Desa 2030

Gerai Dinar

Sumber Daya Bebas Bea Untuk Pendidikan, Pelatihan dan Pendampingan Usaha dan Kewirausahaan.
Ahad, 19 Agustus 2018

Desa 2030

Dunia di bawah PBB sepakat punya cita-cita yang indah untuk tahun 2030 yang dirumuskan dalam 17 sasaran Sustainable Development Goals (SDGs). Diantaranya adalah pada tahun tersebut tidak boleh lagi ada kemiskinan, kelaparan dan ketimpangan ekonomi. Sebaliknya akses air bersih dan sanitasi, energy bersih, kesehatan dan kemakmuran, pendidikan yang baik dlsb harus menjadi milik semua orang. Kehidupan kota harus sustainable, consumption & production harus responsible. Pertanyaannya adalah bagaimana kita bisa mencapainya ?

 

Bagaimana kita bisa mencapai kecukupan pangan dan tidak ada kemiskinan, bila kenyataannya hingga saat ini ketika penduduk kita masih sekitar separuh di desa-pun kita harus impor begitu banyak bahan pangan ? Padahal dengan trend yang ada, tahun 2030 sekitar 7 dari setiap 10 penduduk negeri ini akan ada di kota ?

 

Bagaimana kita akan memiliki program yang konsisten hingga tahun 2030, bila sampai tahun tersebut di negeri ini akan ada 3 kali PEMILU eksekutif maupun legislatif – yang setiap rezim tentu pingin punya karyanya sendiri-sendiri ?

 

Maka tidak ada jalan lain selain mengikuti petunjukNya yang ada di Al-Qur’an, “…Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri...” (QS 13:11). Jadi kemiskinan dan kelaparan itu harus kita sendiri yang menghilangkannya, tidak bisa mengandalkan orang lain – siapapun dia orangnya.

 

Rakyat yang bekerja dengan penuh keimanan dan ketakwaanlah yang akan membuka pintu-pintu keberkahan itu. Ini sejalan dengan ayat lainnya lagi yaitu QS 7 :96 “ Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami bukakan keberkahan baginya dari langit dan dari bumi…”.

 

Berangkat dari dua ayat tersebut, sebenarnya sudah jelas jalan yang harus kita tempuh untuk hilangnya kemiskinan dan kelaparan tahun 2030 itu atau bahkan bisa lebih cepat. Yaitu bila kita-kita ini sebagai penduduk negeri ini, berbuat merubah diri-diri kita sendiri kearah keimanan dan ketakwaan. InsyaAllah segala kebaikan yang dicanangkan dalam 17 point SDGs tersebut diatas akan tercapai, disamping kebaikan-kebaikan lain yang tidak bisa dirumuskan oleh PBB sekalipun.

 

Bagaimana konkritnya ? Berikut adalah tahap demi tahap ‘ngaji’ kita terhadap petunjukNya, terhadap firman-firmanNya yang kita terapkan satu per satu.

 

Tugas kita sebagai manusia adalah memakmurkan bumi (QS 11:67), bukan menguasainya dan bukan mentelantarkannya ! setiap jengkal bumi di sekitar kita harus makmur melalui tangan-tangan kita. Maka kita akan mulai dari desa-desa tertinggal dan sangat tertinggal yang jumlahnya masih 60% dari jumlah desa di Indonesia – disanalah pusat kemiskinan terjadi selain kemiskinan kota.

 

Bagaimana cara memakmurkan bumi itu ? Kembali kita mengaji ayatNya, di surat Yaasiin ayat 33, kita disuruh menanam biji-bijian di bumi yang mati. Biji-bjian ini ada sekitar 19,600 jenis d Indonesia, dia bisa hidup di bumi yang mati karena leguminoceae bisa memfiksasi nitrogen dari udara.

 

Kita bisa milih jenis yang mana saja, tetapi saya pilih salah satunya adalah Kaliandra Merah atau Calliandra calothyrsus – karena ini sejalan dengan petunjuk berikutnya lagi. Di Surat Yaasiin 80 dan di surat Al-Waqi’ah 71-73 kita diberitahu olehNya sumber energy itu adanya dari pohon yang hijau atau dari kayu. Kaliandra merah yang mudah kering, mudah terbakar dan berkalori tinggi – sekitar 4,200 kcal/kg - cocok sekali sebagai sumber renewable energy ke depan.

