Small Change, Big Impact

Gerai Dinar

Sumber Daya Bebas Bea Untuk Pendidikan, Pelatihan dan Pendampingan Usaha dan Kewirausahaan.
Kamis, 22 Juni 2017

Harga Dinar per 6 jam

Harga Dinar

Harga Dinar
  • Harga Dinar Emas per Fri, 23 Jun 2017 00:30:00 +0700 Jual Rp. 2,143,978 Beli Rp. 2,058,219

  • Harga Dinar Emas per Thu, 22 Jun 2017 18:30:00 +0700 Jual Rp. 2,148,637 Beli Rp. 2,062,692

  • Harga Dinar Emas per Thu, 22 Jun 2017 12:30:00 +0700 Jual Rp. 2,153,263 Beli Rp. 2,067,132

  • Harga Dinar Emas per Thu, 22 Jun 2017 06:30:00 +0700 Jual Rp. 2,145,824 Beli Rp. 2,059,991

  • Harga Dinar Emas per Thu, 22 Jun 2017 00:30:00 +0700 Jual Rp. 2,136,494 Beli Rp. 2,051,034

Small Change, Big Impact

Hal-hal kecil yang ada di sekitar kita itu seperti titik dan koma pada suatu kalimat yang panjang. Dia sendiri tidak bermakna apa-apa, tetapi kalimat yang panjang menjadi kacau maknanya bila kita salah menempatkan titik dan komanya. Dalam system ekonomi kita, titik dan koma itu ada pada uang receh – baik yang berupa koin maupun uang kertas yang bernominal kecil. Kita sering risih nggembol uang receh yang menjadi berat di saku kita, tetapi di pintu tol, di putaran pak Ogah, di wc umum, di tempat parkir dlsb. kita menjadi panik manakala tidak ada uang receh.

 

Uang receh juga menjadi problem tersendiri di toko-toko retail, mereka selalu perlu persediaan receh dalam jumlah banyak sebab kalau tidak  - mereka bisa salah dalam mengelola kembaliannya. Dikembalikan jadi permen salah, langsung disumbangkan juga bermasalah dari sisi accountability-nya, dan dikembalikan dalam bentuk fisik recehnya begitu merepotkan bagi yang mengembalikan maupun yang menerima kembaliannya.

 

Rupanya dalam skala nasional-pun uang receh ini menimbulkan masalah tersendiri. Sepuluh tahun terakhir saja Bank Indonesia  mengeluarkan koin tidak kurang dari Rp 6 trilyun dan trend-nya terus meningkat. Masalahnya adalah mayoritas koin yang dicetak ini seperti one way ticket, pergi tidak untuk kembali !

 

Hanya sekitar 16% dari koin-koin tersebut yang berputar dan balik sampai ke BI, selebihnya entah berakhir dimana. Dugaan saya mayoritas koin ini berakhir di laci-laci, celengan, kencleng dlsb. dan menumpuk bertahun-tahun karena orang enggan menggunakannya, enggan pula menyetornya kembali ke bank. Kapan terakhir kali Anda mengumpulkan koin yang bertebaran di berbagai tempat di laci-laci dan meja Anda dan menggunakannya ?

 

Ketidak-beradaan koin yang  tepat juga menjadi penyebab kekacauan harga barang-barang di pasar. Misalnya harga sebungkus mie instant di daerah perbatasan-pun sebenarnya hanya Rp 2,300. Tetapi di daerah perbatasan kita uang koin Rp 500,- langka karena masyarakat tidak menganggapnya cukup bernilai untuk dipegang, apa lagi uang receh Rp 100,-. Lantas bagaimana Ada membeli mie yang harganya Rp 2,300 ?

 

Dibayar Rp 2,000 tentu pedagangnya tidak mau. Anda bayar Rp 3,000 tidak ada kembaliannya. Anda putuskan beli 2 bungkus menjadi Rp 4,600,- tetap masih bermasalah karena ketika Anda bayar Rp 5,000,- pun pedagang tidak bisa mengembalikaan yang Rp 400,- . Walhasil kembaliannya disepakati dengan permen, tetapi permen kan bukan alat bayar yang sah di negeri ini ?

 

Problem besar kah ini ? sama dengan titik koma di awal tulisan ini di atas. Koin  atau uang receh ini sendiri sebenarnya hal kecil, namun bila tidak dihandle secara proper – dia berakumulasi menjadi problem besar. Problem bagi masyarakat yang membutuhkannya, dan problem pula bagi Bank Indonesia yang menerbitkannya dalam jumlah yang terus meningkat.

 

Tetapi problem besar juga berarti peluang besar bagi yang bisa mengatasinya – inilah challenge bagi para startupers. Mereka eager untuk menemukan masalah besar yang bisa diatasinya, karena disitulah letak peluang besarnya.

