Blockchain May Save Life…

Gerai Dinar

Sumber Daya Bebas Bea Untuk Pendidikan, Pelatihan dan Pendampingan Usaha dan Kewirausahaan.
Senin, 21 Mei 2018

Blockchain May Save Life…

Pentingnya data dalam kehidupan adalah karena data bisa menyelamatkan keidupan itu sendiri. Bukan hanya data crucial seperti rekam medis, frequency bencana alam dan sejenisnya – tetapi juga data yang nampaknya jauh dari urusan hidup dan mati seperti data tentang hasil pertanian. Data tentang produksi jagung misalnya, bisa berdampak terhadap hidup dan mati – maka dia harus diurusi dengan seterpercaya mungkin, salah satunya bisa menggunakan blockchain technology.

 

Mengapa saya beri contoh data jagung ? karena sudah dua tahun ini sejak tahun 2016 produksi jagung nasional kita jadi perdebatan panjang. Menurut klaim Departemen Pertanian, tahun 2016 produksi jagung nasional kita mencapai 23.16 juta ton dan tahun 2017 mencapai 27.9 juta ton.

 

 

Asumsinya data produksi ini adalah benar, maka tahun 2016 ada kenaikan 18 % dari tahun sebelumnya dan tahun 2017 tumbuh lagi 20% dari tahun sebelumnya. Artinya dalam dua tahun terakhir produksi jagung kita tumbuh 41.6% dari tahun 2015 yang hanya 19.6 juta ton. Ini adalah kenaikan yang luar biasa tinggi selama ¼ abad terakhir, dan karenanya effort pemerintah perlu diacungin jempol.

 

Dengan asumsi data ini benar pula, maka langkah pemerintah menurunkan impor jagung menjadi langkah yang patut dipuji karena kecukupan produksi jagung nasional telah memberi kesempatan para petani jagung untuk menjawab tantangan bahwa mereka mampu swasembada jagung

 

Namun tanpa berusaha meragukan data yang disampaikan oleh instansi terkait, saya hanya berandai saja – WHAT IF – data pertumbuhan yang luar biasa tinggi tersebut ternyata tidak atau kurang akurat. WHAT IF pertumbuhan produksi jagung ternyata hanya di rata-rata saja – setara pertumbuhan rata-rata ¼ abad terakhir yaitu di angka sekitar 5.6 % per tahun ?

 

Maka produksi jagung tahun 2016  dan 2017 masing-masing hanya 20.7 juta ton dan 21.9 juta ton, ada perbedaan 3 juta dan 6.5 juta ton untuk masing-masing tahun 2016 dan 2017. Selisih ini saja setara luasan panenan jagung 500,000 ha (2016) dan sekitar 1 juta ha (2017) – setara dengan 14 kali luasan Singapore !

 

Angka saya tentu hanya asumsi (WHAT IF) bahwa pertumbuhan itu normal setara rata-rata pertumbuhan ¼ abad terakhir, namun melihat gelisahnya para pengguna jagung tahun 2016 dan 2017 yang konon ditrigger oleh kelangkaan jagung, juga keputusan Memperindag yang mengijinkan impor jagung industri untuk tahun ini – bisa jadi estimasi saya ada kemungkinannya untuk mendekati benar juga.

 

Nah karena data-data semacam ini selalu bisa diperdebatkan, mana yang lebih akurat dan reliable – maka untuk ketahanan pangan nasional, sesungguhnya dibutuhkan data yang bukan hanya transparan, tetapi juga auditable oleh perbagai pihak yang berkepentingan. Datanya-pun harus terkelola dalam system yang tidak tersentralisir ataupun terdesentralisir, harus tersimpan secara ter-distributed !

 

Salah satu cara untuk mengatasi masalah ini adalah dengan teknologi blockchain, dengan teknologi ini data tidak lagi tergantung pada satu pusat data, data terdistribusi ke ribuan nodes yang masing-masing terverifikasi. Data di blockchain juga tidak bisa dihapus dan diganti begitu saja, sehingga memungkinkan data yang tersimpan di dalamnya auditable bagi pihak-pihak yang membutuhkannya.

 

Data yang reliable and auditable akan memungkinkan para pengambil kebijakan public dapat memutuskan segala sesuatunya secara credible, apa lagi bila menyangkut kehidupan orang di negeri yang penduduknya no 4 terbesar di dunia ini. Ketika supply jagung kurang, pakan ternak kurang, daging mahal – orang mengurangi konsumi daging, kwalitas generasi menurun.

 

Ketika supply jagung berlebih, jagung petani tidak terserap pasar sepenuhnya, atau terserap dengan harga yang rendah, petani tambah miskin, juga berdampak pada penurunan kwalitas generasi anak-anak petani.

 

Walhasil nampaknya sepele, hanya masalah data jagung – itupun harus dikelola dengan amat sangat bertanggungjawab, data harus reliable dan auditable. Ini hanya salah satu saja dari contoh penggunaan blockchain technology yang akan kita bahas dalam acara Blockchain Technology Executive Briefing, agar kita bisa menggunakan teknologi ini untuk memperbaiki kwalitas kehidupan tanggal 3 Mei 2018 mendatang

 

Bagi yang tertarik silahkan mendaftar di kontak yang ada leaflet berikut, atau langsung ke : bit.ly/blockchain_executive_briefing , pendaftaran ditutup setelah kapasitas terpenuhi.