Tokenomics and Divine Money

Gerai Dinar

Sumber Daya Bebas Bea Untuk Pendidikan, Pelatihan dan Pendampingan Usaha dan Kewirausahaan.
Ahad, 18 November 2018

Tokenomics and Divine Money

Di tengah terpuruknya nilai Rupiah yang menimbulkan simalakama ekonomi - dijaga dengan suku bunga tinggi bisa mengerem laju pertumbuhan ekonomi sementara bila dibiarkan merosot akan menimbulkan ketidak percayaan dan kepanikan masyarakat – maka ada tiga pilihan kita, menoleh ke belakang, melihat jauh ke depan atau melihat ke satu arah yang menyajikan keduanya – yaitu petunjuk. Ketiganya saya uraikan di sini.

 

Melihat ke belakang, kita bisa setel jaraknya – mau setengah abad terakhir ? hasilnya kurang lebih seperti pada grafik di bawah. Uang kita memang bergejolak dari waktu ke waktu, tetapi trend daya belinya cenderung menurun jauh lebih cepat dari uang lain di dunia seperti Dollar misalnya.

 

 

Rupiah kita mengalami penurunan nilai tinggal 1/132 dari Rupiah empat dasawarsa lalu, dollar-pun mengalami penurunan meskipun tidak se-significant Rupiah. Dollar kini ‘hanya’ menurun tinggal 1/6 kali dibandingkan Dollar empat dasawarsa lalu. Namun dari sini kita mengetahui fitrah mata uang fiat secara umum – yang tidak ada nilai intrinsiknya – ia akan terus menurun daya belinya.

 

Di sisi lain bila kita menolah jangka yang jauh lebih panjang ke belakang, ada bukti authentic – bukti yang dipercayai umat ini – bahwa lebih dari 1400 tahun lalu ada uang yang satu unitnya setara kambing dan hingga kinipun satu unit uang tersebut tetap setara kambing – artinya tidak mengalami penurunan daya beli di rentang waktu yang amat sangat panjang, uang tersebut adalah Dinar atau emas.

 

Sekarang kita melihat kedepan, uang seperti apa yang akan mendominasi dunia ke depan kira-kira ? Terlepas dari kontroversinya sendiri, saya ambil contoh Bitcoin. Dia bukan dikeluarkan oleh bank central manapun, yang mengeluarkan tidak punya kantor bahkan tidak jelas jati dirinya, tidak ada organisasi atau direksinya yang bertanggung jawab – tetapi ‘uang’ Bitcoin itu dipercaya dan digunakan oleh begitu banyak orang di dunia.

 

Orang percaya kepada system yang menjaga Bitcoin itu, lebih dari kepercayaaanya terhadap pemerintah, bank central, organisasi besar, maupun direksi yang professional. Meskipun saya sendiri tidak lantas menganjurkan  untuk menggunakan Bitcoin ini, karena menurut saya masih sangat gharar – tetapi teknologinya yaitu blockchain bisa digunakan untuk menghasilkan uang yang lebih baik.

 

Para pengembang blockchain di seluruh dunia menyempurnakan aplikasi teknologi tersebut dari waktu ke waktu, bahkan perguruan tinggi – perguruan tinggi besar dunia seperti Oxford University  mengembangkan secara khusus pendekatan keilmuanya yang proper untuk teknologi yang satu ini.

 

Maka blockchain mulai men-trigger gelombang philosophy, pemikiran dan praktek ekonomi baru yang disebut Tokenomics. Token artinya satuan nilai yang digunakan untuk membangun suatu model bisnis atau organisasi, sedangkan nomics berasal dari bahasa latin nomo – yang artinya hukum atau aturan – jadi Tokenomics arti bebasnya kurang lebih adalah praktek ekonomi berbasis satuan nilai tertentu yang disebut token.

 

Gampangnya memahami token ini adalah ketika listrik prabayar Anda habis, Anda perlu membeli token untuk mengisinya kembali . Atau Anda mengajak anak masuk amusement center – semua mainan disana bisa dinikmati dengan token atau koin khusus, maka ketika masuk Anda membeli tokennya – ketika keluar dan di saku Anda masih ada token tersisa, dapat diuangkan kembali menjadi Rupiah atau uang fiat pada umumnya.

 

Kini di era teknologi blockchain, semua bisa di-token-kan – dan euphoria dunia untuk men-token-kan segala sesuatu ini dapat dilihat dengan berebutnya orang untuk nama domain yang dahulu tidak popular, kini menjadi sangat popular – yaitu domain name yang berakhiran ‘.io’ .

