Value vs Values

Gerai Dinar

Sumber Daya Bebas Bea Untuk Pendidikan, Pelatihan dan Pendampingan Usaha dan Kewirausahaan.
Kamis, 21 September 2017

Harga Dinar per 6 jam

Harga Dinar

Harga Dinar
  • Harga Dinar Emas per Thu, 21 Sep 2017 18:30:00 +0700 Jual Rp. 2,184,136 Beli Rp. 2,096,771

  • Harga Dinar Emas per Thu, 21 Sep 2017 12:30:00 +0700 Jual Rp. 2,190,841 Beli Rp. 2,103,207

  • Harga Dinar Emas per Thu, 21 Sep 2017 06:30:00 +0700 Jual Rp. 2,196,570 Beli Rp. 2,108,707

  • Harga Dinar Emas per Thu, 21 Sep 2017 00:30:00 +0700 Jual Rp. 2,204,231 Beli Rp. 2,116,062

  • Harga Dinar Emas per Wed, 20 Sep 2017 18:30:00 +0700 Jual Rp. 2,207,068 Beli Rp. 2,118,785

Value vs Values

Di antara sekian banyak kebijakan Presiden Trump yang menjengkelkan penduduknya sendiri maupun dunia, mungkin kebijakan dua hari lalu yang paling menjengkelkan dan paling luas dampaknya bagi kehidupan di planet ini. Betapa tidak, dibawah kepemimpinannya negeri itu mencabut diri dari The Paris Agreement atau Accord de Paris yang merupakan kesepakatan 191 negara untuk secara nyata berbuat dalam mengerem laju perubahan iklim. Apa penyebabnya ? Trump memburu value dan mengorbankan values.

 

Value adalah nilai monetary atas sesuatu, dan inilah alasan Trump meninggalkan Accord de Paris tersebut. Konon menurut hitungan Trump – yang juga diragukan di negeri sendiri - bila mengikuti kesepakatan Paris tersebut negeri itu akan kehilangan 2.7 juta lapangan pekerjaan sampai tahun 2025, kehilangan GDP sampai US$ 3 trilyun, krisis energy akan melanda negeri itu saampai blackout, dan Amerika harus menyetor US$ 3 Milyar untu Green Climate Fund.

 

Yang trump lupa adalah di atas value mestinya ada values – yaitu nilai-nilai kebajikan yang diyakini atau diperjuangkan bersama. Meskipun bisa jadi values ini hanya buah bibir, hanya sebatas agreement yang kemudian dilanggar rame-rame, tetapi setidaknya dunia sudah committed sejak tahun lalu untuk berbuat konkrit menekan efek perubahan iklim. Dan ini menjadi landasan untuk sekian banyak project besar di seluruh dunia.

 

Accord de Paris adalah values – nilai-nilai kebajikan global yang disepakati bersama oleh seluruh negara di dunia kecuali Nicaragua dan Syria, maka dengan menarik dirinya Amerika dalam kesepakatan ini sejatinya mereka menempatkan diri sama dengan dua negara yang dimusuhinya.

 

Bukan hanya itu, keputusan Trump juga mengusik nurani para pemimpin dunia dan bahkan juga para pemimpin usaha dari negeri itu sendiri. Elon Musk langsung mundur dari keterlibatannya sebagai penasehat ekonomi Trump, Elon melalui produk mobil listriknya Tesla mengusung kebajikan universal clean energy dan zero emission – yang otomatis bertolak belakang dengan keputusan Trum yang masa bodoh dengan perubahan iklim.

 

Demikian pula Mark Zuckerberg yang langsung bereaksi keras karena Facebook berusaha membawa citra kebajikan universal dengan upayanya untuk membuat semua data centernya menggunakan energy baru dan terbarukan. Upaya ini menjadi sia-sia, ketika negerinya kini tidak lagi peduli dengan dampak penggunaan energy fosil terhadap pemanasan global.

 

Terlepas dari isu pemanasan global dan perubahan iklim sendiri masih banyak diperdebatkan, tetapi suatu kesepakatan bareng yang sudah dirintis sejak seperempat abad terakhir – diawali dengan Rio De Janeiro 1992 Earth Summit, kini tiba-tiba ditinggalkan oleh negeri yang seharusnya menjadi rujukan bagi negeri-negeri lainnya.

 

Tidak berhenti di sini saja, kesepakatn dunia lainnya seperti 17 goals dalam Sustainable Development Goals (SDGs) menjadi ikut terancam karena 2 dari 17 target tersebut secara langsung terkait dengan energy dan iklim - yaitu Affordable and Clean Energy (goal no 7) dan Climate Action (goal no 13).

 

Bisa dibayangkan values atau nilai-nilai kebajikan universal yang telah diperjuangkan bersama oleh seluruh pemimpin-pemimpin dunia selama seperempat abad terakhir, tiba-tiba diruntuhkan begitu saja oleh Presiden kontroversial Amerika – maka dampaknya tentu sangat dasyat, dan kita masih terlalu dini untuk bisa memahami keseluruhan konsekwensinya.

