Fuel Mathematics

Gerai Dinar

Sumber Daya Bebas Bea Untuk Pendidikan, Pelatihan dan Pendampingan Usaha dan Kewirausahaan.
Ahad, 17 Desember 2017

Harga Dinar per 6 jam

Harga Dinar

Harga Dinar
  • Harga Dinar Emas per Sun, 17 Dec 2017 18:30:00 +0700 Jual Rp. 2,135,669 Beli Rp. 2,050,242

  • Harga Dinar Emas per Sun, 17 Dec 2017 12:30:00 +0700 Jual Rp. 2,134,215 Beli Rp. 2,048,846

  • Harga Dinar Emas per Sun, 17 Dec 2017 06:30:00 +0700 Jual Rp. 2,134,215 Beli Rp. 2,048,846

  • Harga Dinar Emas per Sun, 17 Dec 2017 00:30:00 +0700 Jual Rp. 2,134,215 Beli Rp. 2,048,846

  • Harga Dinar Emas per Sat, 16 Dec 2017 18:30:00 +0700 Jual Rp. 2,134,215 Beli Rp. 2,048,846

Fuel Mathematics

Mayoritas rakyat negeri ini akan tidur nyenyak manakala tidak usah memikirkan masa depan bahan bakar kita, karena begitu memikirkannya pasti puyeng dibuatnya. Betapa tidak, kebutuhan bahan bakar akan tumbuh seiiring dengan pertumbuhan ekonomi. Kalau ekonomi kita tumbuh sekitar 5 % per tahun misalnya, kebutuhan bahan bakar akan tumbuh sedikit saja dibawahnya – let say 4.9% per tahun. Dari mana tambahan bahan bakar ini kita peroleh ? di situlah masalah yang membuat puyeng itu.

 

 

 

Produksi bahan bakar kita terbatas, dengan tingkat produksi stabil di kisaran 830,000 barrel per hari saja – cadangan kita hanya cukup menopang produksi sampai tahun 2027. Antara sekarang dan 2027 yang tinggal sepuluh tahun lagi-pun gap antara kebutuhan dan produksi itu terus melebar.

 

Pemerintah sebenarnya punya rencana untuk menggantikan sebagian kebutuhan tersebut dengan biodiesel dan bioethanol, bahkan pemerintah punya target bahwa biodiesel harus mencapai 30% mulai tahun 2020 dan bioethanol mencapai 20% mulai tahun 2025. Namun target ini jauh panggang dari api. 

 

Tahun ini (2017) produksi biodiesel kita diperkirakan malah turun menjadi 2.9 milyar liter dari tahun sebelumnya 3.656 milyar liter. Untuk bioethanol kita malah tidak ada produksi Fuel Grade Ethanol (FGE) lagi sejak tahun 2010 karena berbagai alasan. Ada 14-an pabrik ethanol di negeri ini, tetapi bukan untuk bahan bakar.

 

Yang jelas dari grafik di atas produksi biodiesel dan bioethanol untuk bahan bakar itu itu butuh huge subsidy dari pemerintah. Biodiesel butuh subsidy di kisaran Rp 3,000 – Rp 4,000 per liter, sedangkan bioethanol butuh subsidy lebih besar lagi yaitu Rp 4,200 – Rp 4,500 per liter. Maka ketika tahun lalu (2016) pemerintah hendak menghidupkan lagi rencana produksi bioethanol dalam RAPBN, rencana tersebut ditolak oleh DPR dengan alasan yang sangat masuk akal – tidak ada dana untuk memberikan subsidy !

 

Walhasil disinilah puncak ke-puyengan bagi yang mau memikirkan kebutuhan bahan bakar ke depan ini. Pada tahun 2027 ketika Indonesia kehabisan cadangan minyaknya, saat itu bila pertumbuhan ekonomi kita normal di kisaran 5% per tahun sampai sepuluh tahun ke depan – kebutuhan bahan bakar kita akan mencapai 120 milyar liter !

 

Katakanlah rencana produksi biodiesel 30 % akan dieksekusi, saat itu kita butuh produksi biodiesel 36 milyar liter. Selain dari sisi kapasitas produksi yang sekarang hanya di kisaran 1/10-nya tentu sangat berat mendongkrak menjadi 10 kali lipat dalam 10 tahun ke depan, juga dari mana subsidy akan diambil ?

 

Saat ini subsidy biodiesel diambil dari pungutan ekspor minyak sawit, tetapi 30% biodiesel tahun 2027 butuh subsidy sekitar 144 trilyun Rupiah – duite sopo yang mau dipakai men-subsidy ini ? Kalau dibebankan ke industri kelapa sawit lagi, akan megap-megap mereka nanggung subsidy ini, dan simalakamanya akan lebih banyak lagi hutan kita yang harus dikonversi menjadi lahan sawit !

 

Dari grafik-grafik di atas, kita bisa paham bahwa antara trend kebutuhan bahan bakar, dan calon penggantinya sebagian yang sudah ada di rencana pemerintah dengan biodiesel dan bioethanol – very-very unlikely akan terealisir.

 

Selain tidak ada sumber dana untuk men-subsidy biodiesel dan bioethanol , juga akan ada kendala di bahan bakunya. Baik minyak sawit yang digunakan untuk biodiesel maupun molasses yang digunakan untuk produksi bioethanol sulit untuk bisa mensupport target 30% biodiesel dan 20% bioethanol tersebut di atas. Di minyak sawit kita ada kendala persaingan dengan kebutuhan lainnya, di molasses – produksi tebu kita sulit untuk didongkrak.

 

Walhasil, hingga tulisan ini saya buat saya belum ketemu corrective action baik yang dibuat pemerintah maupun swasta untuk menyelamatkan pemenuhan kebutuhan bahan bakar tersebut di atas. Fuel crash course is imminent, dan kita hanya akan bisa tidur nyenyak bila kita tidak usah memikirkannya atau menganggap masalah ini tidak ada saja.

 

Masalahnya adalah ada perintah yang jatuh ke kita untuk memikirkan hari esuk (QS 59:18), ada perintah untuk tidak meninggalkan generasi yang lemah yang kita kawatirkan kesejahteraannya (QS 4:9), ada encouragement untuk terus mengingatNya sambil memikirkan ciptaannya siang malam, lagi beraktivitas, lagi istirahat dan bahkan selagi tidur ( QS 3:190-191) – apa mungkin ini semua kita abaikan ?

 

Di sisi lain, begitu kita mau memikirkan adanya masalah ini – Allah juga janjikan kemudahan untuk mengatasinya. “ Maka sesungguhnya bersama  kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan” (QS 94: 5-6). Maka mengapa tidak kita pikirkan mulai sekarang ?

 

Hasil pemikiran-pemikiran, eksperimen-eksperimen yang kita lakukan dan usaha-usaha rintisan (startup) yang telah kita mulai di bidang ini, insyaAllah akan kita share dalam acara After Oil Vision Sharing tanggal 23/12/2017 dan Anda masih bisa mendaftar sekarang. Silahkan ke : bit.ly/after_oil_vision_sharing