 

Mengapa demikian ? entah bagaimana ceritanya dan siapa yang mulai, tetapi para pengembang blockchain solution rata-rata menggunakan domain ‘.io’ ini sebagai alamatnya di dunia maya.

 

Dari bejibunnya token yang ada di dunia ini, untuk mudahnya saya kelompokkan menjadi tujuh saja – developer yang lain mau nambahkan atau ngurangi silahkan saja – tetapi menurut saya tujuh ini cukup representative untuk mewakili berbagai jenis token yang ada.

 

 

Pertama adalah Curreny Token - saya bedakan dengan crypto currency seperti Bitcoin dlsb yang tidak ada nilai intrinsiknya – Currency Token dikaitkan langsung dengan real asset atau produk, baik berupa barang ataupun jasa, tangible maupun intangible. Currency Token ini paling luas penggunaannya – karena dia memang dirancang sebagai medium of exchange atau alat tukar yang bersifat universal.

 

Currency Token yang menggunakan asset riil sebagai dasarnya juga dapat digunakan sebagai unit of account – satuan nilai yang stabil, nilainya tidak bias oleh penurunan nilai mata uang seperti yang saya uraikan di awal tulisan ini.

 

Kedua adalah Commodity Token, digunakan untuk mengambil hak atas produk berupa barang atau jasa yang terwakili oleh token tersebut. Commodity Token bisa menjadi natural hedge atau lindung nilai yang alami terhadap kebutuhan-kebutuhan atas barang dan jasa tertentu.

 

Misalnya kalau saya buat Commodity Token bernama Megawatts Hour (MwH) dan nilainya disetarakan dengan daya listrik 1 MwH , maka pemegang token ini dari kalangan industri yang menggunakan listrik besar dapat membelinya di depan untuk sekian tahun yang akan datang. Dengan ini faktor ketidak pastian usahanya yang disebabkan oleh harga listrik yang bisa naik sewaktu-waktu bisa diminimisir dan bahkan dieliminir karena dia terjamin kebutuhan listriknya dengan daya beli token MwH yang dipegangnya.

 

Ketiga adalah Earning Token , yaitu token yang digunakan untuk mendistribusikan  hasil dari suatu asset atau usaha. Misalnya kalau kaum muslimin Indonesia mau rame-rame membeli hotel di Mekah atau Madinah dengan token ijarah – sebut saja MMT (Makkah- Madinah-Token) – maka digunakan oleh siapapun hotel tersebut, kita yang memegang token ijarahnya dapat bagian dari uang sewa dari asset yang terwakili oleh token tersebut.

 

Keempat adalah Value Exchange Token, digunakan untuk membangun nilai bersama dengan saling membeli/menjual produk berupa barang atau jasa dari komunitas dalam Value Exchage Tersebut. Contohnya adalah di dunia barter, baik barter barang maupun jasa.

 

Barter adalah system ekonomi yang tangguh, tidak akan dibuat galau oleh penururunan daya beli mata uang seperti yang saya singgung di awal tulisan ini – namun terkendala satuan nilai yang mudah digunakan karena variasi baran dagangan yang ada bisa sangat banyak. Maka Value Exchange Token bisa menjadi solusinya.

 

Kalau saya buat barter segala kebutuhan basic yang terdiri dari Food, Energy and Water atau disebut FEW Token misalnya – yang nilinya setara dengan kebutuhan Food kita setiap hari (3,000 kcal), Energy (55,000 kcal) dan Water (7.8 liter) – maka FEW token ini bisa menjadi satuan nilai yang bisa menjembatani barter untuk apa saja dari tiga jenis kebutuhan dasar tersebut.

 

Kelima adalah Pass Token atau tiket masuk, dapat digunakan untuk layanan yang diberikan oleh pihak yang mengeluarkan Pass Token tersebut. Pengelola lapangan golf, sport center, pengelola jalan tol, parkir, bioskop, stadion bola dlsb dapat mengeluarkan Pass Token ini untuk para anggota ataupun pengunjung umumnya. Siapa saja yang memegang token cukup, dapat masuk dan menikmati layanan yang diberikan.

