Bioadditive Open Source

Gerai Dinar

Sumber Daya Bebas Bea Untuk Pendidikan, Pelatihan dan Pendampingan Usaha dan Kewirausahaan.
Senin, 23 April 2018

Harga Dinar per 6 jam

Harga Dinar

Harga Dinar
  • Harga Dinar Emas per Tue, 24 Apr 2018 00:30:00 +0700 Jual Rp. 2,309,812 Beli Rp. 2,217,420

  • Harga Dinar Emas per Mon, 23 Apr 2018 18:30:00 +0700 Jual Rp. 2,317,362 Beli Rp. 2,224,668

  • Harga Dinar Emas per Mon, 23 Apr 2018 12:30:00 +0700 Jual Rp. 2,323,082 Beli Rp. 2,230,159

  • Harga Dinar Emas per Mon, 23 Apr 2018 06:30:00 +0700 Jual Rp. 2,319,096 Beli Rp. 2,226,332

  • Harga Dinar Emas per Mon, 23 Apr 2018 00:30:00 +0700 Jual Rp. 2,320,573 Beli Rp. 2,227,750

Bioadditive Open Source

Hingga kini additive atau khususnya bioadditive adalah nice thing to have, bukan kebutuhan pokok tetapi akan menyenangkan kalau kita punya. Mobil kita bisa lebih efisien bahan bakar, performance-nya bisa meningkat, emisi lebih rendah dlsb. Tetapi manakala kesadaran akan habisnya sumber minyak kita sudah meluas di masyarakat, segala hal yang bisa menghematnya akan menjadi kebutuhan. Maka bioadditive yang semula nice to have bisa menjadi must have. Ketika ini menjadi must have dan agar secara massal kita bisa menghemat bahan bakar minyak yang tersisa, ilmunya harus harus dibuat open source.

 

Di kalangan ahli bahan bakar, otomotif, praktisi industri dlsb. saat inipun mereka tahu bahwa ada zat yang disebut additive, umumnya dia campuran bahan bakar yang kurang dari 1 % - karena  kalau di atas 1 % dia menjadi bagian dari formula blending – yang bila zat ini ada dalam bahan bakar meskipun dalam jumlah yang sangat sedikit manfaatnya akan sangat besar. Manfaat tersebut antara lain adalah :

 

1.           Meningkatkan Octane (untuk bensin) dan Cetane ( untuk diesel)

2.           Memperbaiki kharakteristik pembakaran

3.           Mencegah kerak atau deposit di ruang pembakaran

4.           Mencegah korosi

5.           Menurunkan friksi ruang pembakaran

6.           Antioksidan untuk mencegah pembentukan resin

7.           Menurunkan tingkat keausan

8.           Merawat ruang pembakaran agar tetap bersih

9.           Menurunkan emisi gas buang

10.      Dlsb.dlsb.

 

Tetapi sepanjang apapun list tersebut di atas saya tulis, dia hanya satu sisi – yaitu benefit bagi yang menggunakannya saja. Ketika para (calon) pengguna tidak merasa butuh benefit tersebut, selesai sudah urusannya – yaitu tidak usah dipakai ini bioadditive.

 

Maka saya lebih concern pada sisi lain dari bioadditive tersebut, yaitu apa dampaknya bila tidak kita gunakan, baik dampak bagi kita sendiri maupun bagi masyarakat secara luas. Bagi kita sediri yang jelas adalah kita menjadi boros bahan bakar, bagi masyarakat luas – dan menjadi urusan nasional – bahan bakar kita akan cepat habis. Bisa tahun 2027 atau bahkan lebih cepat lagi karena kebutuhan bahan bakar kita yang meningkat sekitar 4.9 % per tahun.

 

Pemerintah-pun sebenarnya sadar tentang ancaman krisis bahan bakar fossil ini, maka melalui Kepmen ESDM no 12 tahun 2015 pemerintah  mentargetkan tahun 2020 harus sudah 30% diesel dari fossil yang digantikan biodiesel, dan tahun 2025 harus sudah 20 % bensin digantikan bioethanol.

