Menuju Desa Surplus

Gerai Dinar

Sumber Daya Bebas Bea Untuk Pendidikan, Pelatihan dan Pendampingan Usaha dan Kewirausahaan.
Senin, 23 April 2018

Harga Dinar per 6 jam

Harga Dinar

Harga Dinar
  • Harga Dinar Emas per Tue, 24 Apr 2018 00:30:00 +0700 Jual Rp. 2,309,812 Beli Rp. 2,217,420

  • Harga Dinar Emas per Mon, 23 Apr 2018 18:30:00 +0700 Jual Rp. 2,317,362 Beli Rp. 2,224,668

  • Harga Dinar Emas per Mon, 23 Apr 2018 12:30:00 +0700 Jual Rp. 2,323,082 Beli Rp. 2,230,159

  • Harga Dinar Emas per Mon, 23 Apr 2018 06:30:00 +0700 Jual Rp. 2,319,096 Beli Rp. 2,226,332

  • Harga Dinar Emas per Mon, 23 Apr 2018 00:30:00 +0700 Jual Rp. 2,320,573 Beli Rp. 2,227,750

Menuju Desa Surplus

Kita yang tinggal di kota-kota mungkin tidak aware dengan fakta ini : sekitar 60 % desa-desa kita adalah desa tertinggal atau sangat tertinggal. Ketimpangan juga nampak dari sebaran desa tertinggal dan sangat tertinggal ini. Bila di Jawa angkanya ‘hanya’ 31 %, di Sumatra mendekati 70 % dan di Papua mencapai 96 %. Apa ada yang bisa kita perbuat ? insyaAllah ada bila mau berimprovisasi out of the box. Bagaimana caranya ?

 

Kegiatan utama ekonomi di desa pada umumnya adalah pertanian, maka bila daya dukung daerahnya terhadap produktifitas pertaniannya rendah – maka minuslah desa tersebut. Dalam kondisi seperti ini tentu pemuda-pemudinya wajar bila ingin meninggalkan desanya untuk mencari kehidupan yang lebih baik ke kota-kota bahkan juga sampai ke luar negeri.

 

Sumber daya manusia di desa tersebut menjadi berkurang – banyak desa-desa yang nyaris tidak ada lagi pemudanya karena ini – dan desa menjadi semakin minus. Di sisi lain di kota-kota muncul masalah yang semakin menumpuk yaitu masalah urbanisasi lengkap dengan kompleksitas dampak sosialnya.

 

Jadi kalau kita bisa mengatasi desa tertinggal, membangkitkan ekonominya – maka ada kemungkinan kita bisa membalik arah urbanisasi. Menggerakkan pemuda-pemudi terdidik balik ke desa, membangun ekonomi desa dan mengangkat desanya dari minus menjadi surplus. Bagaimana konkritnya ?

 

Masih menggunakan sumber daya yang sama yaitu pertanian, hanya kali ini kita arahkan ke pertanian industri. Produknya bukan hanya pertanian tanaman pangan, tetapi bisa diperluas dengan pakan dan bahan bakar (food, feed and fuel).

 

Saya pilihkan jenis tanaman yang bisa tumbuh di tanah-tanah marginal sekalipun, sehingga sedikit lahan subur yang masih ada di desa tertinggal atau sangat tertinggal bisa difokuskan ke produksi pangan pada umumnya.

 

Tanaman ini adalah Kaliandra Merah atau Calliandra calothyrsus, jenis leguminose sehingga dia bisa tumbuh di tanah yang marginal karena bisa mem-fiksasi nitrogen langsung dari udara. Jenis tanaman ini juga daunnya bernutrisi tinggi sehingga sangat cocok untuk pakan ternak, desa-desa bisa maju peternakannya bila banyak ditumbuhi tanaman ini.

 

Batang kayunya cepat kering dan berkalori tinggi, maka dia menjadi potensi yang sangat menarik untuk bahan baku wood chip dan wood pellet yang sekarang di dunia pasarnya sudah mencapai 21 juta ton per tahun.

 

Tetapi desa tidak usah mikirin ekspor dahulu, di dalam negeri banyak yang membutuhkan. Satu industri sedang sekelas perkebunan teh di Jawa Barat sebagai contoh membutuhkan sekitar 1,000 ton pellet biomassa setiap bulannya. Kebutuhan sebesar ini dapat dipenuhi oleh satu atau dua desa yang intensif menggarap tanaman ini.

 

Jadi polanya kemitraan, industri-industri skala kecil, menengah dan besar – mereka rata-rata membutuhkan energy untuk prosesnya. Kalau mereka tahu bahwa wood chip atau pellet adalah bahan bakar yang lebih murah dari sumber energy lainnya, pasti mereka mau.