 

Keenam adalah Right Token, baik right atau hak yang terkait financial misalnya saham, ataupun yang tidak bersifat financial – misalnya hak untuk bersuara. Pemilu kita cenderung menimbulkan perbedaan dalam perhitungan suara, penentuan hak pilih dlsb. Sebelum Pemilu 2019 atau paling tidak sebelum 2024 mestinya sudah harus ada yang bisa mengelola Right Token ini.

 

Dengan token yang membawa hak pilih misalnya, rakyat dilindungi haknya dan hasil pemilu akan mudah diterima oleh siapa saja. Karena hak pilih yang dikelola melalui token dengan basis teknologi blockchain – tidak ada yang bisa menggunakan selain yang bersangkutan, dan tidak dapat digunakan dua kali – double spending.

 

Ketujuh adalah Donation Token, yaitu berbagi secara social tanpa mengharapkan balasan langsung atau segera. Perusahaan-perusahaan yang mengelola dana CSR, Bantuan Langsung Tunai (BLT) dari pemerintah, penyaluran zakat dan manfaat wakaf dlsb. bisa dikelola melalui token donasi ini.

 

Berbeda dengan system kupon , kartu dan sejenisnya, Donation Token lagi-lagi dikelola dalam system blockchain atau juga disebut Distributed Ledger Technology. Dia jauh lebih aman, datanya tidak bisa dimanipulasi, dicurangi dlsb sehingga penerima dari dana-dana social bener-bener adalah yang berhak.

 

Dengan tujuh jenis Token yang dibangun berbasis blockchain technology tersebut di atas, kita bisa melihat bahwa sejatinya untuk keperluan apapun – saat ini sudah bisa kita tinggalkan fungsi uang fiat secara bertahap dan digantikan dengan token. Segala produk baik barang maupun jasa, bisa ditokenisasi sedemikian rupa sehingga terbebas dari ketidak pastian nilai tukar mata uang fiat dari negara manapun.

 

Dan jangan dikira ini adalah mimpi atau ide yang tidak jelas, Anda bisa cari di luar sana apapun contoh kebutuhannya – somewhere, somebody – sudah ada yang membuat tokennya. Maka otoritas yang terkait mestinya memandang ini sebagai peluang yang bisa dimanfaatkan untuk mengatasi krisis terpuruknya nilai Rupiah saat ini.

 

Seandainya saya yang memegang otortitas yang terkait tersebut, makan token ini yang saya akan jadikan solusi mengatasi penurunan daya beli Rupiah, bagaimana bisa ?

 

Saya akan keluarkan token MwH (Megawatts Hour) untuk membangun perlistrikan di Indonesia yang lebih efisien, menyebar dan murah – karena bila energi murah, kita bisa bangun industri apa saja secara lebih efisien. Saya akan buatkan LMT (Logam Mulia Token) untuk menyedot dana-dana global masuk ke negeri ini dengan jaminan yang sangat solid yaitu emas dan perak kita.

 

Saya akan buatin GnT (Grain Token) untuk menarik dana-dana murah masuk ke negeri ini untuk membiayai penanaman PAJALE (padi, jagung dan kedelai) yang massif. Dunia luar tidak usah sibuk meng-ekspor produk pertaniannya ke negeri ini, cukup mengirimkan dananya dan kembali dalam bentuk hasil yang menarik.

 

Bukankah kalau mereka ekspor ke negeri ini – ujungnya juga pingin untung ?, untuk ekspor negara-negara tersebut perlu bersaing habis-habisan memasukkan barangnya ke sini - negeri dengan penduduk no 4 terbesar di dunia Dengan mengirimkan dananya saja , mereka otomatis mendapatkan pasarnya – karena pasti lebih bersaing – karena barangnya sudah diproduksi di dalam negeri ini.

 

Ketika dana murah masuk ke negeri ini semudah orang membeli Bitcoin dari manapun dia berada – karena memang teknologi blockchain yang sama yang digunakan – otomatis Rupiah akan menguat kembali, karena ekonomi berputar cepat di negeri ini. Penguatan yang riil, bukan penguatan yang semu yang diperjuangkan dengan membuang begitu banya resources yang ada.

 

Dengan melihat jauh ke belakang, kemudian juga melihat jauh ke depan – kita bisa melihat solusi yang dibutuhkan untuk menyelamatkan ekonomi negeri ini – agar kita tidak harus mengalami apa yang sudah  pernah kita alami selama krisis moneter 1997-1998.

