Solusi Benang Merah…

Gerai Dinar

Sumber Daya Bebas Bea Untuk Pendidikan, Pelatihan dan Pendampingan Usaha dan Kewirausahaan.
Senin, 23 Oktober 2017

Harga Dinar per 6 jam

Harga Dinar

Harga Dinar
  • Harga Dinar Emas per Tue, 24 Oct 2017 06:30:00 +0700 Jual Rp. 2,174,183 Beli Rp. 2,087,216

  • Harga Dinar Emas per Tue, 24 Oct 2017 00:30:00 +0700 Jual Rp. 2,169,652 Beli Rp. 2,082,866

  • Harga Dinar Emas per Mon, 23 Oct 2017 18:30:00 +0700 Jual Rp. 2,163,080 Beli Rp. 2,076,557

  • Harga Dinar Emas per Mon, 23 Oct 2017 12:30:00 +0700 Jual Rp. 2,162,191 Beli Rp. 2,075,703

  • Harga Dinar Emas per Mon, 23 Oct 2017 06:30:00 +0700 Jual Rp. 2,162,632 Beli Rp. 2,076,127

Solusi Benang Merah…

Seorang yang konon genius serba bisa yang dikenal dengan nama Leonardo Da Vinci – pelukis, penulis, ahli matematika, botani, dlsb – pernah berbagi bagaimana dia menghasilkan karya-karyanya : “Berdiam diri memperhatikan pola di alam, debu bekas pembakaran, awan di langit, kerikil di pantai…bila dilihat secara cermat akan menghasilkan temuan yang luar biasa…”. Dia lahir ketika Islam masih menguasai Eropa dari Spanyol (1452), dia besar sampai meninggal di era puncak kejayaan Kekhalifahan Turki Usmani (1519). Apakah ada hubungannya ?

 

Belum tentu ada hubungannya, bisa saja hanya karena kebersamaan waktu. Tetapi yang jelas memperhatikan apa yang ada di alam dan memikirkannya – seperti yang dia ungkapkan tersebut – adalah bagian dari ajaran Agama ini. Bahkan Allah menyebut orang yang berakal (Ulil Albaab) adalah orang yang tidak berhenti mengingatNya sambil terus memikirkan penciptaan langit dan bumi ketika dia berdiri, duduk sampai berbaring (tidur) sekalipun.

 

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”” (QS 3 : 190-191)

 

Bagaimana awan bisa menjadi inspirasi sebuah karya ?, bagaimana kerikil atau pasir di laut menjadi awal sebuah karya ? ini semua tentu tidak berdiri sendiri – harus dikaitkan dengan sejumlah hal lain yang ada di alam ini atau masalah yang hendak kita pecahkan.

 

Dalam bahasa kita ketika kita merangkai sejumlah hal yang semula secara visual tidak saling terkait, menjadi sesuatu yang saling terkait satu sama lain – kita menyebutnya merangkai atau menarik  ‘Benang Merah’. Kemampuan menarik ‘Benang Merah’ inilah yang dimiliki oleh seorang Leonardo Da Vinci, dan seharusnya kita lebih baik bahkan dari Leonardo Da Vinci karena kitab kita – petunjuk jalan kita, mengarahkan kita untuk menjadi orang-orang yang berakal dengan tidak berhenti mengingatNya sambil terus memikirkan yang di langit dan di bumi.

 

Karena orang yang bisa menarik ‘Benang Merah’ (memikirkan) dari kejadian-kejadian yang di bumi ini (bahkan juga di langit !) adalah orang-orang yang berakal (cerdas) menurut definisi ayat tersebut di atas – maka dari sinilah masalah-masalah akan bisa teratasi, produk-produk baru nan kreatif bisa dihasilkan, kehidupan yang lebih baik di masyarakat-pun bisa ditumbuhkan.

 

Saya beri contoh masalah yang masih fresh di ingatan kita, yaitu masalah kelangkaan kedelai, kemahalan harga daging, bawang merah-bawang putih dan kemudian cabe. Mengapa masalah yang sangat mirip satu sama lain ini bergiliran muncul di tengah masyarakat ? Karena solusi yang diterapkan pada setiap masalah tersebut muncul adalah solusi kasuistis – solusi yang hanya mengatasi gejala tetapi bukan mengatasi penyebab. Ibarat obat, hanya menghilangkan rasa sakit sesaat tetapi tidak menyembuhkan penyakitnya sendiri.