 

Bahkan saya bisa merekomendasikan sebuah perusahaan asing besar di Jawa Timur yang sudah melakukannya dengan sangat sukses, bila ada yang ingin contoh bagaimana melakukannya – agar tidak perlu reinvent the wheel.

 

Tentu ini perlu proses, perusahaan perlu waktu untuk merencanakan dari penggunaan energy yang sekarang ke arah renewable energy dari biomassa ini. Desa-desa yang akan melayani juga perlu waktu untuk mulai tanam dan sampai panennya. Maka ini perfect match untuk desa dan industri saling bermitra dalam perencanaan.

 

Kebanyakan masyarakat rumah tangga belum akan menggunakan pellet biomassa ini karena alasan kepraktisan dlsb., maka mindset penggerak energy biomassa desa tidak tidak perlu ter-distract untuk meyakinkan pengguna retail ini, focus saja mencari satu atau dua perusahaan yang akan menggunakannya – itu sudah akan menjadi pasar yang cukup bagi seluruh produksi pellet biomassa di desa itu.

 

Juga para aktivis lingkungan yang tidak mengerti akan membayangkan bahwa bahan bakar kayu itu mencemari lingkungan dengan asap, akan menggundulkan hutan-hutan dlsb. Semua ini adalah persepsi yang keliru. Biomassa adalah sumber energy yang bersih, dia adalah carbon neutral – produksi CO2-nya pada saat dibakar dikompensasi oleh tumbuhnya tanaman penghasil pellet tersebut.

 

Pembakaran di industri yang baik adalah pembakaran sempurna dengan teknik gasifikasi atau lainnya, jadi tidak menimbulkan asap yang mencemari lingkungan. Juga tidak perlu mencemaskan hutan gundul, lha wong di desa tertinggal rata-rata juga ndak ada hutannya kok – justru dengan menanam kaliandra Merah ini desa-desa akan senantiasa hijau oleh tanaman yang silih berganti, yang sebagian dipanen yang lain sedang tumbuh membesar.

 

Biomass pellet justru digunakan oleh negara-negara maju seperti Inggris, Jepang dan Korea Selatan. Produsennya juga negara-negara maju seperti Amerika dan Canada. Indonesia punya chance untuk bersaing dengan negara-negara produsen pellet utama ini karena di negeri tropis yang dapat matahari sepanjang tahun dan hujan melimpah ini - segala bentuk tanaman penghasil biomassa memiliki tempat untuk tumbuh terbaiknya.

 

Selain itu tanaman kaliandra juga mendukung perbaikan lingkungan dengan menghadirkan keteduhan, mencegah erosi, mencegah gulma, menyuburkan tanah dan menghadirkan keindahan. Ketika musim bunga , dia akan memrahkan desa-desa dengan bunganya.

 

Keindahan bunga-bunga ini bukan hanya untuk manusia, lebah madu sangat menyukai nectar dari kaliandra ini dan madu kaliandra termasuk salah satu madu yang bernilai tinggi. Maka lengkaplah kaliandra sebagai penghasil food, feed and fuels berkwalitas tinggi. Desa tertinggal bukan hanya akan menjadi surplus, dia juga akan menjadi desa yang indah dan sejuk untuk tempat tinggal.

 

Lantas dari mana desa mendapatkan teknologi, pasar, modal dan lain sebagainya ? Ya dari kita-kitalah yang di kota memikirkannya. Startup tidak harus di kota, startup bisa menggarap desa-desa tertinggal menjadi desa-desa surplus. Menjadi tantangan besar untuk mengatasi masalah besar yang belum teratasi oleh 7 presiden berganti dan lebih dari tujuh puluh tahun merdeka. Kalau sudah teratasi tentu tidak ada lagi 60% desa tertinggal dan sangat tertinggal tersebut !

 

Masih ada satu masalah lagi yaitu permodalan, dari mana memodali desa tertinggal tersebut ? Meskipun ada dana desa yang konon akan mencapai Rp 120 trilyun tahun depan atau sekitar Rp 1,6 milyar per desa , saya tidak akan mengusulkan program ini didanai dengan dana desa. Pembiayaan model financial technology seperti iGrow bisa fit untuk program-program semacam ini, selain iGrow Food yang sudah berjalan – insyaAllah tahun depan 2018 iGrow akan mengembangkan sektor energy sehingga menjadi iGrow Food and Energy.

 

Lantas untuk siapa peluang ini ? untuk Anda yang ketika orang lain masih melihatnya masalah, Anda sudah dapat melihatnya sebagai peluang. Anda yang sudah melihat peluang ini dapat mengubungi kami, untuk sementara yang kami butuhkan utamanya adalah para insinyur mesin atau para mekanik yang cekatan dalam mengoprek berbagai jenis mesin. Kita akan butuh sangat banyak mesin perubahan untuk bisa mengoperek 75,000 desa tertinggal dan sangat tertinggal, insyaAllah !