Golden Balance : Financing the Needy

Gerai Dinar

Sumber Daya Bebas Bea Untuk Pendidikan, Pelatihan dan Pendampingan Usaha dan Kewirausahaan.
Ahad, 18 November 2018

Golden Balance : Financing the Needy

Perdebatan terbuka antara PB IDI dan BPJS membuat saya yang pernah 20 tahun di industri asuransi dan pernah menjadi penguji para ahli asuransi Indonesia terpancing untuk ikut berkontribusi. PB IDI benar bahwa pembatasan jaminan pada bayi yang baru lahir, katarak dan rehabilitasi medis akan dapat mengurangi mutu layanan kesehatan dan bahkan bisa mengorbankan keselamatan pasien.

 

Di sisi lain dari sudut pandang pengelola BPJS, perbagai upaya penghematan nampaknya terpaksa harus terus dilakukan karena defisitnya yang terus menggelembung. Saya belum berhasil peroleh laporan keuangan terakhir, tetapi per Desember 2017 saja aset neto dari Dana Jaminan Sosial (DJS) Kesehatannya sudah minus lebih dari Rp 23 trilyun, atau naik lebih dari 167% dari tahun sebelumnya yang minus Rp 8.6 trilyun.

 

Artinya ada pemburukan yang sangat dari kemampuan keuangan BPJS dalam melayani pembiayaan kesehatan masyarakat. Bahkan bila pemerintah jadi mengucurkan suntikan dana segar Rp 4.2 trilyun-pun itu sangat belum mencukupi untuk menambal bolong dana yang ada.

 

Lantas apa solusi besarnya ? Masalah besar tidak bisa diatasi dengan langkah-langkah yang konvensional, harus ada terobosan besar dalam mengatasinya. And believe it or not, terobosan besar ini biasa dilakukan oleh para usaha rintisan atau yang lebih dikenal dengan startups.

 

Di dunia startup, masalah besar identik dengan peluang besar. Karena-nyalah muncul perusahaan-perusahaan raksasa baru seperti Go-Jek, Bukalapak, Traveloka, Tokopedia dlsb.  Mereka masing-masing berhasil mengatasi masalah besar di bidangnya dan  mereka - pun menjadi besar.

 

Karena BPJS ini bisa menjadi bom waktu bagi pemerintahan baru 2019 nanti - siapapun presidennya, saya akan memilih calon presiden dan wakilnya yang bisa dan memang punya program untuk menjinakkan bom waktu ini.

 

Namun dari sudut pandang startup, ada beberapa totally new business model  sebenarnya yang bisa menyelamatkan jaminan kesehatan masyarakat ini - tidak lagi saya sebut BPJS karena bisa jadi bentuknya adalah totally different entity.

 

Pertama adalah yang saya sebut  konsep Golden Balance atau keseimbangan emas. Allah menciptakan segala sesuatunya secara ber-pasang-pasangan agar dunia ini seimbang " Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan agar kalian mengingat Allah " (51:49).

 

 

Seperti restoran saja, di Indonesia restaurant harus disertifikasi halal kalau ingin pasar mayoritasnya mau makan di restoran tersebut. Maka demikian pula layanan finansial seperti BPJS ini, dia harus sepenuhnya halal untuk mayoritas penduduk yang dilayaninya dapat merasa comfortable.

 

Bagaimana menghadirkan layanan kesehatan yang halal ini ? itulah Golden Balance tersebut berlaku. Ciptaan Allah yang selalu seimbang ini ada siang dan ada malam, ada yang kaya dan ada yang miskin.

 

Yang kaya dengan kelebihan yang dimilikinya dia punya kewajiban yang berbeda, yang miskin memiliki hak yang juga berbeda dari yang kaya. Ketika semua orang yang kaya maupun miskin menuntut hak yang sama ketika sakit - mau didanai dengan dana murah BPJS - ya habislah dana BPJS.

 

Cost center seperti dana kesehatan ini memang tidak seharusnya untung, tetapi sumber pendanaannya yang harus sustainable. Pendanaan sustainable tidak akan mencukupi dari iuran - karena se-kaya apapun orang akan merasa terbebani ketika membayar iyuran. Sehingga dia akan berusaha menarik balik iyuran tersebut dengan berlebih - yaitu memperbanyak klaim.

 

Sumber pendanaan yang sustainable ini salah satunya adalah dari usaha-usaha wakaf produktif. Orang akan lebih rela berwakaf ketimbang membayar iuran atau kalau di agama lain orang akan lebih suka doing good ketimbang terpaksa membayar kewajiban.

