Ketahanan Pangan Urusan Siapa?

Gerai Dinar

Sumber Daya Bebas Bea Untuk Pendidikan, Pelatihan dan Pendampingan Usaha dan Kewirausahaan.
Senin, 17 Juni 2019

Ketahanan Pangan Urusan Siapa?

 

Meskipun terus mengalami kemajuan dari pemerintahan berikutnya, hingga saat ini ketahanan pangan Indonesia masih tergolong rendah paling tidak menurut Global Food Security Index. Indonesia berada di rangking 65 dengan skor 54,8.

 

Dengan pencapaian tersebut sesungguhnya masih banyak ruang yang bisa kita lakukan untuk memperbaiki ketahanan pangan kita karena segala sumberdaya yang diperlukan untuk ini sesungguhnya tersedia di negeri ini.

 

Sebagaimana kita ketahui, ketahanan pangan suatu negara diukur melalui 3 parameter yaitu ketersediaan pangan, keterjangkauan pangan serta kualitas dan keamanan pangan, di ketiganya mestinya bisa kita perbaiki.

 

Dalam ketersediaan pangan, tanah kita luas dan relatif subur. Sungguh ironi bila ketahanan pangan terbaik di dunia justru di negeri tetangga kita yaitu Singapore yang nyaris tidak ada lahan untuk ditanami tanaman pangan. Apakah Singapore dengan mudah mencapainya karena penduduknya sedikit? Bisa jadi demikian.

 

Tetapi ada juga negeri yang sangat besar, jauh lebih besar dari kita yaitu China yang memiliki ketahanan pangan yang jauh lebih baik dari kita, sedangkan buminya juga tidak lebih subur dari kita. Kok bisa? Maka kita harus mau belajar dari Singapore maupun China untuk masalah ketahanan pangan ini.

 

Dalam berbagai kesempatan saya bertemu dengan para penggiat pangan dari dua negara tersebut yang nampak sekali adalah ke khawatiran mereka akan ketahanan pangan ini di negeri mereka. Ke khawatiran-khawatiran inilah yang mendorong mereka untuk berbuat maksimal mengatasi ketahanan pangan mereka dengan seluruh sumberdaya yang dimiliki.

 

Singapore khawatir ketahanan pangannya karena tiadanya lahan untuk menanam, maka mereka menempuh berbagai cara untuk mengamankan pangannya dalam jangka panjang. China ke khawatirannya didorong oleh penduduknya yang amat sangat banyak, maka mereka pun berjuang habis-habisan untuk make sure pangan tersedia cuku bagi negeri yang berpenduduk lebih dari 20% penduduk dunia itu.

 

Di lain pihak kita sejak kecil di nina bobokkan dengan bumi kita yang konon gemah ripah loh jinawi, tongkat dan batu pun jadi tanaman sehingga kita tidak cukup kuat untuk bekerja keras membangun ketahanan pangan ini. Lantas bagaimana kita bisa memotivasi penduduk negeri ini agar kita mau bekerja ekstra keras melebihi penduduk negeri-negeri yang saya jadikan sebagai contoh memiliki ketahanan pangan yang baik tersebut diatas?

 

Pelajaran terbaik tentu ada pada petunjuk dari Dia Sang Pencipta kita, Dia sudah memberikan tuntunan yang amat sangat detail untuk ketahanan pangan ini di Al Qur'an. Berbagai reward and punishment disebutkan didalam Al Qur'an yang terkait dengan pangan ini. Bahkan sistem reward and punishment ini bahkan jauh lebih baik dari yang memotivasi penduduk negeri Jiran dan China untuk membangunketahanan pangannya.

 

Di Dalam Al Qur'an petunjuk itu dilengkapi dengan sangat detail untuk pelaksanaannya dan sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Untuk reward bagi orang-orang yang mau bekerja ekstra keras menempuh jalan yang mendaki lagi sulit demi untuk bisa memberi makan orang lain misalnya, Allah akan masukkan orang-orang seperti ini menjadi golongan kanan (QS 90: 11-18). Dan golongan kanan inilah yang kelak akan sampai Surga dengan berbagai kenikmatannya (QS 56: 27-40).