 

Masalah koin tersebut di atas juga menjadi perhatian Startup Center Indonesia di Depok. Beberapa bulan lalu kami bahkan sudah beraudiensi dengan Fintech Office-nya BI, untuk suatu project startup yang kita sebut Littly Project – yang secara harfiah kurang lebih artinya adalah project untuk hal-hal yang kecil.

 

Fokusnya adalah bagaimana mengubah masalah di koin dan uang receh tersebut menjadi peluang besar. Yang kami visikan adalah tidak lama lagi jaringan retail tidak lagi perlu repot-repot menyetok koin baru dalam jumlah yang banyak, karena kembalian berapapun jumlahnya – bisa dengan mudah diberikan dalam jumlah yang akurat sampai ke setiap cent Rupiah bila perlu ke account Littly yang dimiliki retailer maupun masyarakat.

 

Karena kembalian dalam bentuk account, maka dia akan mengumpul berakumulasi di pemilik account ybs. Uang kembalian yang siap berputar kembali untuk beli apa saja ini, sangat bisa jadi cukup untuk membeli pulsa bulanan Anda. Bisa dengan mudah Anda sumbangkan ke lembaga-lembaga yang Anda yakini keamanahannya, dlsb.

 

Penggunaan account Littly ini juga bisa sangat luas nantinya, karena dengan account ini Anda tidak perlu mengekpos resiko besar credit card Anda ketika membeli barang-barang yang murah di internet seperti content,  movie, scientific research dlsb. Bahkan kami juga sedang bicara dengan beberapa lembaga keuangan yang nantinya akan mengelola investasi berbasis uang receh yang kita kumpulkan sambil lalu ini !

 

Dengan berkurangnya kebutuhanan koin dan uang receh ini, maka Bank Indonesia akan sangat terbantu – karena jumlah 'one way ticket' money ini akan cenderung terus menurun. Masyarakat sangat terbantu karena tidak ada uang mereka yang sia-sia sekecil apapun. Toko retail, produsen consumer goods bisa mem-price product-nya secara akurat dan adil tanpa perlu worry dengan kembalian dlsb.

 

Setelah kebutuhan koin dan uang receh dapat ditekan dengan system Littly ini, masih ada satu masalah lagi – yaitu apa yang terjadi dengan uang-uang receh yang sudah ada di laci-laci masyarakat ? bagaimana menariknya ke system  agar berputar kembali ? Harta itu berputar diantara oang kaya saja tidak boleh, apalagi kalau tidak berputar (QS 59:7) !

 

Masalahnya adalah ketika Anda berhasil mengumpulkan segenggam koin dari laci Anda, Anda mungkin enggan menyetornya ke bank karena belum juga cukup berharga untuk Anda mau pergi dan ngantri di bank untuk menyetor koin tersebut.  Padahal segenggam koin ini masih sangat banyak berarti bagi orang lain, lantas apa yang Anda akan lakukan ?

 

Maka bagian dari Littly project ini kami juga membuat gerakan socio-commerce, yaitu integrasi antara kegiatan social dan komersial sekaligus – sehingga koin-koin yang ada di masyarakat dapat segera ditarik balik ke system dan bermanfaat bagi banyak pihak sekaligus, melalui gerakan social.

 

Contoh aplikasinya begini, segera setelah kita luncurkan insyaallah sebelum Ramadhan ini – Anda akan bisa menyetorkan koin-koin yang berserakan di rumah Anda ke setiap orang tua dari santri santri Kuttab Al-Fatih di seluruh Indonesia.

 

Anda bisa wakafkan seluruh koin tersebut, ataupun sebagiannya, ataupun bahkan hanya menitip menyetornya ke account Littly Anda. Maka koin-koin ini sudah langsung bermanfaat untuk orang lain, maupun untuk diri Anda sendiri  dunia dan akhirat !

 

Sangat banyak hal-hal besar yang bisa kita bangun dengan perubahan kecil pada pengelolaan ‘titik-komanya’ ekonomi yaitu pengelolaan uang receh ini. Maka kami akan mengadakan sharing session untuk berbagi visi dan inspirasi yang terlahir dari Littly Project – yaitu project untuk hal-hal kecil ini.

 

Silahkan bagi Anda yang mau bergabung langsung saja datang ke Startup Center, Jl. Juanda 43 Depok. Pada hari Sabtu 6 Mei mulai jam 09.00-11.00. Bagi yang tidak bisa hadir, Anda tetap bisa terlibat dalam gerakan ini. Anda dapat mendownload apps-nya melalui Google Apps di link ini, atau langsung download dari web khusus yang kami buat untuk project ini yaitu www.litt.ly - Small Change, Big Impact – Change Certainly We can ! InsyaAllah