Pengantar I’tikaf : The Nature of Energy

Gerai Dinar

Sumber Daya Bebas Bea Untuk Pendidikan, Pelatihan dan Pendampingan Usaha dan Kewirausahaan.
Sabtu, 23 Juni 2018

Pengantar I’tikaf : The Nature of Energy

Ayat-ayat Allah itu ada dua bentuk yaitu qauliyah dan kauniyah, qauliyah adalah yang tertulis di kitabNya – Al-Qur’anul Karim – yang menjadi bacaan sehari-hari kaum muslimin di seluruh dunia apalagi di bulan Ramadhan seperti ini. Ayat Kauniyah adalah tanda-tanda kekuasaanNya yang dibentangkan di seluruh bumi dalam setiap benda dan peristiwa, hanya dengan menguasai keduanya umat ini dijanjikan menjadi umat yang unggul (QS 3:138-139).

 

Tentang ayat kauniyah ini, Allah berfirman : “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?” (QS 41:53).

 

Tentang ayat qauliyah kita sudah sangat biasa, membaca atau menghafal/muraja’ah sampai satu juz bahkan lebih setiap hari di bulan Ramadhan seperti ini – apalagi di waktu-waktu i’tikaf ketika 10 hari terakhir kita cuti dari pekerjaan dan khusus diam di masjid membaca dan mentadaburi ayat-ayatNya.

 

Tetapi bagaimana dengan ayat-ayat kauniyahNya, dapatkah di bulan Ramadhan ini kita menyaksikan tanda-tanda kekuasaanNya yang dijanjikan di ayat tersebut di atas ? yang dengan itu menggerakkan kita untuk beramal dan menjadi umat yang unggul  sebagaimana janjinya di rangkaian ayat berikut ?

 

Inilah (Al-Qur’an) suatu keterangan yang jelas bagi semua manusia, dan menjadi petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. Dan janganlah kamu (merasa) lemah dan bersedih hati, karena kamu yang paling tinggi (derajatnya) jika kamu orang beriman” (QS 3:138-139).

 

Jadi rangkaan ayat-ayat ini jelas, kita hanya menjadi yang paling unggul bila kita menggunakan Al-Qur’an sebagai petunjuk dan pelajaran. Maka ketika kita mempelajari ayat-ayat kauniyahNya, segala benda dan peristiwa yang ada dibentangkannya di muka bumi ini-pun juga harus dengan mengikuti petunjukNya.

 

Nah bagaimana kalau satu atau beberapa ayat qauliyahnya yang kita baca, hafalkan dan tadaburi – dari 6,000-an lebih ayat di Al-Qur’an yang kita khatamkan– kita jadikan gacoan Ramadhan kita tahun ini sebagai bentuk exercise – memahami yang kauni berdasar petunjuk yang qauli ? maka insyaAllah hal-hal besar akan terjadi.

 

Sebagai contoh, ayat-ayat qauliyah yang akan kita jadikan exercises kita di I’tikaf kami bersama para pembaca situs ini dan juga keluarga besar Kuttab Al-Fatih di Hambalang – Sentul, adalah ayat-ayat tentang energi, maka tema I’tikaf kami tahun ini adalah Energi Al-Qur’an.

 

Ayat-ayat qauliyahnya antara lain ada di Surat Yaasiin ayat 80 tentang api atau energi dari pohon yang hijau, surat Al-Waqi’ah ayat 71-73 tentang api dari pohon secara umum, dan surat An-Naba 13-15 tentang proses turunnya sinar matahari, hujan dan tumbuhnya biji-bijian dan aneka tanaman. Dapatkah kita mengkaitkan yang qauli ini dengan yang kauni di sekitar kita ?

 

Perhatikan ilustrasi berikut tentang proses turunnya sinar matahari dan air hujan sampai menjadi energi dalam arti yang luas. Energi dari matahari yang kemudian menghasilkan energi yang dibutuhkan oleh tubuh kita – kita sebut makanan (food), dari tanaman yang sama ketika menjadi fossil dalam puluhan ribu tahun menghasilkan energi juga yang kita sebut bahan bakar (fuel) dari fossil.

 

Selama beberapa dasawarsa ini manusia sadar bahwa energi fossil yang dikeruk selama seabad terakhir, kini mendekati ujungnya. Maka dicari energi baru, dari tanaman yang tidak perlu menunggu puluhan ribu tahun – langsung diproses menjadi energi, manusia bisa menghasilkan energi baru yang disebut bioethanol, biodiesel dlsb.

