24 hours international gold price to understand gold Dinar price trend
Current Gold & Silver Price to Calculate Dinar and Dirham Price
Harga Dinar emas Sekarang - Current Gold Dinar Price ENGLISH VERSION

Dinar Islam adalah Emas 22 Karat seberat 4.25 gram.

Dirham Islam adalah Perak Murni seberat 2.975 gram.
Harga Dinar Sebulan Terakhir - Gold Dinar Price in the Last 30 days Trend harga Dinar 1 bulan terakhir.

Mengenal Dinar dan Dirham Islam

Peluang Investasi Dengan Dinar Anda
Harga Dinar Islam 2 Bulan Terakhir - The Last 60 days gold Dinar Price Qirad/Mudharabah Untuk Dinar Anda

Trend harga Dinar 2 bulan terakhir.

Dinar di Kota-Kota Besar Indonesia

Monday, March 10, 2008

Akan Kemana Harga Dinar ... ?

Ini untuk sekian kali saya menulis tentang arah harga Dinar; sekali lagi bukan bermaksud untuk mendahului kehendak Allah – melainkan ini sekedar upaya seorang hamba untuk memahami fenomena yang ada, kemudian menggunakan ilmu yang diakruniakanNya pula untuk berusaha memahami apa yang kiranya bisa terjadi kemudian.

Juga jangan dibayangkan ilmu yang macam-macam, ini adalah ilmu statistik yang sederhana saja. Khususnya statistik harga minyak dan harga emas. Seperti pada tulisan saya akhir tahun lalu (27/12/08) dimana saya berusaha mengungkapkan fakta statistik bahwa selama 60 tahun terakhir ternyata harga minyak relatif stabil seandainya dibeli dengan uang Dinar.

Kemudian dalam tulisan saya kemarin Agar Kita Tidak Ikut Bangkrut , sekali lagi saya gunakan statistik untuk meng-update tulisan sebelumnya bahwa harga emas/Dinar 8 tahun terakhir ini juga tetap relatif konsisten dengan kenaikan harga minyak.

Nah sekarang saya akan gunakan dua statistik tersebut untuk mencoba memahami akan kemana harga Dinar tahun ini; kali ini yang juga akan saya gunakan adalah prediksi harga minyak mentah yang dikeluarkan oleh dua analis yang kompeten di bidangnya.

Yang pertama adalah prediksi harga minyak yang dikeluarkan oleh Andurand dari BlueGold (Bloomberg 7 Maret, 2008) yang memprediksi harga minyak mentah akan mencapai US$ 130/barrel tahun ini.

Kedua adalah perkiraan harga minyak mentah yang dikeluarkan oleh Goldman Sachs (MarketWatch- New York, 9 Maret 2008) yang memprediksikan kemungkinan terburuk harga minyak bisa mencapai angka US$ 200/barrel dalam waktu yang tidak terlalu lama – apabila ada kejadian serius yang mempengaruhi supply minyak. Melihat peta geopolitik dunia saat ini, maka gangguan serius yang mempengaruhi supply seperti yang dimaksudkan oleh Goldman Sachs tersebut mungkin-mungkin saja terjadi.

Prediksi Harga Dinar - Dinar Price ForecastNah berdasarkan statistik hubungan antara harga minyak mentah dan harga emas yang sudah saya sajikan sebelumnya, ditambah dengan prediksi harga minyak mentah oleh BlueGold dan Goldman Sachs tersebut diatas; maka hitungan saya pribadi –ndak harus diikuti – kalau ada yang nanya ke saya perkiraan harga Dinar tahun ini akan menjadi berkisar antara Rp 1,705,000 (pada harga emas dunia US$ 1,280/troy oz dan harga minyak US$ 130/barrel – mengikuti perkiraan BlueGold) sampai Rp 2,623,000 (pada harga emas dunia US$ 1,970/troy oz dan harga minyak US$ 200/barrel – mengikuti perkiraan terburuk Goldman Sachs).

Karena begitu nyatanya hubungan antara harga emas dengan harga minyak – yang mewakili harga komoditi riil yang paling banyak dibutuhkan oleh peradaban manusia zaman ini, maka mulai saat ini GeraiDinar juga akan menampilkan harga minyak mentah dunia secara real time. Diharapkan informasi harga minyak mentah dunia ini dapat lebih membantu kita untuk memahami pergerakan harga emas dunia dan otomatis juga harga Dinar.

Dengan perkiraan terbaru ini, maka-perkiraan-perkiraan yang saya buat sebelumnya menjadi terbarui. Namanya juga perkiraan oleh seorang hamba yang ilmunya terbatas, maka bisa saja keliru. Hanya Allahlah yang Maha Tahu.

Labels: , ,

Sunday, March 9, 2008

Agar Kita Tidak Ikut Bangkrut....

