Apa Yang Terjadi Dengan Harga Emas Minggu Lalu...?
Dibenak kita tentu segudang pertanyaan yang terkait dengan turunnya harga emas ini.
Pertanyaan pertama yang paling lumrah adalah, apa yang sebenarnya menyebabkan hal ini ?
Seperti yang saya tulis tanggal 19/3/2008 minggu lalu, bahwa terapi the Fed lagi efektif kali ini . Bayangkan sejak September 2007, telah enam kali the Fed menghajar sampai hampir habis suku bunganya sehingga turun dari 5.25 % menjadi tinggal 2.25%.
Di benak mereka krisis ini di awali dari kegagalan di kredit perumahan, maka indikator penyembuhannya harus berhasil memulihkan sektor perumahan – caranya ? ya antara lain dengan menyediakan kredit bunga yang rendah tadi.
Banyak langkah lain yang juga dilakukan the Fed untuk memulihkan pasar; bahkan langkah ini kadang kontroversial seperti upayanya minggu lalu mendukung JP Morgan untuk mengambil alih Bear Stearns – investment bank raksasa yang terancam bankrut – dengan pinjaman US$ 30 milyar.
Langkah-langkah the Fed ini penting kita amati, karena di Amerika ada anggapan bahwa orang kedua paling kuasa disana setelah presiden adalah the Fed Chairman yang sekarang di jabat olen Ben Bernanke – merekalah yang berwenang ‘mencetak uang dari awang-awang’.
Pertanyaan berikutnya yang mungkin juga ada di benak Anda, adalah apakah penurunan ini aklan berlanjut terus atau balik naik ?.
Keduanya mungkin terjadi. Mirip dengan harga saham – untuk jangka pendek harga emas juga banyak dipengaruhi oleh persepsi ketimbang realitas, maka kalau sebagian pelaku pasar comfortable dengan perbaikan ekonomi di Amerika Serikat – maka harga saham akan naik – untuk sementara orang akan menjual emas dan memborong saham.
Kalau di persepsikan US$ membaik, orang akan kembali ke deposito dan produk-produk keuangan berbasis US$ - dan mengurangi portfolio emasnya. Semua ini berdampak pada turunnya harga emas.
Namun ada perbedaan yang mendasar di emas yang tidak dimiliki di kertas saham maupun uang kertas, yaitu nilai intrinsiknya sendiri yang tinggi – yang memiliki daya beli stabil terhadap segala kebutuhan manusia sepanjang zaman.
Emas atau Dinar adalah representasi yang dari kesejahteraan suatu bangsa. Sementara itu nilai uang kertas bersifat semu, naiknya angka tidak berarti mesti membawa kesejahteraan.
Ahad kemarin saya sempat membaca tulisan menarik dari kantor berita Amerika Associated Press yang menggambarkan ekonomi Amerika seperti kecemplung sumur yang tidak berdasar (abyss) – saking dalamnya. Team penulis yang memberi judul tulisannya dengan How Deep Is Economic Abyss?; mengungkap fakta-fakta kecil tetapi menarik seperti :
1. Sampai akhir 2007 lalu 36% pendapatan penduduk Amerika habis untuk makan, energy dan kesehatan. Persentase ini terbesar sejak data semacam ini dikumpulkan tahun 1960.
2. Orang semakin jarang makan di restaurant; di bulan Januari 2008 saja 54% restaurant mengalami penurunan omset
3. Orang semakin jarang membuang sampah – karena mengoptimalkan penggunaan/konsumsi dari barang yang dimilikinya !.
4. Total nilai hutang perumahan melebihi total nilai ekuitas seluruh pemilik rumah.
Dan masih banyak indikator lain yang mengindikasikan bahwa ekonomi belum menunjukkan tanda-tanda untuk pulih. Tidak mudah mengangkat ekonomi daru sumur yang sangat dalam.
Pertanyaan terakhir yang mungkin tidak kalah menariknya adalah – apakah sekarang waktu yang tepat untuk membeli Dinar ?
Jawabannya tergantung motif kita membeli Dinar. Apabila kita membeli Dinar lebih didorong faktor ekonomi, yaitu antara lain naik-turunnya harga – maka membeli Dinar sama rumitnya dengan membeli saham. Kadang kita membeli pada harga yang tinggi tetapi harga tetap naik – sehingga tetap untung; atau sebaliknya, kita membeli dengan harga yang rendah-pun; harga masih bisa terus turun – jadi tetap rugi.
Untuk yang mebeli dengan motif ini, ma’af saya tidak bisa memberi tips – bagaimana untuk pasti untung.
Motif lain yang selalu saya dorong umat untuk menggunakan Dinar adalah sebagai bentuk membangun ketahanan ekonomi (yukhsinun) ; agar harta umat tidak bisa dipermainkan oleh spekulan seperti tahun 1997/1998. Dan tentu yang sangat penting adalah mengembalikan umat pada sunnah Rasulullah SAW dan para sahabatnya yang diberi petunjuk – yaitu menggunakan uang yang adil sepanjang zaman untuk bermuamalah. Kita tidak bisa bermuamalah dengan adil apabila alatnya itu sendiri – yaitu uang kertas – tidak adil.
Untuk pembeli dengan motif yang kedua - tidak ada waktu yang salah untuk pindah dari uang kertas yang tidak adil ke 'uang' yang adil sepanjang zaman. Wallahu A’lam.
Labels: krisis, perumahan, the Fed, uang kertas

