 

Untuk bisa menyembuhkan penyakit yang sesungguhnya harus ditelusuri sampai beyond the symptoms – lebih dari sekedar melihat gejalanya, tetapi melihat masalah sampai ke akar-akarnya. Disitulah dibutuhkan kemampuan untuk menarik ‘Benang Merah’ dari rangkaian kejadian-kejadian atau masalah-masalah tersebut di atas.

 

Lantas apa ‘Benang Merah’ antara masalah kedelai – daging – bawang dan cabe ?, karena ‘Benang Merah’ ini adalah sesuatu yang imaginer – bukan sesuatu yang riil – maka masing-masing orang akan memiliki ‘Benang Merah’-nya sendiri sesuai dengan keilmuan, latar belakang lingkungan, pengalaman dlsb.

 

Karena variasi ‘Benang Merah’ ini, maka solusi dari setiap masalah juga lebih dari satu. Dari sekian banyak solusi tersebut tentu ada yang efektif dan ada yang kurang atau tidak efektif, tetapi solusi tersebut pasti ada ! Lho kok berani memastikan solusi tersebut pasti ada ?

 

Diperlukan ‘Benang Merah’ lain lagi untuk memahami bahwa solusi itu pasti ada, ‘Benang Merah’ yang ini adalah ‘Benang Merah’ petunjuk. Coba sekarang kita menarik ‘Benang Merah’ imaginer antara hadits ini : “Aku telah tinggalkan pada kamu dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya.” (HR. Malik, Al-Hakim, Al-Baihaqi) dengan ayat :

 

“…Maka jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku, lalu barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan ia tidak akan celaka. Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta. (Q.S Thaha: 123 - 124). Juga dengan ayat :

 

… Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya… Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (QS Ath Thalaaq: 2-4)

 

Jadi apa ‘Benang Merah’ yang bisa kita rangkai dari hadits dan ayat-ayat tersebut di atas ? Bila ditarik dari salah satu ujungnya – yaitu masalah yang kita hadapi seperti kedelai, daging, bawang dan cabe tersebut misalnya. Maka rangkain ‘Benang Merah’ solusi itu akan sebagai berikut :

 

Masalah ini pasti bisa dengan mudah diselesaikan oleh orang yang bertakwa – untuk mencapai derajat takwa tentu orang harus beriman dahulu – orang yang beriman meyakini kebenaran isi Al-Qur’an dan Hadits-hadits yang shahih – Meyakini Al-Qur’an adalah jawaban atas segala hal (QS 16 : 89) – Meyakini tanpa ragu (QS 49 : 15) – Menyelesaikan masalah dengan terus mengingat (petunjuk) Allah – menyelesaikan masalah dengan tidak berhenti memikirkan apa yang ada di langit dan yang ada di bumi – yang menjadi tugas kita untuk memakmurkannya (bumi) (Qs 11 :61).

 

Atau bila diringkas/diperpendek  ‘Benang Merah’ itu adalah kita menghadapi segala masalah seperti sekarang ini (kedelai, daging, bawang dan cabe misalnya) – karena kita tidak melaksanakan tugas yang diberikanNya untuk kita yaitu memakmurkan bumi. Maka bila tugas itu kita laksanakan dengan mengikuti segala petunjukNya – segala masalah itu insyaAllah akan teratasi.

 

Solusi masalah-masalah kita bukan ada di Australia, New Zealand, Laos, Myanmar atau negara-negara lain. Solusi itu ada di depan mata kita, ada di sekitar kita, hanya diperlukan kemampuan kita untuk menarik ‘Benang Merah’ antara berbagai hal yang selama ini mungkin masih kita abaikan. ‘Benang Merah’ yang sama insyaAllah juga bisa kita gunakan untuk mengatasi problem-problem pribadi kita dan menggali peluang usaha yang bisa dilahirkan dari jawaban atas masalah-masalah di sekitar kita. InsyaAllah.