Santri Di Silicon Valley

Gerai Dinar

Sumber Daya Bebas Bea Untuk Pendidikan, Pelatihan dan Pendampingan Usaha dan Kewirausahaan.
Kamis, 22 Juni 2017

Harga Dinar per 6 jam

Harga Dinar

Harga Dinar
  • Harga Dinar Emas per Fri, 23 Jun 2017 00:30:00 +0700 Jual Rp. 2,143,978 Beli Rp. 2,058,219

  • Harga Dinar Emas per Thu, 22 Jun 2017 18:30:00 +0700 Jual Rp. 2,148,637 Beli Rp. 2,062,692

  • Harga Dinar Emas per Thu, 22 Jun 2017 12:30:00 +0700 Jual Rp. 2,153,263 Beli Rp. 2,067,132

  • Harga Dinar Emas per Thu, 22 Jun 2017 06:30:00 +0700 Jual Rp. 2,145,824 Beli Rp. 2,059,991

  • Harga Dinar Emas per Thu, 22 Jun 2017 00:30:00 +0700 Jual Rp. 2,136,494 Beli Rp. 2,051,034

Santri Di Silicon Valley

Seorang santri yang melek teknologi diundang untuk datang ke Silicon Valley, dan yang menggundangnya adalah dedengkot Silicon Valley yaitu mbah Google. Setelah sempat bimbang sesaat, akhirnya dengan pertimbangan bahwa ilmu dan hikmah itu milik para santri yang harus direbut dari mana saja datangnya – akhirnya berangkatlah si santri ini. Setelah melalui berbagai diskusi-diskusi panjang, brain storming session yang melelahkan baik formal maupun informal – karena dia santri, dia tidak melihat apa-apa di Google, dia hanya melihat Al-Qur’an ! Apa sebenarnya yang dia lihat ?

 

Berikut adalah dialog si santri dengan Kyainya ketika sang Kyai  yang mengutusnya ingin mendengarkan laporan dari kunjungannya.

 

Kyai memulai dengan pertanyaan ringan : “Le, bagaimana perjalananmu ?”, si santri-pun menjawab : “bagus sekali Kyai, mbah Google melayani saya dengan sangat baik. Sejak berangkat dalam pesawat sampai di kantor mereka – secara khusus mereka menyediakan makanan halal untuk saya. Di kantornya mereka juga sediakan tempat sholat, bahkan lebih baik kyai!

 

Pak Kyai kaget dengan kalimat ‘lebih baik’ ini, Kyai-pun mulai mendalami pernyataan santrinya yang paling cerdas ini : “Opo maksudmu lebih baik ?, opo masjide luweh apik ?”, Si santri buru-buru meluruskan : “Anu Kyai, di tempat sholatnya Google – saya boleh tidur-tiduran siang sebentar. Lha di masjidnya Kyai ada tulisan dimana-mana ‘dilarang tidur di masjid!

 

Pak Kyai manggut-manggut karena merasa disentil dengan Al-Qur’an oleh muridnya yang mbeling ini, karena tidur siang bukan hanya boleh tetapi juga bagian dari Sunnah Agama ini. Bahkan ukurannya-pun diisyaratkan secara rapi di Al-Qur’an. Kalau tidur malam disebut 7 kali ( QS 6:96 ; 10:67 ; 25:47 ;27:86; 28:72 ; 28:73; 40:61), tidur siang disebut satu kali (QS 7:4)– berarti panjang tidur siang kurang lebih 1/7 dari tidur malam !

 

Kyai melanjutkan pertanyaannya : “wis opo meneh oleh-olehmu ?”. Sang santri-pun menjelaskan dengan antusias : “Ada pertanyaan aneh yang ditanyakan orang Google ke saya Kyai, pertanyaan yang menggelitik – tetapi mungkin karena mereka ragu dengan agamanya !

 

Kyai menjadi tidak sabar, “takon opo le Google ?” , si santri tahu penasaran sang Kyai, dia langsung menjelaskan “ mBah Google tanya begini Kyai : “Seandainya sorga itu bener-bener ada, ingin disapa apa kamu oleh Tuhanmu ketika berhasil sampai ke sana?”. Kyai memotong “ Lha terus kowe jawab opo ?”.

 

Dengan santai sang santri menjawab : “ Gampang Kyai, kan jawabannya ada di surat yang Kyai perintahkan kami untuk sering-sering membacanya – surat Yaasiin”. Kemudian si santri membacakan Surat Yaasiin ayat 58 : “salaamun qoulam mirrobbirohiim – “salam” sebagai ucapan selamat dari Rabb Yang Maha Penyayang !” Kyai-pun manggut-manggut dengan jawaban cerdas muridnya ini, kemudian Kyai melanjutkan pertanyaannya.

 

Terus belajar opo meneh kowe ning kono ?” , dengan bersemangat Santri inipun menjelaskan : “Anu Kyai, mereka berkarya maksimal setelah mereka menemukan tujuan hidup mereka. Pegangan mereka adalah pernyataan Mark Twain yang menyatakan bahwa – dua hari yang paling berharga dalam hidupmu adalah ketika kamu lahir dan ketika kamu menemukan untuk apa kamu lahir”.

 

Sebelum disela Pak Kyai , si santri melanjutkan : “ Jadi mereka berlomba untuk menemukan alasan untuk apa mereka terlahir di dunia ini Kyai, setelah mereka menemukan alasan ini – itulah yang kemudian dia buru dengan sangat baik untuk bisa benar-benar mewujudkan tujuan hidupnya!”.

 

Sang Kyai-pun penasaran dengan pendapat santrinya ini : “ Lha terus kowe piye ? opo kowe ugo ketemu alasanmu lahir ning dunyo iki ?”. Sang santri dengan mantab menjawab : “Tentu tahu Kyai, kan Pak Kyai sering mengulang-ulang ayatNya tentang ini !”, kemudian dia membacakan penggalan surat Hud ayat 61 yang artinya : “…Sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain Dia, Dia telah menciptakan kamu dari tanah dan menjadikan kamu pemakmurnya”.

 

Sampai di sini Pak Kyai menemukan celah untuk memasukkan hikmah dari kunjungan santrinya ke mbah Google : “Nah disitu letak pelajarannya !, sing ngundang kowe meskipun tidak jelas tujuan hidupnya – begitu mereka temukan dan memburunya dengan sangat baik, mereka menjadi penguasa peradaban dunia saat ini.”

 

Kyai meneruskan : “Lha kowe, tujuan hidupmu sudah digariskan dengan sangat jelas – bahkan kamu diberi petunjuk dan nasihat yang sangat lengkap, dan kamu dijanjikan menjadi umat yang paling tinggi derajadmu – tetapi kamu tidak yakin, kamu santai-santai dalam mengejar tujuan hidupmu ini – maka peradaban itu milik mereka untuk saat ini, sampai kamu bener-bener bekerja lebih baik dari mereka ! Pak Kyai kemudian membacakan dua ayat di surat Ali-Imron 138-139 untuk menguatkan nasihatnya seperti biasa.

 

Terdengar Adzan di masjid Pak Kyai, Pak Kyai-pun menyudahi – “wis saiki cukup disik, sesuk meneh diterusno !”. Si santri menyahut : “InsyaAllah Kyai !”.