 

Kalau janji berupa reward  sebagai golongan kanan ini belum cukup untuk menggerakkan kita untuk memberi makan ini, maka ancaman-Nya yang sangat serius bisa menjadi pendorong kita untuk bersegera bekerja keras membangun ketahanan pangan ini.

 

Diam nya kita dan tidak acuhnya kita sehingga tidak mau menganjurkan untuk memberi makan ini saja sudah membuat stampel buruk pada diri kita sebagai pendusta agama (QS 107: 1-3). Bahkan kedudukan orang yang tidak peduli terhadap kebutuhan makan orang lain ini menempatkan kedudukan orang tersebut sama dengan orang yang tidak shalat (QS 74: 42-44).

 

Indahnya petunjukNya itu bukan hanya sekedar membangkitkan semangat kita untuk bekerja keras membangun ketahanan pangan ini dengan reward and punishment tetapi dia juga memberi petunjuk yang sangat detail-how to do it bagi kita yang hidup di negeri yang sangat subur ini.

 

Bahkan ada dua surat di Al Qur'an yang menggambarkan negeri seperti yang kita miliki ini. Pertama di surat An Naba Allah menggambarkan negeri yang sangat subur ini adalah negeri yang mendapatkan sinar matahari yang sangat terang dan hujan yang sangat lebat (QS 78: 13-16).

 

Senada dengan ini ada dalam surat Abasa yang menggambarkan bumi yang sangat subur dengan segala macam tanaman yang komplit tumbuh digambarkan sebagai negeri yang dicurahi hujan dan negeri yang tanahnya subur (QS 80: 25-32). Dengan gambaran di surat An Naba dan surat Abasa tersebut coba kita renungkan negeri mana yang seperti ini?

 

Di negeri-negeri Arab dan Afrika mereka mempunyai sinar matahari yang terang tetapi hujannya sangat sedikit dan tanahnya tidak subur. Di negeri-negeri Eropa dan Amerika Utara tanah mereka relatif subur tetapi penyinaran matahari tidak sepanjang tahun.

 

Jadi poinnya adalah dengan negeri yang begitu subur, memenuhi syarat untuk semua jenis tanaman tumbuh mestinya negeri ini menjadi sumber ketahanan pangan bukan hanya bagi penduduk negeri kita sendiri tetapi kita harus bisa membangun ketahanan pangan untuk diri kita sendiri dan penduduk negeri-negeri lain yang alamnya tidak seberuntung kita.

 

Lantas darimana kita memulainya? Pertama tentu menyadarkan kita bahwa urusan ketahanan pangan atau dalam bahasa Al Qur'an nya memberi makan ini adalah benar-benar urusan kita apapun pekerjaan kita dan profesi kita, kita semua terkena kewajiban memberi makan ini.

 

Ini bukan hanya tugas bagi para petani atau pekerjaan lain yang terkait pertanian tetapi tugas kita semua. Harus melekat pada diri kita tanggungjawab besar bahwa kita di vonis oleh Allah belum melaksanakan perintahnya sebelum kita memperhatikan urusan pangan ini (QS 80: 23-24).

 

Setelah kita menyadari menyadari peran ini kita bisa mencari berbagai jalan agar kita terlibat dalam kegiatan memberi pangan ini. Kalau kita bisa menanam sendiri itu tentu yang terbaik, kalau tidak minimal kita mau ikut memikirkan dan mendorong orang lain untuk terlibat dalam kegiatan pengadaan ini. Syukur-syukur kita juga bisa mendanainya.

 

Bila kita berhasil membangun kesadaran untuk memberi makan ini kepada mayoritas penduduk negeri ini, InsyaAllah kita akan bisa membangun ketahanan pangan yang bahkan bisa lebih baik dari Singapore maupun China tersebut diatas. InsyaAllah kita bisa.