Fitrah Harga Emas, Selalu Naik Pada Saat Ada Krisis…
Imam Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin lebih dari 900 tahun lalu telah menulis bahwa hanya emas dan perak-lah yang bisa jadi timbangan yang adil dalam bermuamalah. Nampaknya hal ini terbukti sekali lagi di pasar uang internasional dalam hari-hari ini.
Ketika krisis subprime mortgage di Amerika Serikat belum juga nampak ujung akhir penyelesaiannya; kemarin pasar uang internasional dikejutkan lagi dengan masalah baru; yaitu krisis di Credit Suisse yang harus me –write-down assetnya senilai US$ 2.85 milyar.
Yang menjadi masalah bukan hanya nilai investasi yang turun bagi pihak-pihak yang terkait saja dengan Credit Suisse yang terkena dampak write-down tersebut; melainkan seluruh pasar terganggu kepercayaannya terhadap pasar finansial global.
Betapa tidak, Credit Suisse yang bermarkas di Zurich – Swtitzerland ; selama ini selalu dipersepsikan pasar sebagai tempat investasi yang paling aman. Management Risiko-nya pun dipandang paling mumpuni di dunia perbankan Global. Tapi ternyata mereka keropos juga di dalam.
Pertanyaan berikutnya adalah apabila Credit Suisse yang menjadi rujukan perbankan global saja bisa keropos; apalagi dunia perbankan yang tidak ‘secanggih’ Credit Suisse dalam pengendalian Management Risiko-nya ?.
Pertanyaan-pertanyaan dan persepsi inilah yang sepanjang hari kemarin menghantui para pemain pasar.
Dan dampaknya mudah ditebak; ketika orang panik dan kehilangan pegangan – mereka akan mencari pegangan yang fitrah. Pegangan yang dipandang adil, yang nilainya tidak akan ikut hancur bersamaan dengan hancurnya investasi di Amerika, Swiss dan entah dimana lagi. Inilah investasi emas – investasi dan proteksi nilai dari jaman nenek moyang yang memang terbukti kehandalannya.
Dari kepanikan pasar ini harga emas menjulang tinggi kemarin, naik dari US$ 906.10 pada penutupan hari sebelumnya, menjadi US$ 929.00 pagi ini. Harga Dinar tentu saja mengikuti perkembangan ini; pagi ini Dinar di Gerai Dinar dihargai Rp 1,182,700. Naik lebih dari Rp 21 ribu dari harga sehari sebelumnya.
Karena dampak krisis tambahan dari Credit Suisse ini akan berakumulasi dengan berbagai krisis-krisis sebelumnya seperti Subprime Mortgage Default dan krisis energy di Afrika Selatan sebagai produser utama emas; ada baiknya kita mulai lebih serius mengembangkan Dinar ini sebagi alternatif investasi dan proteksi nilai. Dari berbagai response dari pembaca blog ini kebutuhan akan alternative investasi dan proteksi nilai ini nampak begitu nyata. Wallhu A’lam .
Ketika krisis subprime mortgage di Amerika Serikat belum juga nampak ujung akhir penyelesaiannya; kemarin pasar uang internasional dikejutkan lagi dengan masalah baru; yaitu krisis di Credit Suisse yang harus me –write-down assetnya senilai US$ 2.85 milyar.
Yang menjadi masalah bukan hanya nilai investasi yang turun bagi pihak-pihak yang terkait saja dengan Credit Suisse yang terkena dampak write-down tersebut; melainkan seluruh pasar terganggu kepercayaannya terhadap pasar finansial global.
Betapa tidak, Credit Suisse yang bermarkas di Zurich – Swtitzerland ; selama ini selalu dipersepsikan pasar sebagai tempat investasi yang paling aman. Management Risiko-nya pun dipandang paling mumpuni di dunia perbankan Global. Tapi ternyata mereka keropos juga di dalam.
Pertanyaan berikutnya adalah apabila Credit Suisse yang menjadi rujukan perbankan global saja bisa keropos; apalagi dunia perbankan yang tidak ‘secanggih’ Credit Suisse dalam pengendalian Management Risiko-nya ?.
Pertanyaan-pertanyaan dan persepsi inilah yang sepanjang hari kemarin menghantui para pemain pasar.
Dan dampaknya mudah ditebak; ketika orang panik dan kehilangan pegangan – mereka akan mencari pegangan yang fitrah. Pegangan yang dipandang adil, yang nilainya tidak akan ikut hancur bersamaan dengan hancurnya investasi di Amerika, Swiss dan entah dimana lagi. Inilah investasi emas – investasi dan proteksi nilai dari jaman nenek moyang yang memang terbukti kehandalannya.
Dari kepanikan pasar ini harga emas menjulang tinggi kemarin, naik dari US$ 906.10 pada penutupan hari sebelumnya, menjadi US$ 929.00 pagi ini. Harga Dinar tentu saja mengikuti perkembangan ini; pagi ini Dinar di Gerai Dinar dihargai Rp 1,182,700. Naik lebih dari Rp 21 ribu dari harga sehari sebelumnya.
Karena dampak krisis tambahan dari Credit Suisse ini akan berakumulasi dengan berbagai krisis-krisis sebelumnya seperti Subprime Mortgage Default dan krisis energy di Afrika Selatan sebagai produser utama emas; ada baiknya kita mulai lebih serius mengembangkan Dinar ini sebagi alternatif investasi dan proteksi nilai. Dari berbagai response dari pembaca blog ini kebutuhan akan alternative investasi dan proteksi nilai ini nampak begitu nyata. Wallhu A’lam .
Labels: Credit Suisse, Gold Price, Harga Dinar, Islamic Gold Dinar Price, Subprime Mortgage, write-down














