Kunci Kombinasi 4 Digit Untuk Membuka Kemakmuran…

Gerai Dinar

Sumber Daya Bebas Bea Untuk Pendidikan, Pelatihan dan Pendampingan Usaha dan Kewirausahaan.
Senin, 21 Oktober 2019

Kunci Kombinasi 4 Digit Untuk Membuka Kemakmuran…

 

Akses Modal

 

Ketika Mohammad Yunus dari Bangladesh berjuang mengentaskan kemiskinan lebih dari 100 juta orang di negerinya dan beberapa negeri lain, akses modal ini yang menjadi fokusnya. Dia berhasil, makanya mendapat hadiah nobel untuk ini.

 

Namun perlu waktu 30 tahun bagi Muhammad Yunus untuk mencapai keberhasilannya sampai kondisi sekarang. Masyalahnya di kita adalah saya belum melihat para kontestan Pilpres mendatang memiliki visi jangka panjang – bagaimana masalah Akses Kapital ini di rencanakan untuk jangka panjangnya.

 

Memang sudah ada yang menawarkan modal bagi rakyat, pertanyaannya adalah dari mana sumber dananya – baik jangka pendek maupun jangka panjang ?. Bila sumbernya dari pajak – maka rakyat juga yang sebenarnya membayar kapital tersebut secara langsung maupun tidak langsung (dengan naiknya harga produk barang dan jasa yang dibelinya lebih tinggi karena masalah pajak ini).

 

Akses Pasar

 

Di jaman kapitalisme yang menggurita dewasa ini, sungguh tidak mudah bagi masyarakat bawah untuk menjual produk barang atau jasanya. Di Jakarta misalnya, siapa yang bisa jualan di mal-mal, pasar-pasar dan tempat jualan resmi lainnya ?; mereka bukan masyarakat kebanyakan.

 

Untuk bisa jualan di mal atau di pasar rakyat kebanyakan harus kaya dahulu karena harga beli/sewa mal atau pasar hanya terjangkau oleh mereka yang sudah kaya. Bagi rakyat kebanyakan, kesempatan mereka jualan hanya pada kesempatan-kesempatan tertentu ketika ada pasar kaget, bazaar dan sejenisnya.

 

Maka boleh juga  apabila ada salah satu pasangan Capres dan Cawapres yang menjanjikan untuk menangani masalah pasar bagi rakyat ini bila terpilih. Masyalahnya lagi-lagi ini adalah janji, rakyat yang harus menagihnya ketika mereka terpilih nanti.

 

Akses Sumber Daya

 

Seandainya modal sudah ada, pasar juga sudah terbuka – tetapi rakyat kebanyakan tidak memiliki akses terhadap sumber daya yang dibutuhkan untuk berkarya – maka kemakmuran juga belum akan terbuka.

 

Pengalaman saya mencari tanah untuk diproduktifkan dapat menjadi contoh untuk hal ini; begitu sulitnya untuk memperoleh tanah yang boleh dimakmurkan – sementara di Jawa Barat saja ratusan perkebunan terbengkalai dan tidak dimakmurkan oleh para pemegang Hak Guna Usaha (HGU) –nya. Di daerah lain dugaan saya kondisinya tidak jauh berbeda, kita baru menjadi bangsa yang suka menguasai tetapi belum suka/mampu memakmurkan bumi ini.

 

Saya belum melihat ada pasangan Capres-Cawapres yang mempunyai program konkret masalah membuka akses terhadap Sumber Daya ini; begitu pula yang terkait dengan sumber-sumber daya lainnya seperti Sumber Daya Insani, Sumber Daya Teknologi dslb.

 

Akses Nilai Yang Adil

 

Seandainya saja tiga akses sebelumnya telah dimiliki oleh rakyat kebanyakan; mereka bisa berproduksi karena ada modal,  ada sumber daya dan ada pula pasar untuk menjual hasil produksinya.

 

Seandainya pula hasilnya cukup untuk dikonsumsi saat ini, dan ada  lebihnya untuk perencanaan jangka panjang seperti biaya sekolah anak, biaya kesehatan hari tua, dana pensiun dlsb.

 

Tetapi dana yang ditabung untuk masa depan ini setiap saat tergerus nilainya karena hasil bersih dari tabungan yang bisa  lebih rendah dari tingkat inflasi , atau bahkan bisa terpangkas oleh devaluasi nilai (seperti tahun 1997/1998) – maka hasil jerih payah rakyat kebanyakan tersebut juga tetap tidak akan bisa memberikan kemakmuran yang berkelanjutan. Tidak heran bila saat ini hanya ada 5% pensiunan yang mengaku mandiri secara finansial (Kompas, 29/06/09).

 

Lantas dengan tidak adanya pasangan Capres-Cawapres yang akan bisa membuka kunci kemakmuran tersebut ,  apa yang harus kita lakukan ?.

 

Jawabannya sederhana, kita sebagai rakyat kebanyakan tidak perlu menunggu atau berharap banyak dari siapapun yang menang pemilu Pilpres nanti. Kita sendiri yang harus bekerja keras, bahu membahu dan  berjamaah dengan orang-orang disekitar kita untuk bersinergi saling bertukar kunci kemakmuran.  Sambil hanya berharap kepada Allah semata, Dia-lah Yang Maha Kaya – Yang Meluaskan Rizki dan Yang Membatasinya. Insyaallah kemakmuran akan datang ke kita, siapapun presidennya. Amin.