Emas dan Kemakmuran Negeri Ini…

Gerai Dinar

Sumber Daya Bebas Bea Untuk Pendidikan, Pelatihan dan Pendampingan Usaha dan Kewirausahaan.
Senin, 9 Desember 2019

Emas dan Kemakmuran Negeri Ini…

Dalam beberapa tulisan saya sebelumnya saya sering menyebutkan bahwa cadangan emas Bank Indonesia hanya sekitar 96 ton. Angka  96 ton tersebut benar adanya ketika saya melakukan riset untuk buku ‘Mengembalikan Kemakmuran Islam Dengan Dinar dan Dirham’.

 

Saya baru sempat revisit  angka tersebut akhir-akhir ini ketika ada pembaca yang menanyakan sumber data yang saya gunakan. Berdasarkan data World Gold Council (WGC), yang kemudian saya verifikasi dengan data dari laporan tahunan BI – ternyata ada penurunan cadangan emas BI yang cukup significant karena hampir  mencapai  24 % dari cadangan sebelumnya.

 

Berdasarkan data WGC tersebut, sampai tahun 2006 cadangan emas BI adalah sebesar 96.4 ton, tetapi pada tahun 2007 lalu cadangan ini tinggal 73.1 ton atau mengalami penurunan 23.3 ton,

 

Emas sebesar 23.3 ton ini tentu sangat banyak; kok nggak banyak dari kita – termasuk saya sendiri  - yang tahu penjualan cadangan emas ini  ketika hal tersebut dilaksanakan ?.

 

Jawabannya ada di laporan keuangan BI untuk tahun buku 2006 yang keluar bulan Mei 2007. Dalam penjelasan laporan perubahan ekuitas disebutkan bahwa pada tahun buku 2005, BI masih memiliki saldo emas sebesar 3,087,615.7493 TOZ (96.4 ton) tetapi pada akhir tahun buku 2006 saldo emas ini tinggal 2,347,045.9083 TOZ (73.1 ton). Sisanya berupa SSB Emas atau Gold Bond yang diijual dalam rangka mendukung kecukupan likuiditas berkaitan dengan percepatan pelunasan pinjaman IMF.

 

Jadi nampaknya kita terpaksa menjual asset baik kita untuk membayar hutang, apa boleh buat…

 

Kalau kita lihat jauh kebelakang lagi sampai ke awal-awal tahun kemerdekaan kita, ternyata kita pernah cukup kaya dalam hal cadangan emas ini. Puncaknya tahun 1951 ketika cadangan kita mencapai 248.8 ton.

 

Namun kita juga pernah sangat miskin mulai pertengahan tahun 60-an sampai akhir tahun 1970-an, puncaknya adalah tahun 1971 ketika cadangn emas kita tinggal 1.8 ton.

 

Kemudian selama seperempat abad sejak 1981 cadangan emas kita di BI stabil pada kisaran 96 ton, sampai akhirnya dua tahun lalu cadangan emas kita mulai berkurang kembali karena kita butuh bayar hutang.

 

Yang perlu kita renungkan adalah, kita tahu emas sebagai asset memiliki nilai atau daya beli yang stabil dan riil, 1 kg emas setengah abad lalu sama berharganya (daya belinya) dengan 1 kg emas sekarang – sama-sama cukup untuk membeli sekitar 250 ekor kambing !.

 

Emas tidak seperti uang kertas yang nilainya relatif terhadap waktu, Rp 1 juta setengah abad lalu sangat berbeda dengan Rp 1 juta sekarang.

 

Jadi kalau di awal kemerdekaan kekayaan riil dalam wujud cadangan emas di bank sentral kita sampai 248.8 ton dan sekarang tinggal 73.1 ton (kurang dari 30%nya !), jangan jangan kita sebagai bangsa memang tambah miskin sekarang ?.

 

Memang mengukur kekayaan suatu negara tidak cukup hanya dengan satu indikator saja, banyak indikator lain yang diluar tema sentral situs ini. Namun satu iindikator yang ini juga tidak bisa diabaikan begitu saja.

 

Bagi saudara kita yang sudah sukup umur untuk merasakan kondisi ekonomi kita dalam enam dasa warsa sejak kemerdekaan, pasti mereka bisa bercerita lebih banyak dari saya soal bagaimana hidup di rentang waktu dasawarsa-dasawarsa tersebut.

 

Wallahu A’lam..