 

Values yang berupa kebajikan yang bersifat universal adalah fitrah, ada di hati manusia – maka ketika kebajikan itu dilanggar – akan banyak hati nurani yang terusik. Di negeri kapitalis sekalipun seperti Amerika, banyak pemimpin usahanya yang masih mengusung kebajikan-kebajikan universal, atau values yang kemudian membentuk corporate culture.

 

Sebagai contoh di suatu kafetaria Google yang tamu-tamunya bebas makan minum di sana, ada kesepakatan sederhana yang tidak tertulis – yaitu yang makan memberesi sendiri sisa-sisa makanannya. Apa jadinya ketika ada yang melanggar ? meninggalkan sisa-sisa makanannya di meja makan begitu saja ? Temannya akan mengingatkan dengan kalimat yang sopan ‘be Googly, please !’.

 

Apa jadinya ketika di tengah usaha-usaha besar yang berusaha berbuat kebajikan, membangun kesuksesan dengan fondasi kebajikan – do well by doing good, tiba-tiba pemimpin negerinya memutuskan seolah tidak lagi perlu basa-basi kebajikan ini, yang penting hanya value yang bersifat monetary atau uang – dan lupakan segala kebajikan untuk alam seperti perubahan iklim dan segala konsekwensinya.

 

Yang bertentangan dengan fitrah akan kalah, yang semena-mena akan jatuh dan dilawan oleh rakyatnya sendiri yang masih punya hati nurani.

 

Kalau di negeri kita sendiri kita juga punya contoh tentang values ini. Keberadaan KPK meskipun lengkap dengan segala kekurang sempurnaannya, didukung oleh rakyat. Karena KPK merepresentasikan harapan baru bagi penumpasan korupsi, hati nurani rakyat sepakat dengan ini – bila ada yang korupsi dan terbukti harus dihukum.

 

Maka tindakan untuk melemahkan, mengurangi wewenangnya atau bahkan niat untuk membubarkan KPK pasti ada reaksi keras dari sekelompok masyarakat. Mengapa ? Karena penegakan keadilan adalah fitrah, upaya-upaya melawannya pasti dilawan oleh rakyat yang masih memiliki hati nurani.

 

Values atau nilai-nilai kebajikan yang bersifat universal inilah yang kini banyak diperjuangkan juga oleh korporasi-korporasi global, mengapa ? Sederhana alasannya, kalau bisa mengusung kebajikan yang bersifat universal, maka mudah sekali korporasi tersebut meraih simpati target pasarnya.

 

Demikian pula para politikus, dia akan mudah memperoleh dukungan kontituennya bila bisa mengusung values yang diyakini bersama oleh masyarakat konstituennya. Begitu values ini ditinggalkan, maka diapun akan ditinggalkan konstituennya.

 

Berbeda dengan pendapat Trump yang meninggalkan values untuk mengejar value, korporasi-korporasi besar banyak yang justru menikmati value karena memperjuangkan values.

 

Salah satu pembaca situs ini ada seorang enginer santri yang sangat professional di bidangnya. Ketika sepanjang tahun lalu saya banyak mengulas tentang energy baru terbarukan dengan biomassa, dia terinspirasi untuk mengadopsinya di pabriknya yang sangat modern. Atasannya yang non muslim dengan serta merta menyetujui gagasannya untuk beralih ke energi biomassa karena sederhana saja, sang engineer bisa membuktikan bahwa ini jauh lebih ekonomis dan berdampak luas bagi masyarakat

 

Masyarakat bisa menyetor biomassa apa saja, tanpa harus dijadikan pellet – asal dipotong kecil-kecil sudah akan bisa langsung digunakan di pabrik tersebut. Saya bersyukur mendapatkan privilege untuk bisa mensuplai biomassa apa saja ke pabrik ini , ya karena antara lain inspirasi untuk beralih ke energy biomassa tersebut berasal dari tulisan-tulisan di situs ini.

 

Dari mana sesungguhnya inspirasi-inspirasi kebajikan universal itu berasal ? Yang paling mudah dan dijamin kebenarannya adalah tentu dari petunjukNya. Maka di bulan Ramadhan seperti ini, bulan dimana Al-Qur’an banyak-banyak dibaca dan ditadaburi – mestinya menjadi bulan bagi lahirnya karya-karya besar umat ini.

 

Kita diajari untuk meninggikan values di atas value, tidak mengejar value lebih dari values – dalam kalimat Al-Qur’an ‘…Maka di antara manusia ada yang  berdoa : “ya Tuhan kami berilah kami dunia” dan tiadalah baginya bahagian akhirat’. Dan diantara merka ada yang berdoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka’’ ‘ (QS 2:200-201).

 

Karena kita mengejar values yang jauh lebih tinggi, yaitu kebaikan di dunia dan di akhirat tersebut – perbutan baik kita tidak bergantung pada kesepakatan global para pemimpin dunia. Bahkan kalau saja seluruh pemimpin dunia tidak ada yang peduli lagi pada kelestarian alam dan keberlanjutan kehidupan di muka bumi ini sekalipun, kita tetap akan menanam pohon, karena ini tugas kita untuk menjaga keseimbangan di alam semesta - menjaga permukaan bumi agar tetap layak untuk ditinggali makhlukNya hingga akhir jaman. InsyaAllah.