Capital Shifts In Industry 4.0

Gerai Dinar

Sumber Daya Bebas Bea Untuk Pendidikan, Pelatihan dan Pendampingan Usaha dan Kewirausahaan.
Selasa, 26 Maret 2019

Harga Dinar per 6 jam

Harga Dinar

Harga Dinar
  • Harga Dinar Emas per Tue, 26 Mar 2019 12:30:00 +0700 Jual Rp. 2,389,833 Beli Rp. 2,294,240

  • Harga Dinar Emas per Tue, 26 Mar 2019 06:30:00 +0700 Jual Rp. 2,394,514 Beli Rp. 2,298,733

  • Harga Dinar Emas per Tue, 26 Mar 2019 00:30:00 +0700 Jual Rp. 2,396,648 Beli Rp. 2,300,782

  • Harga Dinar Emas per Mon, 25 Mar 2019 18:30:00 +0700 Jual Rp. 2,387,477 Beli Rp. 2,291,978

  • Harga Dinar Emas per Mon, 25 Mar 2019 12:30:00 +0700 Jual Rp. 2,387,477 Beli Rp. 2,291,978

Capital Shifts In Industry 4.0

 

Sebelum industri pertama lahir lebih dari 2 abad silam, mayoritas orang bekerja secara independen sebagai petani, perajin, pedagang, dan berbagai pekerjaan independen lainnya. Bersamaan dengan lahirnya industri 1.0 yang ditandai dengan lahirnya mesin-mesin industri, lahir pula kaum baru yang disebut kaum buruh.

 

Kaum baru ini terus tumbuh dengan besar seiring dengan lahirnya industri 2.0 yang ditandai dengan lahirnya konsep produksi masal. Kaum buruh terus tumbuh menjadi kaum mayoritas pada peradaban manusia di era industri 3.0. Pekerja-pekerja independen terus berkurang, dan sedikit pula kelompok kaum pengusaha meskipun mereka ini umumnya memegang kekayaan mayoritas di suatu negeri.

 

Dengan lahirnya industri 4.0 arah balik menuju menurunya kaum buruh akan terjadi. Siapa yang akan menggantikan kaum buruh yang sekarang merupakan mayoritas penghuni planet ini ? Yang akan tumbuh kembali dengan pesat adalah kaum jenis baru yang mirip dengan kaum pekerja independen pra era industri namun dengan nama-nama yang bisa jadi sangat berbeda.

 

Misalnya akan lahir kaum baru yang bernama maker, yaitu orang-orang yang bekerja secara independen menghasilkan suatu produk yang sangat spesifik sehingga produk ini bisa ditangani dengan cara yang sangat efisien oleh para maker yang spesialis dibidangnya masing-masing.

 

Akan lahir pula kaum asembler/agregator/integrator yaitu kaum yang akan mampu secara independen mengorkestrasikan karya kaum maker, baik maker maupun asembler bukanlah karyawan atau buruh satu sama lain. Keduanya bekerja secara independen namun bersinergi satu sama lain.

 

Akan lahir pula jenis-jenis pekerjaan spesifik yang membutuhkan passion and art yang sangat unik. Maka dari sini akan lahir pula kaum yang disebut artisan. Life artisan misalnya adalah nama baru bagi kaum yang sekarang kita kenal sebagai petani, bedanya kalau petani pada umumnya menghasilkan produk-produk yang generik, life artisan menghasilkan produk-produk pertanian berkualitas tinggi dengan nilai jual yang tentu juga bisa sangat tinggi.

 

Dari sinilah nantinya di era industri 4.0 yang kemungkinan besar akan terjadi adalah zaman dimana sudah pernah terjadi di dunia 5 abad sebelum industri 1.0 lahir. Industri percetakan yang sangat besar misalnya sudah ada berabad-abad sebelum mesin cetak pertama dilahirkan. Semua maker dan artisan zaman itu "Maker, Artisan & Asembler" sudah ada di suatu zaman dimana ekosistem industri besar yang sangat modern pada zamannya sudah ada berabad-abad silam.

