DEFINE ECONOMICS

Gerai Dinar

Sumber Daya Bebas Bea Untuk Pendidikan, Pelatihan dan Pendampingan Usaha dan Kewirausahaan.
Ahad, 18 November 2018

DEFINE ECONOMICS

 

Sejak kakek nenek moyang kita di surga yaitu Adam dan Hawa ketika beliau diperkenalkan oleh Allah SWT kepada musuhnya, Allah SWT juga memberi isyarat akan Economic Challenges yang akan mereka hadapi bila mereka sampai keluar dari surga. Ini menunjukkan betapa pentingnya aspek ekonomi agar mampu dikelola mengikuti petunjuknya karena bila tidak kita akan celaka dan Allah SWT sendiri yang mengabarkan ini bahkan ketika Adam dan Hawa belum perlu berurusan dengan masalah-masalah ekonomi. Breafing ekonomi selagi Adam dan Hawa masih di surga ini tertuang dalam rangkaian tiga ayat berikut:

            Kemudian kami berfirman, "wahai Adam! sungguh ini (Iblis) musuh bagimu dan musuh bagi istrimu, maka sekali-kali jangan sampai dia mengeluarkan kamu berdua dari syurga, nanti kamu celaka. Sungguh, ada (jaminan) untukmu disana, engkau tidak akan kelaparan dan tidak akan telanjang dan sungguh disana engkau tidak akan merasa dahaga dan tidak akan ditimpa panas matahari” (QS Taha :117-119)

            Dari rangkaian ayat ini, kita tahu bahwa yang dimaksud kecelakaan di ayat QS 20 :117 adalah tentang masalah terjaminnya urusan-urusan pangan, sandang, air minum dan perumahan selagi Adam dan Hawa di surga (QS 20 :118-119)

            Terimplikasi dari rangkaian ayat tersebut jaminan atas ketersediaan pangan, sandang, air minum dan perumahan tidak berlaku bagi Adam dan keturunan-keturunannya ketika keluar dari surga, seperti kita yang masih di dunia ini. Empat kebutuhan dasar inilah yang menggerakkan segala kegiatan ekonomi manusia sejak turunnya Adam dari surga hingga kita yang hidup di era post modern ini. Selama lebih dari tujuh puluh tiga tahun Indonesia merdeka kita pun mengenal tiga kebutuhan pokok yaitu sandang, pangan dan papan tetapi kita miss untuk kebutuhan dasar yang sangat penting yaitu air minum.

            Selama ini kita menganggap air minum tersedia begitu saja disekitar kita sehingga tidak ada upaya untuk menghematnya apalagi melestarikannya. Masyarakat-masyarakat perkotaan sudah merasakan dampak dari kesulitan air minum ini dengan membayar mahal kebutuhan air minum mereka. Sejumlah daerah juga mengalami defisit air minum hingga delapan bulan, bahkan untuk pulau Jawa, Bali dan Lombok di prediksi akan mengalami defisit air minum secara permanen (defisit dua belas bulan) pada tahun 2025 bila kita tidak berbuat yang kita bisa sekarang ini.

            Untuk pangan Alhamdulillah konon orang Indonesia yang masih lapar sekarang berada pada persentase satu digit. Namun karena jumlah penduduk Indonesia yang berada dikisaran 260 juta jiwa, persentas kelaparan yang satu digit tersebut bisa berarti melibatkan sekitar 20 juta orang. Yang bisa makan dengan cukup pun, ekonomi pangan kita belum sepenuhnya berpihak ke para pihak yang terlibat langsung dalam kegiatan produksi pangan. Para petani menjadi kelompok masyarakat yang berpenghasilan terendah di negeri ini. Mereka sering menjadi korban kebijakan publik yang terkait dengan impor bahan pangan dari luar negeri.

            Demikian pula urusan sandang, negeri yang sudah tujuh puluh tiga tahun merdeka ini masyarakatnya memang boleh dibilang tidak mengalami kesulitan untuk berpakaian secara cukup. Namun lagi-lagi, kegiatan ekonomi yang terkait dengan pengadaan sandang ini juga belum menguntungkan masyarakat kita. Kita begitu banyak mengimpor tekstil dan produk tekstil dari luar negeri sehingga mayoritas kita hanya menjadi pasar/konsumen dari kebutuhan dasar ini.

            Untuk perumahan, masalahnya lain lagi. Kaum milenial terancam semakin sulit untuk bisa memiliki rumah yang lebih terjangkau dari tempat kerjanya ditengah meningkatnya harga lahan dan kosentrasi kegiatan ekonomi di pusat-pusat kota.

            Jadi di empat kebutuhan dasar yang di indikasikan ke Adam dan Hawa selagi masih di surga tersebut, kini terbukti benar-benar menjadi tantangan ekonomi yang tidak mudah bagi kita yang hidup di dunia ini, lebih-lebih ketika persaingan hidup secara global semakin terbuka. potensi-potensi ekonomi kita seperti pasar sandang dan pangan yang sudah di serobot oleh para pemasar global. Namun kita dijamin pula oleh Allah SWT, kita tidak akan pernah tersesat dan juga tidak pernah celaka dalam urusan-urusan tersebut dengan syarat kita mengikuti petunjuknya. Jaminan Allah SWT ini ada di ayat berikut: Dia (Allah) berfirman "turunlah berdua kamu dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku, maka ketahuilah barangsiapa  mengikuti petunjuk-Ku, dia tidak akan sesat dan tidak akan celaka." (Q.S 20: 23)

            Bahkan di ayat yang lain Allah SWT juga mengungkapkannya dengan ayat yang senada, yaitu sebagai berikut: kami berfirman, "Turunlah kamu semua dari surga! kemudian jika benar-benar datang  petunjuk-Ku kepadamu, maka barangsiapa mengikuti petunjuk-Ku, tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.” (Q.S 2:38)

            Jadi betapa besar pun tantangan ekonomi yang kita hadapi sesungguhnya kita tidak perlu takut, bersedih, tersesat, apalagi celaka selagi kita berpegang kepada petunjuk-Nya. Didalam Al Qur'an amat sangat banyak ayat-ayat yang membahas detail dari setiap kebutuhan dasar tersebut diatas. Bahkan lebih dari itu, juga setiap hal yang menunjang terpenuhinya kebutuhan dasar tersebut, seperti masalah energi, keuangan, perdagangan, sosial, kesehatan, pendidikan, teknologi, pencatatan akutansi, kepemilikan hak, perlindungan atas kepemilikan hak, dan lain sebagainya pendek kata seluruh detail kebutuhan kita ada petunjuk-Nya dan ini dirangkum dalam satu ayat di surat An-Nahl ayat 89 yang intinya menjelaskan bahwa Al Qur'an atau petunjuknya ini adalah untuk menjawab semua persoalan.

            Ada belasan buku yang sudah saya tulis untuk menjelaskan berbagai hal tersebut dan InsyaAllah masih akan terus menggali sumber petunjuk yang tidak habis-habisnya ini.