Farmers With Their Own Satellite

Gerai Dinar

Sumber Daya Bebas Bea Untuk Pendidikan, Pelatihan dan Pendampingan Usaha dan Kewirausahaan.
Selasa, 18 September 2018

Farmers With Their Own Satellite

Negeri kincir angin Belanda luasnya hanya sekitar 40,000 km2 - sedikit lebih luas dari Jawa Barat (37,000 km2) tetapi lebih kecil dari Jawa Timur (47,000 km2) – merupakan negeri yang luar biasa dalam urusan pertanian mereka. Betapa tidak, negeri ini merupakan eksportir produk-produk pertanian nomor dua terbesar di dunia setelah Amerika Serikat. Bagaimana bisa ? bukankah pertanian selalu identik dengan tanah yang luas ? ternyata tidak, sama dengan usaha lainnya - pertanian adalah terkait optimalisasi resources – bukan pada potensi dari resources itu sendiri.

 

Justru karena kecilnya, maka negeri seperti Belanda bisa menggunakan sumber dayanya secara maksimal sehingga bisa unggul dalam produksi pertaniannya. Ditambah jumlah penduduk negeri itu yang hanya sekitar 17 juta Jiwa atau kurang dari separuh penduduk Jawa Timur (39 juta), membuat mereka mampu mengekspor sebagian besar dari produksi pertaniannya.

 

Sebaliknya kita di Indonesia, penduduk kita sangat besar otomatis konsumsi produk-produk pertanian juga sangat besar. Luas lahan kita juga lumayan besar sebenarnya, namun menyebar di ribuan pulau-pulau yang besar dan kecil yang membuat integrasinya tidaklah mudah.

 

Di meja saya saja misalnya, ada 23,000 hektar lahan yang oleh pemiliknya diminta kita utuk mengolahnya – terserah mau ditanami apa. Yang menjadi kendala adalah lokasi dan aksesnya, untuk survey lokasi saja – team kami belum ada yang berminat. Betapa tidak, untuk mencapai suatu wilayah di lokasi ini , dari kota terdekat hanya bisa dijangkau melalui naik ojek 24 jam dengan biaya Rp 1.5 juta sekali jalan !

 

 

Lokasi lain yang juga sudah didiskusikan intensif dengan kami malah dalam skala ratusan ribu hektar, yang oleh pemiliknya juga baru dicoba olah dalam beberapa ratus hektar saja. Walhasil selebihnya masih menunggu pemikiran-pemikiran cerdas untuk memilih jenis tanamannya yang efektif dan kemudian juga produknya yang feasible untuk dikirim ke sentra-sentra konsumennya.

 

Walhasil besarnya luasan Indonesia baru bersifat potensi, sedangkan kebutuhan untuk konsumsi produk-produk pertanian adalah kebutuhan yang riil. Gap antara kebutuhan yang riil dengan potensi yang belum terolah inilah yang masih harus kita impor, bahkan tidak menutup kemungkinan bila kita bisa mengoptimalkan penggarapan lahan-lahan pertanian kita secara maksimal – kita akan bisa menjadi eksportir hasil-hasil pertanian utama kita ke depan.

 

Tahun 1929 Indonesia adalah eksporti gula tebu terbesar di dunia, mengapa kurang dari 90 tahun kemudian (2017) kita justru menjadi importir gula tebu terbesar di dunia ? Artinya dunia bergerak lebih cepat dari kita, sedangkan kita justru stagnan atau malah mengalami kemunduran.

 

Maka dibutuhkan kembali mimpi-mimpi besar para petani ini, agar kita bisa kembali berjaya di dunia pertanian global. Sebagian dari mimpi besar tersebut Alhamdulillah sudah bisa kita rubah menjadi visi, karena kita sudah melihat dengan begitu jelas – jalan untuk mengimplementasikannya.

 

Kami bersama sejumlah petani-petani lain salah satunya pernah bermimpi untuk memiliki satellite sendiri, yang dengannya kita bisa melihat lukisan alam nan indah yang kita torehkan di tanah-tanah perkebunan kita yang luas – masing-masing membentuk seperti garis tangan yang unique, yang tida ada kembarannya di dunia – garis tangan para petaninya.