 

Petunjuk lain untuk bisa makan daging dan minum susu yang cukup, kita disuruh menggembala ternak di tempat turunnya hujan dan tempat tumbuhnya pohon (QS 16 : 10-11). Juga adanya petunjuk tanaman khusus yang ditanam untuk utamanya pakan ternak di surat As-Sajadah ayat 27. Daun kaliandra merah adalah dedaunan bernutrisi tinggi, jadi cocok untuk menopang industri peternakan kita – yang kini tertatih-tatih melawan gempuran daging dan susu impor.

 

Masih juga di surat yang sama, surat Nikmat atau surat An-Nahl, kita juga diberi isyarat untuk beternak lebah (QS 16 : 68-69), di situ pula kita diberi obat segala macam penyakit yaitu madu.

 

Untuk memancarkan air bersih-pun kita diberi petunjuk yang sangat specific, yaitu setelah menanam biji-bijian, kita juga diberi petunjuk untuk menanam kurma dan anggur. Dari kurma dan anggur inilah rezeki yang baik akan kita peroleh (QS 16:67), dari dari tanah yang kita tanaminya akan memancar mata air (QS 36:34).

 

Dimana kita melakukan ini semua ? ya di desa – lah, mana bisa kita melakukannya di kota-kota. Maka mau tidak mau, orang-orang yang merasa terpanggil untuk menjalankan perintahNya memakmurkan bumi, menanam biji-bijian, anggur dan kurma, menggembala ternak, beternak lebah – mereka dengan sendirinya akan bergerak ke desa-desa.

 

Desa-desa akan menjadi makmur karena berdatangannya skills worker sekaligus capital flow, kota akan dihuni oleh sedikit orang yang bener-bener perlu di kota dan karenanya kota akan menjadi sustainable – seperti yang ditargetkan dalam SDGs juga. Bayangkan bila sebaliknya, bagaimana kota yang luasnya relatif tidak bertambah – tetapi penduduknya terus bertambah oleh urbanisasi ?

 

Hidup di desa saat itu tidaklah kalah nyaman dengan yang di kota, udara bersih dan air bersih melimpah. GDP desa akan meningkat tajam karena segala produksi kebutuhan utama dilakukan oleh orang-orang yang tinggal di desa saat itu, baik berupa food, feed maupun fuels –semua dari desa-desa kita, tidak ada lagi yang perlu diimpor atau disentralisir di suatu tempat.

 

Desa tidak perlu mengimpor bahan bakar berupa gas, bensin, solar sejenisnya seperti yang dilakukan desa-desa sekarang. Justru sebaliknya, produksi energy biomassa dari desa akan berlebih dan di-ekspor ke kota-kota yang saat itu tidak lagi mendapat supply bensin dan solar – pada tahun 2030, cadangan minyak kita sudah habis sejak tiga tahun sebelumnya.

 

Pembangunan akan merata sampai seluruh pelosok tanah air karena penggerak utamanya berupa sumber energy bisa dihasilkan dimana saja tanaman tumbuh. Dengan mesin charger yang sederhana, mobil-mobil dan traktor-traktor paling modern masuk sampai pelosok Nusantara dengan mudah, karena isi ‘bahan bakar’-nya dari kayu-kayu yang tumbuh di desa itu – bukan di kota.

 

Tahun 2030 tinggal 12 ahun lagi, maka tantangannya adalah bagaimana kita menjadikannya ini visi dan bukan mimpi. Tantangannya adalah bagaimana ‘ngaji’ kita terhadap ayat-ayatNya menjadi dasar amal saleh kita, untuk menjawab tantangan jamannya. Tugas kita hanyalah memulai untuk melempar , selebihnya Allah-lah yang akan menyelesaikan lemparan itu (QS 8:17). Dan inilah lemparan ide dari saya, sambil tentu saya akan juga bekerja keras mewujudkannya – tetapi hanya Dialah yang bisa menyelesaikan pekerjaan besar ini. InsyaAllah.