IoT Goes To Farm

Gerai Dinar

Sumber Daya Bebas Bea Untuk Pendidikan, Pelatihan dan Pendampingan Usaha dan Kewirausahaan.
Kamis, 21 September 2017

Harga Dinar per 6 jam

Harga Dinar

Harga Dinar
  • Harga Dinar Emas per Thu, 21 Sep 2017 18:30:00 +0700 Jual Rp. 2,184,136 Beli Rp. 2,096,771

  • Harga Dinar Emas per Thu, 21 Sep 2017 12:30:00 +0700 Jual Rp. 2,190,841 Beli Rp. 2,103,207

  • Harga Dinar Emas per Thu, 21 Sep 2017 06:30:00 +0700 Jual Rp. 2,196,570 Beli Rp. 2,108,707

  • Harga Dinar Emas per Thu, 21 Sep 2017 00:30:00 +0700 Jual Rp. 2,204,231 Beli Rp. 2,116,062

  • Harga Dinar Emas per Wed, 20 Sep 2017 18:30:00 +0700 Jual Rp. 2,207,068 Beli Rp. 2,118,785

IoT Goes To Farm

Ketika teknologi pertanian di dunia mulai berkembang pesat di abad lalu, mayoritas petani kita tidak ikut menikmatinya. Traktor-traktor besar, mesin penanam (planter), mesin pemanen (harvester) rata-rata terlalu besar dan terlalu mahal untuk lahan mereka. Ketika manusia saling berkomunikasi dengan teknologi informasi yang disebut internet, banyak petani yang mulai ikut bisa memanfaatkannya karena internet adalah murah, mudah digunakan dan untuk siapa saja. Ketika benda-benda akan dapat ‘saling bicara’ satu sama lain – yang disebut Internet of Things, petani harus menggunakannya. Mengapa harus ?

 

Bayangkan Anda naik mobil yang dashboard-nya rusak dan tidak berfungsi. Anda tidak akan tahu apakah bensin Anda habis, apakah mesin Anda kepanasan, Andapun tidak tahu apakah laju mobil Anda terlalu cepat – dan Anda seperti mengemudi dalam gelap.

 

Begitulah kita sekarang bertani. Kita tidak tahu apakah kita telah mengambil unsur hara tanah terlalu banyak, atau sebaliknya apakah kita terlalu banyak mengisi tanah kita dengan zat-zat kimia yang sebenarnya tidak perlu. Yang pertama membuat tanah kita tidak lagi mampu memberi daya dukung pertanian kita, yang kedua malah merusak tanah kita sendiri dan lingkungannya.

 

Lho kita bisa tidak naik mobil, naik sepeda saja yang tidak perlu speedometer, tidak perlu monitor bahan bakar dan tidak perlu monitor temperature mesin – bisa memang, demikian itu juga bisa jalan. Tetapi akibatnya negeri ini dibanjri oleh hasil pertanian negeri lain yang sudah ‘bermobil’ !

 

Kedepan kita tidak lagi bisa mengandalkan ‘sepeda’ untuk ‘menempuh perjalanan’ pertanian kita. Kita harus ‘bermobil’ dan ‘mobil’ kita harus lebih canggih, lebih cepat dan lebih bisa mengangkut banyak orang. Mengapa ? ya karena penduduk kita yang sangat buanyak !

 

Unless kita bisa bertani dengan sangat efisien dengan produktifitas yang sangat tinggi, problem pangan kedepan tidak akan menjadi lebih mudah bagi siapapun. Lahan-lahan semakin sempit tergerus oleh perumahan, infrastruktur, pabrik-pabrik dan perkantoran. Iklim bisa menjadi semakin tidak menentu, udara dan air semakin tercemar.

 

Walhasil dengan berbagai masalah tersebut di atas, kita harus bisa mengoptimalkan apapun yang masih tersisa dari alam ini, untuk kemudian dilakukan perbaikan sedikit-demi sedikit sampai dia makmur kembali (QS 11:61), perbaikan sejauh yang kita bisa secara terus menerus mampu melakukannya (QS 11:88) sampai alam ini kembali seimbang (QS 55:8-9).

 

Lantas apa yang secara konkrit bisa dilakukan di jaman ini ? Teknologi berkembang begitu pesat dan semakin murah. Teknologi sensor misalnya, sekarang nyaris bisa mendeteksi apa saja. Mendeteksi berbagai unsur-unsur mineral yang dibutuhkan tanaman mestinya sudah tidak lagi masalah, demikian pula pendeteksi suhu, CO 2 dan air.

 

Bermula dari sensor-sensor tersebut yang bisa dikirim secara wireless ke server, dan dari sana kemudian bisa dengan mudah ditampilkan dalam bentuk web atau apps – maka kita sudah akan seperti mengemudi mobil di atas – lengkap dengan dashboardnya yang canggih !