 

Namun bukan hanya keindahan alam ini yang ingin kami lihat, dengan satellite kita bisa secara detail mendeteksi kelembaban tanah di setiap wilayah, rasio humidity udaranya, suhu permukaan tanahnya sampai curah hujannya. Dengan ini kita akan bisa melihat, mana-mana wilayah kita yang masih bisa dioptimalkan tanamannya, mana-mana yang masih terlantar, tanaman apa yang kiranya fit untuk masing-masing wilayah dst.

 

Untuk daerah yang sudah ditanami-pun satellite dapat terus meningkatkan hasilnya, berbagai jenis penyakit bisa dideteksi sedini mungkin hanya dengan mengolah citra dari daun-daun tanamannya, dari warna daun pula bisa diketahui kondisi nutrisi tanaman yang bersangkutan dan perbaikan-perbaikan apa yang bisa dilakukan untuk memperbaikinya.

 

Mengapa tidak pakai drone saja yang murah ?, drone hanya bisa efektif untuk luasan tertentu. Ketika kita ingin monitor suatu wilayah yang luas seperti Indonesia, dan terus menerus selama bertahun-tahun – maka satellite-lah yang bisa berperan secara optimal dan pastinya juga jauh lebih murah dalam jngka yang panjang.

 

Pendek kata dari ketinggian satellite antara 250 kmi – 500 km dari permukaan bumi (25-50 kali ketinggian pesawat komersial), kita akan bisa memelototi lahan-lahan kita dimanapun dia berada – sampai begitu detilnya, karena satellite ini bisa mengamati luas lahan yang hanya seukuran kamar kita ( 3x5 m) sekalipun.

 

Apakah penggunaan citra satellite ini tidak justru meningkatkan ongkos bertani kita ? apakah nantinya tidak malah membuat petani dan perkebunan besar saja yang mendapatkan manfaatnya ? Tidak harus demikian. Koperasi setingkat Unit Desa (KUD)-pun bisa menyewa jasa satellite ini untuk memetakan wilayah kerjanya secara akurat, ketika biayanya dishare oleh para petani anggota KUD – biaya ini tidak seberapa dibandingkan dengan potensi peningkatan hasilnya.

 

Bisa juga Pemda Tk 2 setempat – melalui dinas pertaniannya – menggunakan satellite ini untuk perencanaan wilayahnya secara akurat. Mereka akan bisa memberi guidance yang akurat untuk para petani setempat, apa yang sebaiknya ditanam dan kapan. Bersama Pemda Tk 1, mereka juga bisa membuat perencanaan yang matang untuk wilyah mereka yang belum tergarap secara optimal.

 

Di Jaman ketika Matt Damon ‘bermimpi’ untuk menanam kentang di Marsh ( Dalam Film The Martian !), mengapa tidak kita bervisi untuk mengalahkan Belanda dalam ekspor produk-produk pertanian – seteah kita ‘menaklukkan’ lahan-lahan luas kita di Kalimantan, Sulawesi, Irian dan perbagai pulau-pulau lainnya.

 

Mengapa target kita mengalahkan Belanda dan bukan mengalahkan yang nomor 1 yaitu Amerika ? Kita pernah mengalahkan Belanda dalam merebut kemerdekaan negeri ini ! jadi sudah pernah kita lakukan mestinya menjadi lebih mudah, hanya medannya saja yang sekarang berubah – yaitu produk-produk pertaniannya !

 

Saya katakan sebagai visi dan bukan lagi mimpi karena kita sudah bisa membuat perencanaan detil, siapa yang membuat satellite-nya, berapa biayanya, bagaimana membiayainya, berapa ongkos yang harus dibayar oleh petani/kelompok tani yang ingin menggunakannya dlsb. Maka inilah waktunya bagi para petani untuk bersama-sama memiliki satellite-nya sendiri !

 

Dan bagi para petani, satellite ini tidak harus menjadi cost center - bahkan bisa menjadi profit center tersendiri - karena waktu-waktu luangnya bisa disewakan ke para nelayan untuk mendeteksi konsentrasi ikan dan mencegah illegal fishing. Bisa disewakan ke kehutanan untuk mencegah illegal logging dan deteksi dini kebakaran hutan, bisa disewakan ke BNPB untuk penanggulangan dan minimisasi dampak bencana, dan masih banyak potensi penggunaan lainnya - sehingga para petani nantinya bisa hanya 'numpang' saja untuk penggunaan satellite-nya ini.