Kelapa Dua Raya 189 Depok, Jawa Barat 16951 Indonesia
+(62) 856-93-010101 admin@geraidinar.com
Mon - Fri 8.30 - 16.00 National Holiday Closed

HARGA

GRAFIK DINAR

GRAFIK DINAR

INFO GERAI

HARI INI ADA CLIENT KAMI YANG INGIN MENJUAL DINAR LESS 1% SEBANYAK 88 DINAR, BAGI YANG BERMINAT SEGERA HUBUNGI KAMI, AKAN KAMI BERIKAN UNTUK PEMINAT PERTAMA.

JADWAL PELAYANAN Jam & Hari Kerja : 08.00 - 16.30 (BBWI) ; Senin - Jum'at (kecuali hari libur nasional). Untuk keterangan lebih lanjut, silahkan hubungi di nomer 085693010101 dan 02128567499

ARTIKEL TERBARU
Tuesday, September 21, 2021
Dalam standar penamaan bahan kosmetik, INCI (International Nomenclature of Cosmetic Ingredients) - Virgin Tamanu Oil...
Tuesday, September 21, 2021
Setelah kami perkenalkan dalam unggahan sebelumnya Trio Nuoils yaitu Virgin Tamanu Oil (VTO), Crude Tamanu Oil (CTO)...
Sunday, September 19, 2021
Distributed Ledgers Technology (DLT) - yang intinya binary data yang tersimpan dalam sejumlah besar penyimpan , yang...
Sunday, September 19, 2021
Nama genus tanaman ini adalah Abelmoschus, bahasa latin yang diturunkan dari bahasa Arab Abu Misk yang artinya...
Friday, September 17, 2021
Anda para jawara pemasaran yang sudah malang melintang memasarkan produk-produk orang lain, pastinya sudah sering...
Thursday, September 16, 2021
Drop-in biofuels adalah bahan bakar hydrocarbon - persis bahan bakar fosil yang kita pakai sekarang, hanya kita...
VIDEO TERBARU
DESKRIPSI
Memasak dengan bahan bakar biji Nyamplung....
VIDEO TERBARU

INTRO GREEN WAQF

VIDEO

EDUKASI WAKAF

VIDEO

LAUNCHING GREEN WAQF

VIDEO

PENDAFTARAN WAKAF TRAINING

VIDEO

Dahulu semasa kecil di kampung,  makanan yang paling lezat bagi saya adalah apa yang disebut ingkung  - yaitu ayam yang dimasak khusus dan dimakan dengan nasi gurih – agak mirip nasi uduk betawi tetapi versi jawa timuran. Ayam ini tidak digoreng dan tidak pakai bumbu penyedap masakan apapun kecuali yang alami – jadi selain lezat pastinya juga sehat. Tetapi kini ingkung tersebut seolah lenyap dari kasanah masakan modern negeri ini, saya hanya bisa merasakan ingkung kembali – kalau pulang kampung dan dimasakin oleh sedikit dari orang-orang sepuh yang masih ada disana.

 

Sebaliknya masakan dari ayam yang seolah mewabah di mall –mall, food court sampai kaki lima adalah ayam goreng yang dahulu tidak saya kenal semasa kecil, ayam goreng-pun kini di balut oleh tepung yang kadang begitu besar (kelihatannya) – menyembunyikan ayamnya sendiri yang kecil. Dari sisi rasa juga demikian, rasa tepung goreng dan bumbu-bumbu yang dipakai begitu dominannya – sehingga menyembunyikan kelezatan daging ayamnya sendiri.  Bahkan rasa daging ayamnya menjadi seperti hambar bila tidak dimakan bersama tepung pembungkusnya.

 

Inilah dampak dari industrialisasi makanan berbasis ayam yang dipengaruhi oleh budaya asing yang begitu kuatnya merasuk ke negeri ini sampai ke menu makanan kita. Dengan kapital yang begitu perkasa, masakan-masakan yang tadinya asing dapat masuk menguasai pangsa yang sangat besar dari 235 juta penduduk negeri ini. Hal ini juga dipermudah dengan media – yang tentu saja memberi kesempatan seluasnya bagi yang kuat bayar untuk memasang iklan.

