Mata’al lil Muqwiin

Gerai Dinar

Sumber Daya Bebas Bea Untuk Pendidikan, Pelatihan dan Pendampingan Usaha dan Kewirausahaan.
Selasa, 23 Oktober 2018

Mata’al lil Muqwiin

Sekitar tujuh abad setelah Al-Qur’an turun, mufassir terbesar yang karyanya jadi rujukan hingga abad ini yaitu Ibnu Katsir (1301-1372) nampak berusaha keras menjelaskan dua buah kata – tentang sesuatu benda yang pada jamannya belum sepenuhnya dikenal wujudnya. Maka ketika dua kata ini muncul dalam Al-Qur’an terjemahan bahasa Indonesia yang terbaru sekalipun, penjelasannya masih belum spesifik karena juga merujuk pada tafsir berabad-abad lalu itu. Dua kata itu adalah Mata’al lil Muqwiin yang diterjemahkan ke Al-Qur’an bahasa Indonesia menjadi bahan yang berguna untuk musafir.

 

Bayangkan ketika Ketika Ibnu Katsir hidup di abad 14, James Watt belum menemukan mesin uap – karena mesin uapnya baru dipatentkan empat abad setelah jaman Ibnu Katsir. Apalagi mesin-mesin internal combustion engine yang kita pakai hingga kini, baru dipatenkan oleh  Nikolas Otto lima abad setelah Ibnu Katsir meninggal.

 

Jadi pasti sulit untuk membayangkan di abad 14, sesuatu yang terkait dengan api dari kayu, yang digunakan sebagai bahan oleh orang yang melakuan perjalanan. Yang terbayang saat itu adalah suluh untuk menerangi jalan di malam hari, atau kayu yang digunakan untuk masak ketika sang musafir istirahat ingin makan dan minum dalam perjalanannya.

 

Maka Ibnu Katsir menggali riwayat yang sampai ke Ibnu Abbas – apa yang sesungguhnya dimaksud dengan ‘mata’al lil muqwiin’ ini. Menurut Ibnu Abbas ‘al-muqwiin’ adalah orang-orang yang melakukan perjalanan, karena ini berasal dari ungkapan ‘aqwat at-daar’ yaitu rumah yang kosong ketika penghuninya bepergian.

 

Belum puas sampai disini, Ibnu Katsir masih menggali lagi dari sumber lain, yaitu sampai ke Mujahid yang menjelaskan kata ‘mata’al lil mukwiin’ , ini secara panjang lebar dijelaskan oleh Mujahid. Intinya dia adalah ‘untuk mereka yang sedang di rumah dan sedang bepergian, untuk segala macam makanan yang membutuhkan api untuk memasaknya…, al-muqwiin adalah orang yang menikmati makanan yang dimasak dari api.’

 

Tentu semua penjelasan tersebut benar, hanya pada jamannya yang nampak oleh mereka hanya api yang digunakan untuk memasak makanan, menerangi rumah dan suluh dalam perjalanan. Mereka tentu belum paham bahwa sekian abad kemudian, api dari kayu itu menjadi bahan yang benar-benar digunakan untuk bahan utama dalam perjalanan – untuk kendaraan mereka.

 

Pada era James Watt abad 18 ketika kayu bakar baru digunakan untuk mesin-mesin uap yang menggerakkan kereta dlsb, ‘mata’al lil mukwin’ ini menjadi lebih mudah dimengerti karena kendaraan bener-bener menggunakan kayu secara langsung sebagai bahan bakar-nya untuk dapat melakukan perjalanan.

 

Orang-orang yang hidup di jaman ultra modern saat ini mungkin tidak sadar bahwa bahan bakar yang mereka gunakan juga berasal dari kayu atau tanaman, karena bahan bakar tersebut diambil dari kayu dan tanaman yang telah menjadi fosil lebih dari 10,000 tahun lalu – tetapi esensinya tetap kayu atau tanaman.

 

Tidak lama lagi manusia yang lebih modern lagi akan kembali dengan mudah memahami bahwa segala bahan bakar, baik yang digunakan ketika kita di rumah untuk masak, pemanas dlsb. , maupun ketika kita dalam perjalanan membutuhkan bahan bakar untuk kendaraan yang kita tumpangi – semuanya bisa dibuat langsung dari kayu dan tanaman yang hidup saat ini di sekitar kita.

 

Kalau saja kita bisa menggerakkan resources yang ada, baik itu teknologi, pendanaan dlsb., maka dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi – bahan bakar untuk segala keperluan ini bener-bener bisa dibuat sendiri dari bahan-bahan yang ada di sekitar kita.

 

Eksperimen kami Alhamdulillah sudah lebih dari 50%, semua biomassa bisa berubah menjadi gas ketika dipanaskan di reactor gasifikasi kami – saat ini menjadi Syngas, selangkah lagi insyaAllah menjadi bio-based Dimethyl Ether (Bio-DME) yang merupakan bahan bakar serbaguna, baik untuk orang yang melakukan perjalanan (untuk kendaraan) maupun orang yang menetap (bahan bakar rumah tangga).

 

Ini juga untuk membenarkan janjiNya di ayat lain, bahwa Dia akan membentangkan tanda-tanda kekuasaanNya di seluruh penjuru sampai jelas bagi kita semua bahwa Al-Qur’an itu sungguh benar (QS 41:53). Maka kalau Al-Qur’an itu bicara api dari kayu, dan bahan api yang menjadi bahan untuk melakukan perjalanan – bahasa kita sekarang sederhana , yaitu bahan bakar atau fuel – itu juga benar, baik ketika Al-Qur’an itu turun, jamannya Ibnu Katsir 7 abad kemudian, maupun di jaman kita yang sudah 14 abad sejak Al-Qur’an turun, juga benar hingga akhir jaman.

 

Dari upaya Ibnu Katsir tersebut kita menjadi paham sekarang, bahwa kebenaran Al-Qur’an itu tetap, baik kita bisa menjelaskannya maupun kita tidak bisa menjelaskannya. Itulah sebabnya, Allah mensifati orang beriman di awal Al-Qur’an sebagai orang yang beriman kepada yang ghaib. Bila terhadap yang ghaib saja kita beriman, apalagi terhadap yang terbukti secara ilmiah !