 

Maka budaya berwakaf secara produktif atau doing good inilah yang bisa dikembangkan oleh para startup yang ingin membantu BPJS ini. Apa bisa ? InsyaAllah bisa ! Lima tahun lalu para eksekutif muda mungkin enggan naik ojek. Tetapi lihat sekarang , siapapun merasa nyaman saja naik ojek on-line - karena telah menjadi budaya baru yang dikembangkan oleh para startupers.

 

Ketika budaya baru berwakaf atau doing good ini muncul, si kaya akan berlomba-lomba berwakaf menolong yang lagi membutuhkan - bukan karena diwajibkan, tetapi karena dia senang melakukannya.

 

Inilah yang terjadi di abad pertengahan ketika kesadaran berwakaf begitu tinggi, pengelolaan kesehatan saat itu adalah yang terbaik yang belum pernah tersaingi di jaman modern ini oleh negara yang paling maju sekalipun.

 

Ketika si kaya rajin berwakaf, Bymaristan - system pengelolaan kesehatan dalam sejarah Islam - secara luar biasa melayani orang-orang sakit. Kepada para pasien ini bukan hanya dirawat sampai sembuh tanpa biaya, ketika pulang dia diberi baju baru dan diberi uang saku. mengapa demikian ?

 

Karena saat itu rata-rata orang bekerja independen - tidak ada penghasilan ketika dia tidak bekerja. Maka baju barunya agar dia tetap menjaga kesehatan, sedangkan uang sakunya adalah agar dia tidak perlu langsung bekerja sampai bener-bener pulih. Lantas dari mana uangnya ? ya dari perbagai hasil wakaf produktif - wakafnya orang-orang yang mampu yang berlomba dalam kebajikan atau disebut fastabihul khairaat.

 

Orang-orang yang mampu bukannya rame-rame ikut klaim kesehatan karena berusaha me-recover iuran yang telah dibayarnya - seperti yang terjadi sekarang, mereka justru melihat peluang amal dari saudara-saudaranya yang lagi membutuhkan.

 

Iniah hikmah dari golden balance itu, yang kaya tidak bisa kaya sendirian - dia butuh tenaga dan do'a dari orang-orang yang tidak mampu. Sedangkan yang tidak mampu dari waktu-kewaktu perlu uluran tangan dari si kaya.

 

Ketika semua digebyah uyah - sama rata sama rasa - yang kaya dan yang miskin sama membayar iurannya dan sama pula dilayani dari dana yang sama - lha tekor teruslah si pengelola dana publik ini.

 

Tentu ini tugas berat membangun budaya baru, tetapi sekali lagi - betapa banyak startups yang berhasil melakukannya. Betapa banyak mereka yang telah mempengaruhi arah peradaban ini. Lihat apa yang dilakukan Google, Youtube, Uber, Air BnB, WeWork dlsb. Betapa dasyat arah perubahan peradaban yang dipengaruhinya !

 

Contoh solusi kedua lebih ekstrim lagi , yaitu apa yang saya sebut Autonomous Insurance - Asuransi yang tidak perlu membayar premi atau iuran, tetapi berdasarkan komitmen untuk saling membantu. Apa ini memungkinkan ?

 

Sangat mungkin, lagi-lagi dalam sejarah Islam ada yang disebut Aqilah - ketika anggota suatu suku atau kelompok bersepakat untuk saling tolong-menolong bila terjadi sesuatu atas salah satu anggotanya. Mereka tidak perlu mengumpulkan iuran di depan, tetapi ketika terjadi sesuatu - tidak ada satupun anggota yang ingkar dari komitmen bersama untuk membantu yang lagi membutuhkan.

 

Di jaman modern ini, komitmen tersebut bisa dituangkan dalam apa yang disebut smart contract dengan teknologi blockchain. Masing-masing peserta yang bergabung tidak perlu membayar premi atau iuran, tetapi harus memiliki saldo yang memadai di wallet-nya masing-masing untuk jaminan resiko yang diikutinya.

 

Ketika terjadi klaim yang verified by independent assessor - yang kemudian juga diputuskan melalui system consensus - maka dana yang ada di wallet tersebut baru bisa ditarik secara proporsional.

 

Dan masih banyak lagi yang bisa digagas oleh para startup yang mengerti bidang ini, yang bisa diberdayakan untuk memberi solusi dari masalah besar yang dihadapi oleh system BPJS tersebut.

 

Yang saya anjurkan ke pengurus BPJS secara terbuka melalui tulisan ini adalah - karena Anda mengelola urusan besar rakyat ini dan Anda memiliki masalah besar di keuangan Anda, Anda harus sangat terbuka terhadap ide-ide kreatif dari anak-anak terbaik bangsa ini yang memang ingin membantu memberi solusi besar atas masalah besar yang ada. Buat semacam corporate startup atau dorong anak-anak muda kreatif membantu memikirkan problem Anda - tentu setelah sebelumnya di-brief masalahnya. InsyaAllah kita bisa !