 

Produk-produk pertanian memberi segala yang dibutuhkan oleh tubuh kita, baik berupa karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral. Untuk ini tanaman-tanaman membutuhkan segala unsur C, H, O, N, P, K, Ca , Mg, S dan lain sebagainya. Dari mana tanaman memperoleh unsur-unsur ini ? Dari udara dan dari tanah.

 

Lantas kalau diambil terus menerus bukankah yang ada di Alam akan juga habis ? disitulah masalahnya – saat ini kita mengambil terus menerus tanpa mengetahui apakah yang diambil tanaman kita cukup, berlebihan atau kurang. Kita juga tidak tahu persis apakah yang di tanah kita masih tersedia cukup untuk unsur-unsur tersebut.

 

Itulah gunanya teknologi seprti IoT ini, kita butuh tanaman-tanaman bisa ‘berbicara’ tentang makanan apa yang dia butuhkan dan berapa banyak. Kita butuh tanah kita bisa ‘bicara’ berapa banyak dia masih bisa memberi, atau berapa banyak lagi dia perlu diisi agar dia bisa terus memberi.

 

Untuk mengisikan kembali mineral-mineral tersebut ke perut bumi, kita juga perlu benda-benda lain ‘bisa’ ikut nimbrung bicara ‘ aku punya ini dan itu, silahkan diambil untuk dikembalikan ke bumi Anda’. Apel busuk akan ‘bercerita’ pada tubuhnya kaya akan P dan K, pisang busuk akan tidak mau kalah dan ‘bercerita : Aku punya sedikit P, tapi aku sangat kaya K’. Dan keduanya akan ‘berkata : pada tubuhku yang busuk juga tersedia amat sangat banyak microba yang dibutuhkan tanah Anda’ !

 

Bagaimana kalau di sekitar kita tidak ada buah-buahan dan sayuran yang ‘menawarkan’ dirinya untuk mengisi kembali tanah kita yang lagi butuh berbagai mineral tersebut ? Tidak masalah juga, lha wong air laut-pun akan dapat bercerita ‘ Aku punya sekitar 90-an mineral yang dibutuhkan oleh tanah Anda, silahkan diambil dan dimanfaatkan’.

 

Setelah alam di sekitar kita put everything on the table – menawarkan semua yang dimilikinya untuk kita manfaatkan, kita juga tidak serakah. Kita akan mengambil secukupnya secara sangat akurat – ya dengan bantuan teknologi IoT tersebut – kita bisa tahu persis berapa banyak yang dibutuhkan oleh tanaman-tanaman kita, kita juga tentu bisa tahu persis berapa yang dibutuhkan oleh tubuh kita sendiri – sisanya harus dikembalikan ke alam.

 

Era IoT juga blessing bagi dunia pertanian kita, bila selama ini kerja pertanian tidak menarik generasi muda – seiiring dengan semakin tuanya petani kita mengalami ancaman loss generation di bidang pertanian – sekarang tidak lagi dengan datangnya era IoT.

 

Di kantor saya setidaknya ada dua rombongan magang dari perguruan-perguruan tinggi terbaik, anak-anak muda yang menekuni pekerjaan masa kini di bidang digital teknologi – tetapi tiba-tiba mereka jatuh cinta terhadap dunia pertanian. Passion dan kompetensi mereka inilah nanti insyaAllah yang akan menghadirkan generasi petani-petani di era IoT.

 

Di kita sendiri melalui iGrow Precision Farming, kita juga sudah merintis aplikasi IoT untuk pertanian dalam skala komersialnya yang pertama. Mudah-mudahan ini bisa menjadi learning by doing yang sangat efektif untuk era baru dunia pertanian kita. IoT bagi kami bukan lagi wacana, tinggal siapa yang dahulu menggunakan secara tepat guna – itulah yang insyaAllah akan menjadi petani unggul ke depan.

 

Tetapi terus terang kami sendiri juga masih sangat awal dalam proses pembelajaran ini, maka bila diantara pembaca situs ini ada keahlian-keahlian yang spesifik yang kami butuhkan – seperti ahli sensor, remote sensing, instrumentasi, electro-mechanic dan sejenisnya, Anda mungkin bisa bantu kami untuk mempercepat meng-enable technology IoT ini untuk dunia pertanian kita.

 

Next stepnya juga setelah semua learning process ini kita lalui, kita juga butuh untuk menaklukan tantangan berikutnya – yaitu bagaimana membuatnya sangat murah dan sangat mudah digunakan. Sehingga petani kita tidak harus ketinggalan lagi seperti di era traktor, karena mereka-pun akan dapat mengimplementasikan teknologi IoT ini untuk sawah dan ladang mereka. InsyaAllah.