 

Mengapa kita yakin ini bisa jadi solusi ? kalau untuk ini kita tidak perlu ragu, karena hanya dengan melihat ke satu arah – kita sudah menemukan semua jawabannnya. Jawaban atas uang apa sih yang seharusnya kita gunakan ? itulah yang saya sebut Divine Money atau Uang Ilahiah, karena memang ‘uang’ tersebut disebut di Al-Qur’an dan Hadits.

 

Uang yang disebut di Al-Qur’an dan Hadits adalah uang yang abadi karena kebenaran Al-Qur’an dan hadits adalah untuk umat akhir zaman, artinya berlaku sampai hari kiamat. Benar ketika diturunkan, benar sekarang dan benar di masa yang akan datang.

 

Uang dari emas – disebut secara specific by name yaitu Dinar di Surat Ali Imran ayat 75 dan Dirham di surat Yusuf ayat 20. Memang kalau digunakan secara fisik akan sedikit merepotkan karena untuk memecah koin menjadi sangat kecil menjadi sulit untuk dihandlenya. Maka menggunakan pendekatan tokenisasi hal ini tidak masalah, karena secara digital dipecah menjadi sekecil apapun itu memungkinkan.

 

Bila Bitcoin saja yang nilainya sekarang sekitar Rp 91 juta, tetapi bisa dipecah menjadi 1/100 juta yang disebut satoshi, maka satu satoshi adalah kurang dari Rp 1,- harga sekarang. Demikian pula uang yang juga bangkit sangat cepat – diperkirakan mengalahkan Bitcoin yaitu Ethereum, saat ini nilai tukarnya ke Rupiah sekitar Rp 6.43 juta – tetapi satuan terkecilnya yang disebut wei nilainya 1/10^18 , dibaca 1 per sepuluh pangkat 18 – bisa dibayangkan kecilnya pecahan itu.

 

Well maksud saya hanya menekankan bahwa uang dengan satuan Dinar yang sekarang hanya sekitar Rp 2.2 juta , tentu sama sekali tidak masalah untuk digunakan sebagai token di era teknologi blockchain saat ini. Demikian pula Dirham yang nilai koinnya hanya sekitar Rp 65,000,-.

 

Lebih dari itu, Dinar dan Dirham bila digunakan untuk standar token, dia bisa merepresentasikan dua jenis token yang utama dari 7 token di table tersebut di atas, yaitu Currency Token maupun Commodity Token. Emas dan perak adalah uang hakiki yang sepanjang jaman bisa merepresentasikan tiga fungsi mata uang sekaligus yaitu Medium of Exchange, Unit of Account dan Store of Value.

 

Bagi yang alergi dengan emas dan perak-pun tidak ada masalah, ada enam jenis fungible goods yang sangat mudah di-token-kan karena memang secara fitrah adalah alat tukar yang hakiki. Enam fungible goods ini adalah yang disebut dalam hadits sbb :

 

Emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, sya’ir (gandum) dengan sya’ir(gandum), kurma dengan kurma, garam dengan garam, maka jumlahnya (takaran atau timbangan) harus sama dan dari tangan ke tangan (tunai). Jika jenis barang berbeda, maka silakan mempertukarkannya sesukamu, namun harus dilakukan dari tangan ke tangan (tunai).” (HR. Muslim)

 

Benda lain yang mirip dapat diqiyaskan dengan benda-benda tersebut, misalnya uang kertas dianggap benda ribawi karena diqiyaskan dengan emas dan perak. Maka demikian pula dengan jagung, padi, kedelai  dapat diqiyaskan dengan gandum pada hadits tersebut di atas.

 

Walhasil, tanpa teknologi-pun dari dahulu kita bisa menggunakan emas, perak, gandum, kurma, garam dlsb sebagai alat tukar atau currency – apalagi dengan teknologi mutakhir seperti blockchain – currency exchange should not be a problem at all – penurunan Rupiah tidak perlu menjadi kegalauan nasional apalagi sampai menurunkan kinerja ekonomi nasional kita.

 

Bagi Anda yang tertarik untuk mendalami Tokenomics ini secara khusus dan secara umum adalah  blockchain technology-nya, kami akan adakan Blockchain and Tokenomics Briefing secara GRATIS di Indonesia Startup Center, Jl. Juanda 43 Depok, pada hari Sabtu 7 Juli 2018 jam 09.00-12.00. Namun karena tempat yang terbatas, hanya cukup untuk 100 orang – silahkan mendaftar dahulu melalui : bit.ly/tokenomics