antara lain adalah pertumbuhan jumlah kendaraan yang mencapai 8% per tahun, sedangkan pertumbuhan jalan hanya 0.01 %per tahun. Jadi pada tahun 2012 tersebut  jumlah ruang yang ada di jalan sudah tertutup oleh jumlah mobil dan motor yang ada di Jakarta dan sekitarnya.

 

Tanda-tanda akan terjadinya stagnasi total di jalan ini sudah ada, yaitu ketika kita berada di lampu merah pada jam-jam tertentu. Ketika giliran kita sudah mendapatkan lampu hijau, kita tetap belum bisa jalan karena dari arah yang lain – yang lampunya sudah merah – ekor kendaraannya masih menghalangi jalan kita.

 

Pertumbuhan kendaraan yang tidak sepadan dengan pertumbuhan jalan inilah yang menyebabkan kemacetan akan terus bertambah parah di Jakarta maupun kota-kota penunjangnya seperti Depok ini. Jadi selama tidak ada kebijakan yang bisa menjadi tuas pengungkit dalam mengatasi kemacetan ini, kemacetan tidak akan selesai dengan menebang berapapun pohon.

 Padi-padi di halaman rumah yang siap panen...

 

Tuas pengungkit tersebut bukannya tidak ada atau tidak terpikirkan. Setidaknya pertengahan tahun 1990-an, pemerintah orde baru waktu itu pernah memikirkan untuk memindahkan pusat pemerintahan ke Jonggol agar terjadi pemecahan konsentrasi kepadatan aktivitas di Jakarta. Pemisahan pusat pemerintahan dari pusat perdagangan atau bisnis ini juga sudah lama terjadi di negara-negara lain di dunia seperti Malaysia, Australia, Amerika, Arab Saudi dlsb. Sekitar 30 tahun sebelumnya bahkan di negeri ini pada jaman orde lama juga pernah ada pemikiran yang lebih visioner lagi yaitu memindahkan pusat pemerintahan dari Jawa ke Kalimantan Tengah.

Pohon-pohon jabon usia 4 bulan yang siap menghutankan Jonggol Farm

 

 

Kalau saja ide-ide cerdas tersebut dijalankan sejak tahun 1960-an atau paling tidak tahun 1990-an ; mungkin kita tidak perlu menghadapi benang kusut kemacetan JaBoDeTaBek seperti yang sedang kita hadapi ini. Kalau saja ide-ide tersebut dijalankan, barangkali kita tetap bisa tinggal di Jakarta atau Depok yang sejuk penuh pepohonan yang rindang di jalan-jalan.

 

Well, tetapi dalam hidup kita tidak bisa dan tidak boleh ber-andai-andai; bila pemerintah pusat atau daerah tidak bisa mengatasi problem yang ada, kita sebagai warga bisa ikut membantunya. Dengan apa kita membantunya ?. Setidaknya dengan tidak ikut menambah parah masalah yang ada.

 

Kalau toh pemerintah tidak jadi memindahkan pusat pemerintahannya ke Jonggol misalnya, biarlah kita-kita sebagian penduduk yang pindah kesana. Bukan hanya pindah dalam arti rumahnya saja yang  disana, tetapi pusat aktivitas bisnis-pun bisa disana. Di era teknologi telekomunikasi seperti sekarang ini, apa sih yang tidak bisa dilakukan dari jarak jauh ?. Apalagi Jonggol hanya sekitar 25 Km dari Jakarta Timur/Cibubur.

 

Tulisan ini misalnya saya tulis dan saya upload dari Jonggol, dari gubug di sekitar tanaman padi yang siap panen minggu depan insyaallah.  Di lahan yang didalamnya kita tanami kembali dengan ribuan pohon dalam 8 bulan terakhir, yang insyallah tiga atau empat tahun lagi tanah ini telah menjadi hutan tanaman produktif. Di areal yang sama ada kandang-kandang kambing yang siap memenuhi seluruh kebutuhan daging dan susu sehat untuk restorasi generasi yang akan datang.

Pohon-pohon jinjing usia 8 bulan... 

 

Generasi hijau yang tidak harus tumbuh dewasa dan tua di tengah kemacetan jalan, generasi yang tidak harus menghirup udara bertimbal, generasi yang tidak harus tumbuh dengan memakan junk-food dan soft-drink yang membahayakan kesehatan.

 

Mulai dari yang kita tahu dan kita bisa, insyaallah Allah akan memberi tahu apa yang kita belum tahu dan menuntun kita terhadap yang apa kita belum bisa. Amin.