Gerai Dinar

Sumber Daya Bebas Bea Untuk Pendidikan, Pelatihan dan Pendampingan Usaha dan Kewirausahaan.
Kamis, 24 Juli 2014

Harga Dinar per 6 jam

Harga Dinar

Harga Dinar
  • Harga Dinar Emas per Thu, 24 Jul 2014 18:30:00 +0700 adalah : Jual Rp. 1,902,444 Beli Rp. 1,826,346

  • Harga Dinar Emas per Thu, 24 Jul 2014 12:30:00 +0700 adalah : Jual Rp. 1,893,544 Beli Rp. 1,817,802

  • Harga Dinar Emas per Thu, 24 Jul 2014 06:30:00 +0700 adalah : Jual Rp. 1,901,066 Beli Rp. 1,825,023

  • Harga Dinar Emas per Thu, 24 Jul 2014 00:30:00 +0700 adalah : Jual Rp. 1,897,237 Beli Rp. 1,821,348

Mencegah Musibah, Mengharap Berkah…

 

Ketika hujan turun di masa kanak-kanak, orang tua kami mengijinkan anaknya untuk main ‘hujan-hujanan’ sampai puas, bahkan ketika banjir tiba menjadi kesempatan untuk bermain perahu getek dari gedebog. Ketika mulai sekolah, setiap hujan deras menjadi kesenangan tersendiri – karena pak Guru dan Bu Guru mentolerir keterlambatan atau bahkan sekolah diliburkan.

 

Ketika di awal karir bekerja naik bis di Jakarta yang panas, hujan menjadi penyejuk di bis-bis yang tidak ber- AC dan pimpinan di kantor juga mentolerir datang terlambat. Ketika menjadi pimpinan di kantor, hujan menjadi pengurang pressure hari itu karena ada kegiatan ekonomi yang slowing down – yang kadang memang diperlukan agar orang tidak stress dengan kerja marathon-nya.

 

Mungkin Anda bertanya, bagaimana dengan orang-orang yang setiap musim hujan terkena banjir ?, apakah mereka bisa juga menikmatinya ketika hujan turun ?. Di sinilah tantangannya !.

 

Bahwasanya hujan itu berkah dan sumber rezeki, Allah sendiri yang menjanjikanNya : “Dan Kami turunkan dari langit air yang penuh berkah lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam, dan pohon kurma yang tinggi-tinggi yang mempunyai mayang yang bersusun-susun, untuk menjadi rezeki bagi hamba-hamba (Kami), dan Kami hidupkan dengan air itu tanah yang mati (kering). Seperti itulah terjadinya kebangkitan.” (QS 50 : 9-11)

 

Bila realita yang kita hadapi ternyata hujan menjadi musibah, sangat bisa jadi itu karena kelalian kita sendiri semua. Para pengusaha yang memotong pohon dan menghabiskan lahan-lahan resapan air, membangun bangunan-bangunan yang tidak memperhatikan dampaknya pada lingkungan, para penguasa yang memberinya ijin dan tidak memikirkan akibat dari kebijakan yang dikeluarkannya, dan juga masyarakat yang membuang sampah seenaknya ke sungai-sungai dan saluran air dlsb.dlsb.

 

Ironinya adalah ketika musim kemarau tiba, rakyat kecil di perkotaan menjerit dengan mahalnya air – tetapi ketika air itu datang melimpah, dia hanya dibiarkannya berlalu menjadi musibah. Lantas apa yang bisa kita lakukan sekarang ?.

 

Atas dasar keyakinan bahwa hujan itu berkah dan sumber rezeki, kami di Pesantren Al-Qur’an dan Wirausaha Daarul Muttaqiin – Jonggol, kini berusaha secara harfiah ‘menangkap’ berkah dan rezeki yang datang bersama hujan tersebut. Upaya ini kami wujudkan dalam sebuah project yang kami beri nama Waduk Tadah Berkah (WTB), yang sebenarnya berupa waduk mini yang berfungsi sebagai tadah hujan.

 

Semasa musim hujan, air yang turun di lingkungan komplek pesantren (sekitar 11 ha) di alirkan melalui parit-parit kecil agar mengumpul di WTB. Dengan cara ini aliran air menjadi terarah menuju suatu lokasi yang memang sudah dipersiapkan. Air yang mengumpul ini diharapkan akan bertahan di musim kemarau sekalipun, sehingga bisa digunakan untuk menyuburkan lahan sekelilingnya disamping untuk memenuhi kebutuhan air bersih (setelah di proses) untuk keperluan air wudhu, air minum dlsb. WTB juga bisa menjadi sumber protein hewani dari ikan yang akan ditaburkan benih didalamnya.

 

Bagaimana mempertahankan air agar tidak habis ?. Ada dua cara untuk ini, pertama pendekatan natural – yaitu kita biarkan dasar WTB tanah aslinya, bila tanahnya tetap mampu menahan air tidak habis sepanjang musim kemarau sekalipun – maka ini yang ideal karena ecosystem air tawar bisa berkembang secara sempurna.

 

Namun bila ternyata nanti melewati kemarau panjang air habis terserap ketanah, kami akan gunakan geomembran sehingga di musim kering berikutnya air diharapkan tidak habis.

 

Pilot Project : Waduk Tadah Berkah (WTB) 

 

Mahalkah project semacam ini ?, insyaallah tidak. Bila contoh pengelolaan air hujan dengan WTB ini berjalan efektif, maka sesungguhnya setiap kelurahan atau desa dapat membuatnya satu  WTB di daerah masing-masing. Melalui cara ini sekali merangkuh dayung, dua tiga pulau akan terlewati. Banjir dicegah karena di setiap lingkungan yang kecil air hujan dikelola dan diarahkan ketempat-tempat yang sudah dipersiapkan; kemudian air yang di tampung tersebut akan menjadi sumber air baku untuk berbagai keperluan di daerah tersebut selama musim kemarau.  Bayangkan kalau ini terjadi secara masal di seluruh Indonesia, lahan-lahan gersang akan menjadi subur karena tersedia air sepanjang tahun - dan cadangan air jangka panjang untuk anak cucu-pun akan terbangun kembali melalui air-air yang ditampung maupun diresapkan melalui WTB-WTB tersebut.

 

Mengapa waduk atau bendungan besar tidak menjadi solusi yang efektif ?. Ini karena sifat air hujan yang menyebar secara luas. Bila waduk terlalu besar, diperlukan berbagai infrastruktur yang berat untuk menampung air hujan di areal yang sangat luas dan diarahkan ke waduk besar tersebut. Jadi solusi WTB-WTB kecil insyaallah akan lebih efektif dan murah ketimbang membuat satu dua waduk skala besar.

 

Bila kita bisa mengelola air hujan ini dengan baik, tidak menimbulkan musibah tetabi malah menjadi berkah dan sumber rezeki, maka tidak akan susah untuk mengubah persepsi tentang hujan ini. Yang punya pengalaman buruk karena kebanjiran di musim hujan bisa terobati luka di memorinya, bagi yang punya pengalaman baik dengan hujan dapat terus membangun memori yang indah tentang hujan, tentang berkah dan rezeki yang memang perlu terus disyukuri ini. InsyaAllah.