Skeleton In The Closet

Gerai Dinar

Sumber Daya Bebas Bea Untuk Pendidikan, Pelatihan dan Pendampingan Usaha dan Kewirausahaan.
Ahad, 22 Januari 2017

Harga Dinar per 6 jam

Harga Dinar

Harga Dinar
  • Harga Dinar Emas per Mon, 23 Jan 2017 00:30:00 +0700 Jual Rp. 2,170,843 Beli Rp. 2,084,009

  • Harga Dinar Emas per Sun, 22 Jan 2017 18:30:00 +0700 Jual Rp. 2,170,843 Beli Rp. 2,084,009

  • Harga Dinar Emas per Sun, 22 Jan 2017 12:30:00 +0700 Jual Rp. 2,170,843 Beli Rp. 2,084,009

  • Harga Dinar Emas per Sun, 22 Jan 2017 06:30:00 +0700 Jual Rp. 2,170,843 Beli Rp. 2,084,009

  • Harga Dinar Emas per Sun, 22 Jan 2017 00:30:00 +0700 Jual Rp. 2,170,843 Beli Rp. 2,084,009

Skeleton In The Closet

Idiom ‘skeleton in the closet’ dalam bahasa Inggris artinya undisclosed fact about someone or something. Karena fakta-nya yang tersembunyi inilah maka seseorang atau sesuatu itu tidak nampak seperti yang semestinya, bila ini menyangkut suatu masalah – maka masalah itu menjadi sulit terpecahkan karena tidak semua faktanya dimunculkan. Masalah kemiskinan misalnya, dia adalah ‘skeleton in the closet’ bagi kota-kota besar di negeri berkembang utamanya – maka sulit sekali diatasi karena fakta yang tersembunyi tersebut. Lantas bagaimana mengatasinya ?

 

Kalau kita baca statistik BPS tentang kemiskinan misalnya, jumlah penduduk miskin di Indonesia masih berada di kisaran angka 11 % atau sekitar 28.5 juta orang. Tetapi kemiskinan di kota-kota besar jumlahnya jauh lebih kecil dari presentase tersebut, di Jakarta hanya 3.75 % dan di Surabaya hanya 4 %.

 

Apakah benar angka-angka kemiskinan di kota besar tersebut jauh dibawah rata-rata nasional ? saya kok yakin bukan ini angka yang sebenarnya. Penduduk-penduduk desa yang pindah ke kota – tidak lagi tercatat di daerah asalnya, tetapi ketika mereka tidak sukses di kota , mereka tinggal di tempat-tempat yang kumuh dan juga tidak semuanya tercatat sebagai warga kota.

 

Di lain pihak persepsi orang yang tinggal di kota-kota besar cenderung lebih makmur dan jauh dari kemiskinan – sebagaimana persepsi awam pada umumnya - yang kemudian dikuatkan oleh data BPS tersebut, justru menimbulkan masalah besar berikutnya yaitu arus urbanisasi.

 

Maka yang dibutuhkan adalah pengungkapan fakta yang seakurat mungkin, sekaligus edukasi yang berkelanjutan di masyarakat luas – bahwa tinggal di kota-kota besar bukanlah satu-satunya jalan untuk memperbaiki taraf hidup.

 

Budaya merantau yang pada umumnya adalah baik – tetapi ketika merantau itu diartikan pindah dari kampung ke kota-kota besar, maka ini menjadi tragedy of the common. Bisa jadi baik bila dilakukan sedikit orang , menjadi buruk bila dilakukan oleh terlalu banyak orang.

 

Urbanisasi ini telah menjadi masalah yang sangat serius bukan hanya di Indonesia, hampir di seluruh dunia masalahnya sama. Ketika saya yang terlahir di desa dan mulai berkarir di kota besar Jakarta tahun 1990, saat itu di dunia hanya ada 10 kota besar dunia yang penduduknya di atas 10 juta orang. Tahun lalu jumlah ini telah menjadi 28 kota !

 

Sekitar 2/3 penduduk dunia atau sekitar 6.5 milyar orang akan tinggal di kota pada tahun 2050, sedangkan di Indonesia ini akan terjadi 20 tahun lebih cepat yaitu di kisaran tahun 2030. Indonesia akan mengalami masalah perkotaan yang lebih dahulu ketimbang masalah yang dihadapi oleh rata-rata negara lain di dunia.

 

Penyebabnya adalah lebih dari separuh penduduk negeri ini yang berlomba-lomba untuk tinggal di pulau yang luasnya hanya sekitar 6 % dari wilayah negeri ini keseluruhan yaitu Jawa.

 

Sebelum Jawa tidak lagi mampu memberikan daya dukung kehidupan yang baik bagi para penghuninya, maka pemerintah harus merealisasikan janji-janjinya untuk membangun infrastuktur ekonomi yang baik di luar Jawa khususnya di Indonesia Bagian Timur.

 

Apa kabar Tol Laut misalnya yang menjadi salah satu agenda presiden terpilih ketika kampanye dahulu ? Andai saja item ini saja bisa sungguh-sungguh direalisir – berinvestasi ke Indonesia Bagian Timur akan menjadi menarik. Efek lanjutannya adalah tekanan urbanisasi ke kota-kota di Jawa akan berkurang.

 

Tetapi rakyat seperti kita juga tidak hanya bisa menuntut dan menunggu apa yang seharusnya dilakukan pemerintah, mereka punya tanggung jawab tentu saja – tetapi kita juga punya tugas sendiri-sendiri.

 

Kita bahkan diperintahkan langsung oleh Allah untuk bertebaran di segala penjuru bumi untuk menyongsong rezeki kita. Setidaknya saya temukan perintah ini di dua ayat berikut :

 

Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.” (QS 67:15)

 

Apabila telah ditunaikan sembahyang, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS 62:10)

 

Maka negeri ini butuh kejujuran untuk mengungkap skeleton in the closet-nya, bahwa bukan hanya kota-kota besar yang bisa mejanjikan kehidupan yang lebih baik dan sustainable dalam jangka panjang untuk penduduknya.

 

Negeri yang dihuni oleh mayoritas umat Islam ini juga butuh umat yang taat dalam menjalankan perintahNya. Diperintahkan untuk sholat, zakat sampai haji – insyaAllah kita sudah pada melaksanakannya, tetapi bagaimana dengan perintah untuk bertebaran ke seluruh penjuru bumi ini – sudahkah kita melaksanakannya ? Ada hikmah yang tersembunyi dari perintah-perintah seperti ini, dan barang siapa diberi hikmah itu – dia telah diberi kebaikan yang sangat banyak (QS 2:269). InsyaAllah.