Ayat-Ayat Petani

Gerai Dinar

Sumber Daya Bebas Bea Untuk Pendidikan, Pelatihan dan Pendampingan Usaha dan Kewirausahaan.
Rabu, 17 Juli 2019

Ayat-Ayat Petani

 


Bertani adalah mulia dan fitrah. Dijadikan-Nya manusia dari tanah  untuk memakmurkannya. Bertani memakmurkan bumi diawali dari menyembah Allah SWT semata dengan tidak menyekutukan-Nya, di akhiri dengan istighfar dan taubat (11: 61).

 

Petani dibekali dengan petunjuk-Nya yang rinci, semua persoalan yang dihadapi petani disediakan jawaban dan petunjuk-Nya oleh ilahi (16: 89). Selama bertani berpegang pada petunjuk ini, dia tidak akan takut dan tidak akan sedih hati (2: 38), dia tidak akan lapar, dahaga, dan terpapar panas matahari. Dia juga tidak akan sesat dan tidak akan celaka (20: 117-123).

 

Pertanian (filaha) mempunyai asal kata yang sama dengan kemenangan (falah), syarat untuk berhasil didunia pertanian juga sama dengan syarat untuk memperoleh kemenangan. Petani harus bersabar dan meningkatkan kesabarannya (3: 200). Petani harus pandai membersihkan diri (87: 14; 91:9) dan petani harus juga mau mementingkan orang lain diatas kepentingan diri sendiri (59: 9)

 

Pekerjaan bertani dimulai dengan mengenal tanah, tanah terbaik ada di bukit-bukit yang bila hujan lebat turun memberikan hasil berlimpah. Bila tidak, embun pun memadai (2: 265). Tanah yang baik diatas bukit yang tidak berada di timur dan di barat sesuatu. Dia mendapatkan penyinaran matahari sepanjang hari (24: 35).

 

Tanah yang mati dihidupkan dengan tanaman biji-bijian yang dimakan (36: 33). Tanah yang gersang disuburkan dengan turunnya air hujan, tanda kesuburannya adalah tanah bergetar dan mengembang (22: 5). Tanah yang diberkahi memberikan hasil buah yang banyak dan rasanya enak (2 :58).

 

Petani juga bisa menghadirkan bumi yang diberkahi yang dengan rezekinya melimpah dari langit dan bumi dengan keimanan dan ketaqwaan (7 :96). Petani harus mengenali bukan hanya yang ada di tanah tetapi juga yang diatas tanah (langit) dan kehidupan di bawah tanah (20: 6). Petani harus meyakini apa yang bisa dilihat oleh matanya dan digemgam oleh tangannya maupun yang tidak diketahuinya (36: 36).

 

Segala kehidupan berasal dari air (21 :30), maka petani sangat membutuhkan air untuk menumbuhkan tanaman. Sumber air yang utama berasal dari air hujan dan hujan adalah suatu berkah (50: 9). Air hujan jangan dibuang ke sungai dan laut dan jangan pula di cegah. Air hujan dapat disimpan didalam tanah dengan menanam pepohonan (36: 34).

 

Akar tanaman yang baik akan menyimpan air dan memancarkan mata air dan bahkan mengalirkan anak sungai (19: 24). Air hujan menghidupkan bumi yang mati (50: 11). Air hujan juga menyuburkan bumi yang gersang hingga menumbuhkan segala macam tanaman yang indah dipandang (22: 5).

 

Bila air hujan tiada kunjung turun dan mata air tidak memancarkan airnya, istighfar akan dapat menurunkan hujan yang lebat (71: 10-11). Air tidak boleh dirusak dengan cara apapun karena akan mendatangkan musibah (30: 41). Demikian pula mata air tidak boleh dikuasai oleh segelintir orang karena ini juga akan membuat kerusakan di bumi (27: 48).

 

Tanaman membutuhkan sinar matahari yang terang (79: 13). Udara tidak boleh diganggu keseimbangannya dan keseimbangan ini harus ditegakkan dengan keadilan (55: 7-9). Dari udara inilah dua unsur yang dibutuhkan untuk tumbuhnya tanaman dipenuhi, sinar matahari dan karbon dioksida.

 

Unsur lain dari udara yang harus dipahami oleh petani adalah kelembapan dan suhu. Keduanya ini bisa dirusak oleh tangan-tangan manusia (55: 8) tetapi manusia pula yang bisa menjaganya (55: 9). Manusia juga diberi inspirasi untuk bisa mengendalikan udara tanpa merusaknya, bahkan melengkapi keberkahan suatu negeri (21: 81).