 

Hanya saja effort pemerintah yang perlu dihargai ini memang sangat mahal harganya. Setiap liter biodiesel butuh subsidi antara Rp 3,000 s/d Rp 4,000 yang dananya diambil dari pungutan ekspor minyak sawit. Program bioethanol malah tidak jalan sama sekali karena DPR gagal ‘menghargai’ program pemerintah untuk alternatif bahan bakar tersebut, sehingga anggaran subsidi bioethanol ditolak.

 

Terlepas dari tidak jalannya program yang dirancang pemerintah untuk menghemat kebutuhan bahan bakar fossil tersebut, satu pelajaran dari bangsa ini sebenarnya sangat jelas. Bahwa kalau pemerintah saja bersedia mengalokasikan begitu besar anggaran untuk program biodiesel dan bioethanol ini – kalau saja anggarannya disetujui terus oleh DPR sampai10 tahun mendatang – total costnya akan mencapai Rp 827 trilyun – pasti ada masalah yang begitu besar untuk diatasi sehingga harus ada anggaran yang kolosal ini.

 

Masalah yang begitu besar inilah yang sesungguhnya bisa ditempuh solusinya dengan cara yang jauh lebih murah – bahkan tidak perlu anggaran pemerintah satu sen-pun, yaitu dengan menggerakkan segenap keahlian dan sumber daya yang ada di negeri ini. Essential Oils atau minyak-minyak atsiri misalnya – negeri ini adalah jagonya, sumber terbesar minyak atsiri ada di biodiversitas tanaman-tanaman kita – maka solusi itu sudah ada di sekitar kita sebenarnya, bukan hal yang baru.

 

Minyak atsiri memang tidak bisa menggantikan bahan bakar fossil, tetapi menghematnya dia terbukti bisa – yaitu dengan menjadikan atsiri sebagai bioadditive tersebut di atas. Minyak atsiri apa yang sebaiknya kita gunakan ? tergantung dari target kita. Apakah untuk menghemat bahan bakar, meningkatkan kinerja, merawat mesin, menurunkan emisi dlsb. dlsb.

 

Agar project besar nasional ini tidak menjadi keuntungan pihak-pihak tertentu saja ( termasuk saya !), maka kita jadikan saja project ini sebagai open source project. Teman-teman di perguruan tinggi, LIPI, BPPT, LEMIGAS dan lembaga – lembaga riset bisa terus bereksperimen dengan bahan-bahan yang ada untuk mencapai hasil terbaik dan saling menyempurnakan.

 

Dengan menggunakan konsep open source inilah bioadditive yang hingga kini di pasaran menjadi barang mahal karena proprietary – sehingga tidak banyak yang pakai, menjadi barang yang murah karena open source. Formula yang tidak sempurna, bisa terus disempurnakan oleh yang lain – persis seperti di dunia open source software, ketika ditemukan bug – bisa diberi solusi rame-rame oleh sejumlah developer lainnya.

 

Teman-teman pelaku industri misalnya, why not Anda spent beberapa puluh juta untuk membiayai thesis S1-S3, untuk menemukan formula terbaik bioadditive – yang nantinya Anda gunakan langsung di industri Anda. Bagi para mahasiswa diuntungkan, selain mendapat biaya penelitian – ilmu mereka juga langsung diterapkan. Pelaku usaha yang paling diuntungkan, dengan hanya membiayai penelitian saja – Anda dapat menemukan komposisi bahan bakar yang ideal untuk industri Anda.

 

Sebagai contoh, untuk menghemat bahan bakar sekitar 25 % Anda dapat mulai denga meracik bioadditive dari minyak cengkeh dengan minyak citronella. Mengapa perlu dicampur ? Inilah yang perlu diteliti teman-teman para peneliti dalam konteks open source.

 

Dari sisi ekonomi, minyak cengkeh adalah minyak atsiri yang murah – harga saat ini hanya di kisaran Rp 180,000/kg. Tetapi kalau hanya menggunakan minyak cengkeh ini untuk bioadditive, dikawatirkan mesin Anda cepat rusak karena korosi. Lantas apa campurannya untuk mengatasi korosi ini ?