 

Namun ketika manusia mencarinya tanpa mengikuti petunjukNya, yang terjadi adalah trial and error. Ketika jagung di Amerika dijadikan bioethanol, di negeri tetangganya - Meksiko terjadi huru-hara tortilla – karena bahan makanannya dijadikan bahan bakar oleh Amerika. Penambahan bauran energi 2 % dari biofuel generasi awal ini menyedot 34% produksi pertanian yang semula untuk pangan.

 

Dari contoh tersebut kita bisa melihat dengan jelas, perlunya membaca petunjukNya tentang apa yang seharusnya menjadi energi untuk tubuh (food) dan energi untuk kebutuhan kendaraan kita (fuel). Surat Al-Waqi’ah 71-73 mejadi jauh lebih mudah dipahami di jaman ini, ketika orang yang bepergian membutuhkan api atau energi dalam bentuk fuel dari kayu bakar. Mengapa demikian ?

 

Karena bahan bakar untuk mobil kita bener-bener bisa kita proses langsung dari pepohonan dan bahan biomassa lainnya – termasuk dedaunan, yang kita proses melalui gasifikasi menjadi syngas dan kemudain menjadi Dimethyl Ether (DME) yang disebut sebagai fuel of the 21st century.

 

Dari memahami ayat-ayat kauniyah berupa perbagai bentuk molekul di atas, mulai dari carbohydrat/gula/cellulose, bensin/diesel, ethanol dan methanol hingga Dimethyl Ether (DME),  kita bisa paham bahwa diputar kemanapun energi baik itu food maupun fuel , baik yang datang dari puluhan ribu tahun lalu (fossil) maupun yang kita proses sekarang dari kayu sekarang  yang masih hijau (Surat Yaasiin :80), semua unsur pembentuknya adalah sama yaitu unsur Carbon (C) , Hydrogen (H) dan Oxygen (O).

 

Lantas dimana unggulnya kita ini kalau hanya baru bisa memahami ? memahaminya tentu sudah suatu kemajuan tersendiri, tetapi bagaimana berperan aktif dalam menghasilkan karya-karya yang inovatif berdasarkan petunjuk tersebut-lah yang akan menghadirkan keunggulan.

 

Untuk memproses segala bahan biomassa non – pangan (agar tidak berebut dengan bahan makanan) menjadi bahan bakar yang baru dan terbarukan, bahan bakar yang amat sangat bersih dengan harga yang terjangkau oleh seluruh umat, maka inilah antara lain yang membutuhkan amal yang nyata yang dapat dilakukan oleh orang-orang yang berilmu pada bidangnya masing-masing.

 

Untuk proses DME dari biomassa (BioDME) tersebut misalnya, saat ini eksperimen kami telah mencapai lebih dari 50%, namun kami masih membutuhkan banyak keahlian lainnya  - agar kerja jama’i ini lebih sempurna.

 

Diantara yang kami butuhkan adalah ahli gasifikasi untuk menyempurnakan reactor yang sudah kami buat, kemudian ahli katalis karena begitu banyak bagian dari proses ini memutuhkan katalis yang paling efektif, ahli destilasi agar produk yang kami hasilkan mencapai kemurnian maksimal, ahli motor eksternal (stirling engine) agar seluruh panas yang keluar dari proses ini dapat dimanfaatkan menjadi energi listrik setidaknya untuk keperluan ragkian proses ini sendiri. Dan berbagai keahlian lainnya.

 

Dari kebutuhan keahlian yang tidak ada pada diri kita tersebut-lah kita justru menjadi paham, betapa hanya memahami ayat-ayat qauliyah-nya, belum serta merta kita menjadi unggul. Bahkan ketika kita baru menguasai sebagian saja dari ayat kauniyah ini - kita juga belum uggul. Kita hanya unggul bila menguasai keduanya secara menyeluruh sampai ke inti persoalannya, inilalah yang disebutu ulul albab ( dari lubb - inti persoalan), ialah orang-orang yang benar-benar berilmu dan berakal, orang yang diberi hikmah kebaikan yang banyak dan orang yang kepadanya Allah mengajarinya ilmu secara langsung.

 

Diantara ilmu-ilmu tersebut sebagian bisa diajarkan, sebagian lain harus dijalani dalam kehidupan nyata – nanti kita akan paham dengan sendirinya, maka disitulah letak pentingnya amal. Itulah sebabnya pula mengapa yang dikeluarkan dari himpunan universal orang-orang yang rugi, adalah orang yang beriman, beramal salih, menasihati dengan kebenaran dan kesabaran.

 

Kajian lengkapnya insyaAllah bisa diikuti di Masjid Madrasah Al-Fatih Sentul mulai jam 8:30 – 11:30 setiap hari selama waktu I’tikaf 10 hari terakhir Ramadhan. InsyaAllah.