 

Nahkobah adalah "Industri" besar di era pra industri. Nahkobah yang disebut warikhin misalnya adalah "Industri 4.0" abad pertengahan yang menangani seluruh seluk beluk ekosistem "Industri" yang terkait dengan kertas. Mulai dari para ulama yang menulis kitab, para pembelajar yang menggandakan kitab tersebut dengan tulisan yang exacly sama dengan tulisan sang ulama, para artis yang megukir kaligrafi di setiap halaman kitab, para penjilid, para produsen kertas dan lain sebagianya semua bergabung dalam nahkobah warikhin.

 

Jadi sesungguhnya umat ini akan sangat siap menghadapi era industri 4.0 kalau saja umat ini mampu belajar dari sejarah berabad-abad silam. Berbagai peluang terbuka lebar untuk bisa menjadi para maker, artisan, asembler dan apapun namanya, kaum baru yang akan terlahir bersamaan dengan lahirnya industri 4.0.

 

Selain dari sisi produksi juga akan terjadi perubahan besar dalam konsentrasi dan arus kapital. Ilustrasi dibawah menggambarkan capital shift yang akan terjadi di era industri 4.0. Karena orang-orang bekerja secara independen secara maker baik artisan maupun maker, maka akan sangat berkurang kosentrasi kapital besar seperti yang terjadi di industri 1.0 sampai 3.0. Kebutuhan kapital akan ter-distributed ke masing-masing maker, artisan maupun asembler yang pada umumnya tidak terlalu besar.

 

 

Dari kalangan pemilik modal juga akan lebih terbuka peluang baru untuk bisa secara langsung berinvestasi kepada para pelaku usaha langsung atau bahkan langsung berusaha sendiri ketimbang menaruh dananya melalui pihak ketiga yang bahkan pemilik dana tersebut tidak tahu digunakan untuk apa sebenarnya dana yang mereka miliki seperti yang terjadi ketika kita menaruh uang di bank, asuransi, dana pensiun dlsb dimana kita sama sekali tidak tahu digunakan/diinvestasikan untuk apa uang kita tersebut.

 

Para pemilik dana lebih berpeluang besar untuk terlibat lebih dekat dengan objek investasinya sekaligus memiliki span of control yang lebih pendek dan disisi lain tentu juga berisiko lebih tinggi.

 

Namun resiko yang lebih tinggi ini akan bisa diminimize dengan teknologi yang mendorong transparansi seperti blockchain dlsb juga teknologi yang memungkinkan kita mengelola portofolio investasi yang lebih menyebar atau ter-distributed dengan mudah.

 

Tanpa kita sadari infrastruktur industri 4.0 kini sudah ada di jangkauan tangan kita. Berbagai mesin produksi canggih seperti mesin CNC, 3D printer dlsb kini sudah jauh lebih terjangkau. Teknologi blockchain untuk berbagai aplikasi bahkan anda bisa belajar dan magang gratis di Indonesia Crypto Center (cryptox.id).

 

Peluang untuk terlibat langsung di industri 4.0 dibidang manufacturing mesin, privab house sampai industri pertanian kini juga sudah hadir disini. Bahkan yang patut diacungi jempol juga industri keuangan kita yang digawangi oleh OJK sebenarnya juga sudah sangat siap mendukung lahirnya kaum-kaum baru tersebut diatas yang tumbuh seiiring dengan tumbuhnya industri 4.0 dengan serangkaian kebijakan yang sangat mendukung inovasi.

 

Saya melihat setidaknya dua kebijakan OJK yang patut di apresiasi ini, yaitu lahirnya peraturan OJK tentang Equity Crowdfunding yang lahir di penghujung tahun 2018, dan setelah beberapa bulan sebelumnya OJK juga sudah mengeluarkan peraturan yang menjadi "Umbrella" dari berbagai inovasi keuangan melalui pendekatan regulatory sandbox nya.

 

Pendek kata kita tidak perlu menunggu bulan April 2019 ini untuk bisa bergerak cepat menyongsong lahirnya industri 4.0. Siapapun yang akan memimpin negeri ini (mau ataupun tidak mau, suka ataupun tidak suka) industri 4.0 kini sudah mengetuk rumah-rumah dan kantor-kantor tempat kita bekerja. sKita tinggal memilih distrub or be distrubted-apakah kita akan menjadi kaum yang menggantikan atau kaum yang tergantikan di era 4.0 ini.