 

Lantas dimana masakan seperti ingkung tersebut kini berada ?, ya ndak ada lagi... lha wong sedikit yang bisa masak tidak mampu menjadikannya sebuah bisnis yang berkelanjutan apalagi menjadikannya sebuah industri. Lagipula  anak-anak muda sekarang-pun sudah tidak ada yang mengenal lagi apa itu ingkung. 

 

Yang saya kawatirkan adalah bukan hanya ingkung yang musnah dalam proses alih generasi ini, tetapi juga berbagai masakan negeri ini yang kaya cita rasa sperti gule, gudeg, aneka soto, rawon, tongseng, sate dan lain sebagainya bisa punah dalam satu dua generasi gedepan. Mengapa demikian ?, sederhana alasannya lha wong aneka masakan nusantara yang penuh cita rasa tersebut tidak terbangun industrinya, tidak didukung capital market yang besar dalam pengembangannya, dan nyaris tanpa dukungan industri periklanan untuk mempromosikannya.

 

Sebaliknya makanan-makanan yang dahulu asing seperti French fries, fried chicken, hod dog, burger, steak dlsb. dlsb. terbangun industrinya dengan dukungan capital market yang besar dan anggaran iklan yang juga luar biasa besar. Bila anak saya saja kini tidak mengenal ingkung, saya tidak akan kaget bila cucu saya nanti tidak mengenal gudeg, soto dlsb.

 

Tetapi sesungguhnya peluang sebaliknya bisa juga terjadi, bila kita menyadarinya kini – bahwa selama beberapa dasawarsa terakhir telah terjadi proses industrialisasi makanan asing yang seperti ‘menjajah’ keaneka ragaman cita rasa masakan asli negeri ini. Kemudian kita dengan semangat yang sungguh-sungguh menggali kembali kekayaan khasanah masakan negeri ini yang luar biasa banyaknya, mengembangkan business modelnya, menyusun dukungan kapitalnya, promosinya dlsb. untuk kemudian bangkit sebagai kekuatan baru dalam industri makanan modern kedepan.

 

Untuk contoh rasa, sayang saya tidak bisa menemukan orang yang bisa masak ingkung di Jakarta – jadi kalau saya beri contoh ingkung – pembaca akan sulit membayangkannya. Tetapi ada masakan dari ayam yang rasanya mirip ingkung karena sama-sama rasa ayam banget, dia juga tidak dimasak dengan tepung apapun, tidak dimasak dengan penyedap masakan – murni bumbu-bumbu nabati – dan rasanya tidak kalah dengan aneka ayam goreng yang dimasak dengan penyedap masakan. Masakan dari ayam ini biasa ada di rumah-makan-rumah makan padang yaitu yang disebut Ayam Pop.

 

Dari sekian banyak masakan dari ayam di jaman ini, menurut saya Ayam Pop inilah yang rasanya bener-bener ayam. Maka bila kita tangani dengan baik, kita bangun proses industrialisasi, proses memasaknya dengan standar keamanan pangan tertinggi – bisa jadi Ayam Pop ini akan benar-benar menjadi masakan dari Ayam yang akan nge-Pop kedepan baik di nusantara ini maupun di manca negara.

 

Peluang untuk ini ada, karena sekarang lagi trend-nya dunia untuk kembali ke yang orisinil – kembali ke alam, kembali ke yang lebih menyehatkan. Apalagi bila ayam pop ini dimasak dari ayam kampung atau ayam organik – maka value proposition -nya sebagai masakan dari ayam yang lezat – yang bener-bener 100% rasa ayam – bukan rasa tepung, dan lagi sehat – maka insyaAllah masakan seperti Ayam Pop ini tidak akan punah seperti punahnya ingkung sekarang – bahkan sebaliknya, siapa tahu kelak ganti anak cucu kita yang menguasai industri masakan dunia karena orisinalitas dan kesehatannya. InsyaAllah...

 

Ayam Pop