Tanpa kita sadari sudah sepuluh tahun berlalu sejak kita mengalami krisis moneter yang sangat luas di Indonesia. Saat itu kekayaan rata-rata kita berkurang tinggal seperempat-nya karena daya beli uang Rupiah yang tiba-tiba anjlog – bahkan sempat tinggal kurang dari seperenamnya (Exchange rate pernah mencapai diatas Rp 15,000/1US$ - dari nilai sebelum krisis Rp 2400/US$).

Saat ini kita mungkin merasa ‘baikan’ karena Rupiah kelihatan perkasa di angka sekitar Rp 9,000/1 US$. Tetapi apakah kita benar-benar perkasa ?. Mungkin iya kalau ukuran kita adalah US$; masalahnya US$ sendiri daya belinya sekarang turun tinggal hanya 43% dibandingkan dengan daya beli US$ tahun 1998.

Kalau timbangannya kita ganti dengan timbangan yang adil berupa Emas atau Dinar, daya beli kita sekarang sebenarnya hanya 24% dari daya beli riil kita tahun 1998. Begitu burukkah ? Betul, itulah realita yang kita hadapi karena tahun 1998 harga Dinar adalah Rp 294,000 dan sekarang adalah Rp 1,224,000.

Adilkah membandingkan daya beli Rupiah dengan harga Emas atau Dinar ?. Justru inilah timbangan yang adil itu – yang diungkapkan oleh Imam Ghazali dalam Ihya' Ulumuddin-nya.

Apabila zaman Rasulullah SAW, harga satu kambing adalah 1 Dinar dan sekarang dengan Dinar yang sama kita dapat memilih kambing terbesar di Jakarta – bukankah ini bukti yang sangat nyata bahwa Dinar-lah timbangan yang adil itu. Dinar-lah yang bisa kita pakai untuk mengukur apakah umat ini tambah makmur atau sebaliknya menuju ke kebangkrutan.

Karena kestabilan daya beli ini pulalah sehingga Dinar dalam Islam digunakan sebagai salah satu ukuran nishab zakat – untuk membedakan siapa yang wajib zakat dan siapa yang berhak menerimanya. Lihat tulisan saya tanggal 27 Januari 2008.

Ini bukan hanya otokritik terhadap kita yang hidup di Indonesia. Gejala kebangkrutan bukan monopoli penduduk negeri seperti kita; di negara yang mengaku adi perkasa-pun demikian. Berdasarkan data Federal Reserve Bank of Philadelphia , tahun 2006 lalu hanya 40% pemegang kartu kredit dari penduduk Amerika Serikat yang mampu membayar hutangnya dengan lunas setiap ada tagihan – sisanya yang 60% hanya mampu membayar cicilannya. Di Amerika pula tidak kurang dari 15 orang/1000 penduduk mengajukan kebangkrutan setiap tahunnya.

Tanpa sadar mereka menuju kebangkrutan meskipun ditangannya masih dipegang jumlah uang Dollar yang sama atau bahkan lebih besar angkanya. Sederhana saja, uang yang mereka pegang tidak lagi mencukupi untuk membeli kebutuhan pokoknya.

Minyak Mentah, Emas dan Dinar - Crude Oil, Gold and DinarKarena saya sering dikritik kawan-kawan ekonom kalau mengukur daya beli dengan harga kambing. Maka sekali lagi disisni saya sajikan posisi perkembangan terakhir Harga Emas, Harga Minyak dan Harga Dinar seperti grafik disamping.

Apa makna grafik tersebut ?

Kebutuhan pokok manusia modern yang paling unversial adalah kebutuhan akan energi, dan untuk zaman ini terwakili oleh Minyak. Agar kebutuhan pokok kita (yang diwakili oleh minyak) tersebut dari hari ke hari tidak menjadi semakin mahal, maka uang kita harus dari jenis yang bisa terus menerus mengimbangi harga minyak. Grafik tersebut menunjukkan Emas atau Dinar yang mampu mengimbangi kenaikan harga minyak. Ini menguatkan dan meng-update tulisan saya sebelumnya yang saya tulis tanggal 27 Desember 2007 lalu : Bahwa ketika harga minyak mencapai lebih dari US$ 100/ barrel seperti sekarang sekalipun, tidak akan terasa berat kalau uang kita adalah Dinar.

Setelah kita tahu bahwa ternyata kita tidak sedang menuju ke kemakmuran – bahkan gaya hidup barat yang kita coba tiru juga tidak membawa ke kemakmuran, maka inilah saatnya kita berubah dan mulai merencanakan masa depan kita atau anak-anak kita agar masa depan milik kita. Salah satunya adalah belajarlah berdagang dan ajari anak-anak untuk bisa berdagang. Wallhu A’lam.

Labels: ,