Mengapa Harga Dinar Terus Naik...
Tertarik untuk menjelaskan lebih jauh response saya terhadap komentar pembaca pada tulisan saya yang kemarin, maka tulisan saya pagi ini adalah tentang harga Dinar atau Emas dalam US Dollar.
Sebenarnya tidak terlalu tepat kalau dikatakan bahwa harga Dinar atau harga Emas terus naik, karena buktinya dalam ribuan tahun sebenarnya harga Dinar tetap – yaitu kurang lebih seharga seekor kambing.
Namun karena Dinar ini untuk sementara waktu (bisa beberapa puluh tahun) harus dibeli dengan uang kertas – yang nilainya terus menerus turun, maka seolah-olah harga Emas atau Dinar-nya yang terus naik.
Karena mata uang yang paling luas digunakan dalam perdagangan Dunia masih US Dollar , maka penurunan nilai US$ tentu saja akan membuat nilai Dinar akan kelihatan naik.
Alat ukur yang dipakai para ekonom untuk mengukur nilai US$ yang paling banyak digunakan sejak tahun 1973 adalah US Dollar Index. Index ini menggambarkan nilai relatif US Dollar terhadap sekeranjang mata uang besar dunia yang saat ini terdiri dari Euro (EUR), Japanese yen (JPY), Pound sterling (GBP), Canadian dollar (CAD), Swedish krona (SEK) and Swiss franc (CHF).
Kenaikan Dinar dua hari ini misalnya, penyebab utamanya ya anjlog-nya nilai US$ tersebut. Coba lihat grafik US$ Index disamping yang menggambarkan nilai relatif US$ dalam beberapa hari terakhir. Dengan ini kita akan lebih mudah memahami mengapa harga Emas dan Dinar melonjak.
Lebih jauh coba lihat juga US$ Index untuk setahun terkahir, kita akan tahu bahwa ‘kenaikan’ harga Emas dan Dinar ini nampaknya akan sulit untuk diredam – bahkan dengan issue pelepasan emas IMF sekalipun.
Satu-satunya yang bisa membalikkan arah harga Dinar adalah kalau US$ tiba-tiba perkasa kembali; untuk beberapa saat dengan berbagai manufer pemerintah AS mungkin ini bisa – tetapi kecil kemungkinannya untuk bisa dilakukan terus menerus secara konsisten di dalam jangka panjang.
Indikasinya yang terjadi kemungkinan malah sebaliknya, US$ Index akan terus turun yang berarti juga harga Emas dan Dinar terus naik. Indikasi ini diisyaratkan sendiri oleh Federal Reserve Chairman Ben Bernanke dalam dengar pendapat dengan kongres Amerika tadi malam. Dalam waktu dekat besar kemungkinan Federal Reserve akan memotong suku bunga lagi, yang berarti US$ akan semakin tidak menarik bagi pasar. Dari sorot Ben Bernanke terlampir seolah menggambarkan betapa hopeless-nya dia (baca: Amerika). Wallhu A’lam.
Sebenarnya tidak terlalu tepat kalau dikatakan bahwa harga Dinar atau harga Emas terus naik, karena buktinya dalam ribuan tahun sebenarnya harga Dinar tetap – yaitu kurang lebih seharga seekor kambing.
Namun karena Dinar ini untuk sementara waktu (bisa beberapa puluh tahun) harus dibeli dengan uang kertas – yang nilainya terus menerus turun, maka seolah-olah harga Emas atau Dinar-nya yang terus naik.
Karena mata uang yang paling luas digunakan dalam perdagangan Dunia masih US Dollar , maka penurunan nilai US$ tentu saja akan membuat nilai Dinar akan kelihatan naik.
Alat ukur yang dipakai para ekonom untuk mengukur nilai US$ yang paling banyak digunakan sejak tahun 1973 adalah US Dollar Index. Index ini menggambarkan nilai relatif US Dollar terhadap sekeranjang mata uang besar dunia yang saat ini terdiri dari Euro (EUR), Japanese yen (JPY), Pound sterling (GBP), Canadian dollar (CAD), Swedish krona (SEK) and Swiss franc (CHF).
Kenaikan Dinar dua hari ini misalnya, penyebab utamanya ya anjlog-nya nilai US$ tersebut. Coba lihat grafik US$ Index disamping yang menggambarkan nilai relatif US$ dalam beberapa hari terakhir. Dengan ini kita akan lebih mudah memahami mengapa harga Emas dan Dinar melonjak.
Lebih jauh coba lihat juga US$ Index untuk setahun terkahir, kita akan tahu bahwa ‘kenaikan’ harga Emas dan Dinar ini nampaknya akan sulit untuk diredam – bahkan dengan issue pelepasan emas IMF sekalipun.Satu-satunya yang bisa membalikkan arah harga Dinar adalah kalau US$ tiba-tiba perkasa kembali; untuk beberapa saat dengan berbagai manufer pemerintah AS mungkin ini bisa – tetapi kecil kemungkinannya untuk bisa dilakukan terus menerus secara konsisten di dalam jangka panjang.
Indikasinya yang terjadi kemungkinan malah sebaliknya, US$ Index akan terus turun yang berarti juga harga Emas dan Dinar terus naik. Indikasi ini diisyaratkan sendiri oleh Federal Reserve Chairman Ben Bernanke dalam dengar pendapat dengan kongres Amerika tadi malam. Dalam waktu dekat besar kemungkinan Federal Reserve akan memotong suku bunga lagi, yang berarti US$ akan semakin tidak menarik bagi pasar. Dari sorot Ben Bernanke terlampir seolah menggambarkan betapa hopeless-nya dia (baca: Amerika). Wallhu A’lam.