 

Minyak-minyak yang mengandung asam karboksilat dapat mengatasi ancaman korosi ini. Senyawa karboksilat (-COOH) antara lain ada di minyak atsiri yang disuling dari jeruk, angelica, anise, cinnamon, citronella, vetiver dlsb. Diantara minyak-minyak ini yang harganya paling murah – sekarang hanya di kisaran Rp 250,000/kg harga grosir – adalah citronella yang mengandung citronellic acid.

 

Maka kalau hanya untuk menghemat bahan bakar secara aman, tanpa beresiko korosi – dapat digunakan minyak citronella. Atau kalau mau lebih murah dapat digunakan campuran minyak cengkeh  dengan minyak citronella, jangan minyak cengkeh sendirian.

 

Berapa komposisinya ? ini yang dapat di customized sesuai kebutuhan Anda. Bahkan bukan hanya sekedar menghemat bahan bakar, meningkatkan kinerja dan menekan emisi – penambahan bioadditive ini dapat menjadi corporate action – meningkatkan citra perusahaan Anda yang concern terhadap penggunaan fossil fuel, concern terhadap pencemaran udara Jakarta – dan membuat gerakan yang kolosal tetapi doable at no cost.

 

Saya bayangkan begini, kalau saja perusahaan sekelas Go-Jek, Uber, Blue Bird dan lain sebagainya mau mulai, mereka bisa membuat aksi yang kolosal tersebut. Kalau Go-Jek sudah bisa menghijaukan Jakarta dengan helem dan jaket hijaunya, mengapa tidak mengharumkannya dalam arti harfiah ?

 

Ini sungguh-sungguh bisa dilakukan, yaitu bila setiap pengemudi Go-Jek menambahkan bioaddtive – yang formulanya dibuat sendiri oleh Go-Jek dalam system open source, misalnya dari campuran citronella (karena murah) plus minyak jeruk nipis (aromanya segar) kedalam bahan bakarnya. Tidak banyak hanya 0.5% dari setiap liter bahan bakar yang digunakan- formula tepatnya bisa diteliti.

 

Apa mau pengemudi Go-Jek melakukan ini ? kalau lebih murah konsumsi bahan bakar total mereka – pastinya mereka mau. Apalagi dengan segudang manfaat yang saya list di atas, ditambah dengan kesadaran menghemat bahan bakar fossil, dan dengan inspirasi untuk berbuat baik dari manajemen Go-Jek – mengapa tidak ?  inilah gunanya bioadditive open source itu – silahkan diteliti dan dicoba formula terbaiknya, kemudian disempurnakan dari waktu ke waktu secara terbuka – maka mimpi untuk membuat Jakarta (dan kota-kota besar lainnya di dunia) menjadi ber-aroma itu akan ketemu jabarannya, dan mimpi-pun bisa berubah menjadi visi.

 

Setelah Go-Jek atau siapapun yang punya armada besar melakukannya lebih dahulu – karena  hanya leader yang akan melakukan perjalanan yang belum pernah ditempuh oleh orang lain – yang lain akan mengikutinya. Kali ini tidak harus dengan rasa jeruk, bisa dengan aroma yang segar semriwing dari minyak lada, campur minyak kayu putih dan jeruk purut misalnya.

 

Pendek kata udara Jakarta bukan hanya bisa dirusak oleh pencemaran asap kendaraan – sesuatu yang bisa dirusak pasti juga bisa diperbaiki – hanya perlu beberapa perusahaan transportasi besar memulainya, aroma Jakarta-pun sudah akan berubah.

 

Tidak yakin ini bisa dilakukan ? itulah gunanya open source – saya memulainya dengan sedikit yang kami punya – seluruh teknologi penyulingan minyak atsiri dari skala lab sampai skala komersial – silahkan Anda sekarang berkreasi dengan berbagai formulasi penggunaannya untuk bioadditive ini, untuk perbaikan yang memang mampu Anda lakukan. Lebih detil silahkan bergabung di acara vision sharing kami : bit.ly/after_oil_vision_sharing