M-Dinar : Implementasi dari Idenya Dr. M…

Gerai Dinar

Sumber Daya Bebas Bea Untuk Pendidikan, Pelatihan dan Pendampingan Usaha dan Kewirausahaan.
Senin, 21 Oktober 2019

M-Dinar : Implementasi dari Idenya Dr. M…

Melalui M-Dinar pihak-pihak dapat bertransaksi perdagangan dengan menggunakan Dinar Emas tanpa harus membawa-bawa Dinar nya secara fisik. Pemilik account menyimpan Dinar-nya di pihak yang dapat dipercaya (Trusted Third Party) dan secara otomatis berkurang atau bertambah tergantung dari aktifitas transaksinya.

 

payment

Transaksi antar pemilik account dapat dilakukan melalui komputer yang terkoneksi internet ataupun mobile phone dengan GPRS atau 3G. Untuk meningkatkan security, setiap transaksi baru akan di eksekusi setelah di re-confirm melalui code atau link yang terkirim via email pemilik account.

 

Aplikasi teknologi M-Dinar atau MobileDinar ini sudah 90 % selesai, sehingga masyarakat yang tertarik insyaallah sudah akan dapat mencobanya bulan ini. Kalau Anda mengakses M-Dinar.Com dari handphone Anda hari-hari ini, menu yang muncul baru dua yaitu  graph dan rate , maka bila M-Dinar sudah aktif akan ada dua menu lagi yaitu payment dan account.

 

Bila masyalah aplikasi teknologi boleh dibilang sudah teratasi, tidak demikian halnya dengan masyalah legalnya. Di Indonesia uang untuk alat tukar yang diakui secara legal hanyalah Rupiah.

 

Meskipun demikian realitanya, hotel-hotel, perusahaan asuransi, accountant, konsultant hukum, kontraktor sampai koruptor (ingat kasus suap jaksa US$ 600,000!) dlsb banyak sekali yang bertransaksi dengan uang selain Rupiah. Apakah mereka melanggar hukum (kecuali si koruptor !), nampaknya tidak. Kalau transaksi menggunakan mata uang selain Rupiah dianggap melanggar hukum, maka penegak hukum harus menggrebek Bali dan Batam lebih dahulu karena di dua daerah tersebut US$ dan S$ paling banyak digunakan masyarakatnya.

 

Uang emas pun di masyarakat tertentu di Indonesia sudah lama digunakan. Di Sumatra Barat dikenal Rupiah emas misalnya, masyarakat Jakarta sudah mulai banyak menggunakan e-gold, goldmoney sampai e-dinar yang berpusat di luar negeri.

 

Jadi mestinya juga tidak masyalah kalau M-Dinar atau transaksi berbasis Dinar Emas ini mulai kita perkenalkan di Indonesia oleh orang Indonesia sendiri. Kalau toh nantinya dianggap masalah, ya kita jual saja idenya ke perusahaan-perusahaan di luar negeri dimana e-gold, goldmoney dan e-dinar berada. Biarlah warga dunia yang mengimplementasikan M-Dinar ini, tidak harus kita yang di Indonesia – toh idenya memang mengiplementasikan gagasan Dr. M untuk mengganti US$ dengan mata uang lainnya – dalam perdagangan internasional untuk umat Islam di seluruh Dunia. Insyaallah.