Divine Scent

Gerai Dinar

Sumber Daya Bebas Bea Untuk Pendidikan, Pelatihan dan Pendampingan Usaha dan Kewirausahaan.
Jumat, 22 September 2017

Harga Dinar per 6 jam

Harga Dinar

Harga Dinar
  • Harga Dinar Emas per Sat, 23 Sep 2017 00:30:00 +0700 Jual Rp. 2,176,172 Beli Rp. 2,089,125

  • Harga Dinar Emas per Fri, 22 Sep 2017 18:30:00 +0700 Jual Rp. 2,180,610 Beli Rp. 2,093,386

  • Harga Dinar Emas per Fri, 22 Sep 2017 12:30:00 +0700 Jual Rp. 2,188,594 Beli Rp. 2,101,050

  • Harga Dinar Emas per Fri, 22 Sep 2017 06:30:00 +0700 Jual Rp. 2,169,011 Beli Rp. 2,082,251

  • Harga Dinar Emas per Fri, 22 Sep 2017 00:30:00 +0700 Jual Rp. 2,174,594 Beli Rp. 2,087,610

Divine Scent

Ketika Nabi Ibrahim ‘Alaihi Salam berdo’a minta Mekkah dijadikan Allah negeri yang aman dan penduduknya diberi rezeki dari buah-buahan, Allah langsung mengabulkannya (QS 2:126). Kita paham hingga kini Mekkah selalu dipenuhi buah-buahan dari seluruh penjuru dunia. Yang jadi pertanyaan justru bagaimana Allah mengirimkan buah-buahan ke Mekkah saat itu ? saat Nabi Ibrahim dan Putranya Isma’il hidup, juga pada awal kelahiran kota Mekkah ? Jawabannya antara lain bisa dijelaskan melalui aroma !

 

Kini mudah bagi kita untuk bisa memahami bagaimana di Mekkah ada aneka buah-buahan segar dari seluruh dunia, karena buah segar bisa didatangkan dari manapun dengan menggunakan cold-chain atau rantai beku yang tidak terputus dari negeri asal sampai gudang di Jeddah bahkan juga gudang di Mekkah.

 

Tidak demikian dengan kondisi di jaman nabi Ibrahim dan awal keturunannya hidup di Mekkah, negeri terdekat yang subur adalah negeri Syam dan itu jaraknya sekitar 1,500 km. Perlu waktu berminggu-minggu perjalanan dengan moda transportasi yang ada saat itu – jalan kaki !

 

Sedangkan do’a Ibrahim meminta diberi buah-buahan – dan dikabulkannya bukan hanya untuk penduduk Mekkah sekarang, tetapi juga penduduk Mekkah awal sesudah dipanjatkannya do’a tersebut. Dengan apa buah-buah segar dikirim dari negeri Syam ?

 

Dibawa dalam kondisi segar kemungkinan terbesarnya busuk sesampai di Mekkah, cold-chain tentu saja belum ada , system pengawet buah belum dikenal. Lantas bagaimana penduduk Mekkah saat itu memperoleh buah segar ?

 

Ada riwayat menarik tentang dikabulkannya langsung do’a Nabi Ibrahim saat itu, yaitu Allah memindahkan sepotong negeri Syam yang subur ke tempat yang tidak jauh dari Mekkah.

 

Tepatnya sekitar 100 km di tenggara Mekkah yaitu suatu tempat yang kemudian kita mengenalnya sebagai Tha’if. Maka daerah ini juga disebut sebagai Qitha’a Minal Syam – potongan dari negeri Syam !

 

Riwayat ini bahkan bisa dibuktikan secara fisik hingga kini. Tanaman-tanaman yang ada di Tha’if adalah sama dengan tanaman-tanaman yang ada di negeri Syam pada umumnya, baik gandum, anggur dan segala buah-buahan lainnya rata-rata sama.

 

Karakter Tha’if berbeda dengan daerah-daerah sekitarnya yang rata-rata kering dan gersang, karakter Tha’if adalah subur dan sejuk – mirip sekali dengan Syam.

 

Yang menarik lagi adalah adanya satu tanaman yang umum sekali di Tha’if yang juga umum sekali di negeri Syam – yaitu adanya Mawar Tha’if. Mawar terbaik di dunia hingga kini dikenal dengan nama Rosa Damascena – Rosa dari Damascus.

 

Yang ada di negeri-negeri lain seperti Turky, Bulgaria dan juga Perancis Selatan semua berawal dari Rosa Damascena ini. Di Negara-negara lain banyak juga bunga mawar, tetapi tidak sebaik Rosa Damascena ini khususnya dalam menghasilkan minyak.

 

Anda bisa saja menanam bunga mawar yang beraneka ragam warnanya di sini, tetapi bila bukan dari jenis Rosa Damascena atau keturunannya – siap-siaplah kecewa ketika berusaha menyuling aromanya.

 

Yang menjadi penguat Tha’if adalah Qitha’a Minal Syam – potongan negeri Syam, ya antara lain keberadaan bunga Mawar Tha’if yang berkarakter mirip sekali dengan Rosa Damascena yang ada di negeri-negeri Syam tersebut.

 

Bila Anda umrah di musim semi – sekitar April khususnya – Anda akan dapat menikmati kebun-kebun bunga mawar yang indah-indah di Tha’if, bukan hanya indah di mata tetapi juga aroma keharumannya yang tiada duanya.

 

Masyarakat disana sudah sangat terbiasa menyuling bunga-bunga tersebut baik untuk diambil minyaknya sebagai bahan minyak wangi, maupun juga diambil air mawarnya untuk berbagai keperluan toiletries sampai juga pencampur minuman yang beraroma mawar.

 

Maka melalui aroma inilah antara lain kita bisa menguatkan pemahaman dan keyakinan kita akan kebenaran sirah. Aroma yang bisa kita cium sekarang dari Mawar Tha’if kurang lebih seperti itu pula aromanya di jaman nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga bahkan sebelumnya.

 

Sebagaimana ungkapan – bila begitu dekat Anda akan bisa mencium aromanya – maka begitulah penguasaan berbagai ilmu tentang aroma, yang insyaAllah mulai kami rangkum dalam rangkaian pendidikan dan latihan di Etherische Institute, Huurun Project dan berbagai produk turunannya.

 

InsyaAllah bisa menjadi wasilah atau jalan untuk mendekatkan kita kepada jalan yang dibawakan oleh junjungan kita Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang juga mengikuti agama Ibrahim ‘Alaihi Salam - yang dampak do’anya bisa kita rasakan dan bahkan bisa kita cium hingga sekarang !