 

Untuk pertumbuhan tanaman membutuhkan nutrisi yang berimbang, petani tidak boleh mengambil lebih dari yang dia berikan. Nutrisi bisa dihadirkan dari unsur tanaman-tanaman yang disandingkan (13: 4). Nutrisi juga bisa dihadirkan dari hewan ternak yang dikembalakan di tempat tumbuhnya pepohonan dan di tempat turunnya hujan (16: 10-11).

 

Allah SWT yang menumbuhkan benih dari biji-bijian yang dimakan maupun yang tidak dimakan untuk menjaga kelangsungan tanaman (6: 95). Benih-benih ini tidak boleh dirusak keturunannya (2: 205). Sebagian dari hasil tanaman harus dijaga untuk kelangsungan ketersediaan benih untuk tanaman yang berikutnya, bibit tanaman yang akan digunakan dalam jangka panjang di amankan dengan menyimpannya tetap pada tangkainya (12: 47-48).

 

Tanaman yang baik tumbuh dengan akar yang kuat dan cabang-cabang yang menjulang kelangit. Dia selalu memberikan hasilnya sepanjang waktu dengan ijin tuhannya (14: 24-25). Tanaman yang baik mempunyai tunas yang kuat dan tumbuh lurus keatas mengagumkan bagi sang penanamnya (48: 29).

 

Dia juga dipenuhi daun-daunan yang hijau kuat dan berbuah banyak (6: 99). Ketika melihat indahnya pertumbuhan tanamannya tidak timbul kesombongan bagi diri petani melainkan ucapan Masya Allah, La quwwata illa billah (18: 39). Petani harus menyadari tiada kuasanya menumbuhkan benih dan meninggikan pohon, bahkan petani tidak punya kendali terhadap rasa (6: 141).

 

Tanaman yang baik tidak mudah terkena penyakit, dia memiliki daya tahan tubuh yang kuat untuk melawan segala macam hama dan penyakit tanaman yang menyerang. Bila daya tahan tanaman itu sendiri kurang dia bisa dikuatkan dari tanaman-tanaman lain karena dari berbagai tanaman-tanaman itu mereka masing-masing juga menjadi sumber obat (16: 69).

 

Hama dan penyakit tanaman juga bisa dicegah dengan ekosistem pertanian yang baik, bahkan negeri yang baik salah satu cirinya adalah adanya ekosistem pertanian yang baik (34: 15). Negeri yang baik dipenuhi kebun yang memberikan buah yang dimakan, negeri yang lalai dipenuhi tanaman yang tidak bisa dimakan (34: 15-16)

 

Petani harus memperhatikan tanamannya untuk mengetahui masa panen terbaik (6: 99). Pada masa panen petani harus melibatkan orang-orang miskin disekitarnya (68 :24-26). Petani harus memberikan zakat dari panenannya untuk kaum miskin dan yang berhak (6: 141). Hasil panen perlu disimpan yang baik untuk cadangan kebutuhan masa yang akan datang (12: 47-48). Hasil produksi petani bisa diolah menjadi apapun kecuali yang diharamkan (16: 67).

 

Dalam memperdagangkan hasil produksinya petani tidak boleh berlaku curang dan mengurangi timbangan (83: 1-3). Petani harus mengenali masyarakat luas dari berbagai suku dan bangsa agar dia juga menguasai perdagangan (49: 13). Dalam memperdagangkan hasil produksinya, petani harus banyak mengingat-Nya agar dia beruntung (63: 10).

 

Petani boleh menjual barang dagangannya didepan untuk menutup biaya produksi tetapi penjualan di depan ini harus dengan harga yang jelas, waktu penyerahan yang jelas dan juga kuantitas dan kualitas hasil pertanian yang akan dijualnya juga harus jelas, semua harus tercatat dan menghadirkan para saksi (2: 282).

 

Petani membutuhkan "kapal" atau wahana untuk bersama-sama bersyirkah dengan para petani lainnya sehingga memiliki kekuatan negosiasi dan daya saing di pasar (18: 79). Namun dalam bersyirkah juga harus dibangun kesamaan dalam iman dan amal saleh karena sebagian besar orang-orang yang bersyirkah saling mendzalimi satu sama lain kecuali orang-orang yang beriman dan amal saleh (38: 23-24).

 

Petani juga harus tolong menolong sesamanya untuk menghadapi resiko (5: 2). Kumpulan orang-orang yang beriman dan beramal shaleh yang saling menasehati dengan kebenaran dan kesabaran inilah yang akan menjadi kumpulan orang-orang yang tidak merugi (103: 1-3).

 

Intinya bertani adalah bagian dari amal shaleh yang harus kita lakukan karena bila bertani berhenti bekerja, tukang batu akan berhenti membangun rumah, tukang roti akan berhenti berproduksi dan nelayan pun tidak akan bisa melaut. Dan kita semua hanya akan mendapatkan apa yang kita kerjakan (53: 39).